
Inovasi brilian datang dari dunia akademis, di mana mahasiswa Universitas Galuh (Unigal) Ciamis secara resmi memperkenalkan kompor minyak jelantah pada hari Sabtu, 9 Agustus 2025.
Terobosan ramah lingkungan ini ditujukan sebagai solusi nyata bagi pelaku industri rumahan di Desa Handapherang, Kecamatan Cijeungjing, Ciamis, yang tengah berjuang menghadapi mahalnya biaya produksi.
Melalui program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM), teknologi terapan ini hadir untuk membuktikan bahwa limbah bisa diubah menjadi energi bernilai ekonomis.
Kehadiran kompor alternatif ini langsung memicu antusiasme banyak pihak. Acara peluncurannya yang berlangsung di Aula Yayasan Miftahussalam turut dihadiri oleh Kepala Desa Handapherang, pengurus MIS Handapherang,
Ketua Yayasan Miftahussalam, serta puluhan pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM).
Fakta ini menunjukkan betapa besarnya harapan warga terhadap inovasi teknologi tepat guna yang mampu memberikan dampak ekonomi langsung.
Ringkasan Berita
Mengapa Kompor Minyak Jelantah Sangat Dibutuhkan Saat Ini?
Masalah klasik yang kerap mencekik leher industri skala rumah tangga adalah tingginya biaya bahan bakar.
Banyak pelaku usaha yang masih sangat bergantung pada gas elpiji konvensional atau kayu bakar yang harganya terus merangkak naik dan tidak stabil.
Di sisi lain, proses menggoreng produk camilan harian sering kali menyisakan tumpukan limbah minyak bekas yang terbuang sia-sia.
Merespons persoalan tersebut, Ketua Tim PKM Unigal, Dr. Ai Tusi Fatimah, M.Si., menjelaskan bahwa penciptaan kompor minyak jelantah murni didasarkan pada riset kebutuhan masyarakat di lapangan.
“Banyak pelaku usaha kecil yang terbebani oleh tingginya ongkos bahan bakar. Padahal, dari dapur mereka sendiri dihasilkan limbah minyak jelantah yang sebenarnya bisa didaur ulang menjadi sumber energi alternatif,” terangnya.
Di tengah tren ekonomi yang menuntut praktik keberlanjutan (sustainability), langkah ini dinilai sangat relevan.
Tidak hanya menyelamatkan kantong pengusaha mikro, inovasi ini juga selaras dengan isu ekonomi hijau global.
Menyasar Industri Camilan Lokal Desa Handapherang
Penerapan teknologi ini dilakukan dengan target yang terukur. Program PKM bertema “Waste Treatment Berbasis STEAM-H untuk Pengembangan Potensi Ekonomi dan Lingkungan Berkelanjutan” ini bermitra secara eksklusif dengan dua usaha lokal.
Kedua mitra tersebut adalah pabrik Rengginang Ibu Haji UAS dan produksi Sale Pisang Si Paling Manis Mukti Jaya yang berpusat di Dusun Kersikan.
Kedua industri ini dikenal luas memiliki basis pelanggan yang besar, namun margin keuntungannya sering kali tergerus oleh beban operasional.
Oleh karena itu, adopsi kompor berbahan bakar limbah ini diproyeksikan mampu menyelamatkan pendapatan mereka tanpa mengorbankan kualitas produk akhir.
Proses Panjang Pembuatan Kompor Minyak Jelantah oleh Tim Unigal
Tentu saja, alat yang revolusioner ini tidak diciptakan dalam semalam. Pengerjaan kompor minyak jelantah ini melibatkan kolaborasi lintas disiplin ilmu yang sangat solid.
Tercatat sebanyak 20 mahasiswa terpilih turut banting tulang dalam mewujudkan proyek berharga ini.
Komposisi tim terdiri dari 7 mahasiswa Program Studi Matematika, 7 mahasiswa Teknik Mesin, dan 6 mahasiswa Prodi Agribisnis.
Sinergi yang apik ini membuktikan bahwa penggabungan ilmu hitung, mekanika, dan manajemen bisnis mampu melahirkan produk yang berdampak konkret bagi masyarakat luas.
Bimbingan Dosen Ahli dan Penerapan Konsep STEAM-H
Para mahasiswa tersebut bekerja ekstrakeras di bawah pengawasan ketat dan arahan tiga dosen ahli.
Ketiga dosen pembina tersebut adalah Dr. Ai Tusi Fatimah, S.Pd., M.Si. (Matematika Unigal), Ir. Tia Setiawan, M.T. (Teknik Mesin Unigal), serta Lidya Nur Amalia, M.P. (Agribisnis Universitas Siliwangi).
Pendekatan mutakhir berbasis STEAM-H (Science, Technology, Engineering, Art, Mathematics, and Health) diaplikasikan mulai dari tahap studi kebutuhan hingga uji coba desain purwarupa.
Desain ruang bakarnya dimodifikasi sedemikian rupa agar minyak bekas terbakar sempurna, sehingga tidak menghasilkan asap pekat yang berbahaya.
Hasilnya, kompor ini sangat aman dioperasikan untuk skala rumahan dan terbukti hemat energi.
Dampak Ganda: Efisiensi Biaya dan Kelestarian Lingkungan
Keunggulan paling menonjol dari penggunaan kompor minyak jelantah ini tidak sekadar berpusat pada penekanan biaya produksi.
Lebih jauh dari itu, pemanfaatan bahan bakar alternatif ini memberikan napas segar bagi kelestarian alam dan kesehatan lingkungan di sekitar wilayah Ciamis.
Sering kali, limbah sisa penggorengan dibuang sembarangan hingga berujung pada pencemaran tanah maupun selokan warga.
Dengan menyulap limbah tersebut menjadi amunisi pengapian utama, potensi pencemaran lingkungan otomatis terpotong secara drastis.
Lebih dari Sekadar Alat, Ada Pendampingan Berkelanjutan
Satu poin yang patut diapresiasi dari program ini adalah metode pelaksanaannya di lapangan.
Tim mahasiswa Unigal tidak sekadar melakukan prosesi serah terima alat lalu pergi. Sebaliknya, mereka secara konsisten memberikan pendampingan teknis secara intensif kepada para mitra.
Pelaku usaha diajarkan instruksi keselamatan, cara aman mengolah minyak sisa menjadi bahan bakar, serta teknik perawatan kompor minyak jelantah agar usianya lebih awet.
Sebagai bentuk dedikasi penuh, tim PKM juga menghibahkan sebuah mesin spinner.
Alat peniris minyak otomatis ini diberikan agar tekstur rengginang dan sale pisang menjadi lebih renyah, minim kolesterol, dan memiliki daya jual yang melonjak di pasaran.
Harapan Mewujudkan Ekosistem Industri yang Berkelanjutan
Program pengabdian ini direncanakan bergulir selama tiga bulan penuh. Tim PKM menargetkan terciptanya sebuah ekosistem produksi di Desa Handapherang yang jauh lebih mandiri, efisien, dan tentunya berwawasan lingkungan.
Dr. Ai kembali menegaskan bahwa inovasi kompor minyak jelantah ini harus menjadi tonggak awal perubahan.
“Kami sangat berharap inovasi ini bisa menginspirasi banyak pihak. Limbah sejatinya adalah sumber daya yang tersembunyi jika kita pandai mengolahnya dengan teknologi yang tepat,” ujarnya dengan penuh keyakinan.
Ke depannya, teknologi tepat guna ini diyakini tak akan berhenti di satu desa saja.
Peluang untuk direplikasi oleh ribuan pelaku UKM lain di Kabupaten Ciamis terbuka lebar, mengantarkan industri kecil selangkah lebih tangguh menghadapi tantangan inflasi.





