
Peristiwa kebakaran dapur di Ciamis kembali terjadi dan menimpa keluarga Salim, warga Dusun Karangpaninggal, tepat di tengah momen malam takbiran menyambut Idul Fitri.
Bangunan miliknya ludes dilalap si jago merah pada Sabtu (21/3/2026) dini hari sekitar pukul 02.00 WIB, yang diduga kuat dipicu oleh sisa bara api tungku.
Insiden memilukan ini bermula ketika pemilik rumah baru saja menyelesaikan persiapan hidangan khas hari raya, yakni memasak opor entog.
Meski tidak ada korban jiwa, kerugian materiil akibat musibah ini diperkirakan cukup signifikan mengingat struktur bangunan yang terbuat dari anyaman bambu hangus tak tersisa.
Ringkasan Berita
Kronologi Kebakaran Dapur di Ciamis Milik Salim
Berdasarkan informasi yang dihimpun, Salim baru saja tuntas memasak di area dapurnya yang berlokasi di RT 45 RW 06 Desa Karangpaninggal, Kecamatan Purwadadi.
Menjelang waktu sahur terakhir di penghujung Ramadan, ia merasa sudah memadamkan api di tungku tradisional miliknya dengan sempurna sebelum beristirahat ke ruang tengah.
Namun, suasana tenang malam takbiran mendadak berubah mencekam. Saat berada di dalam rumah, Salim dikejutkan oleh suara letupan keras yang berasal dari arah belakang.
Tragedi kebakaran dapur di Ciamis ini pun mulai tak terhindarkan saat api merambat cepat ke dinding bambu.
“Saat korban berada di ruang tengah, tiba-tiba terdengar suara letupan bambu yang terbakar. Karena curiga, korban mengecek kembali ke area dapur,” ujar Kabid Damkar dan Penyelamatan Satpol PP Ciamis, Budi Rahmat SIP.
Betapa terkejutnya Salim saat melihat dinding dapurnya yang terbuat dari anyaman bambu (bilik) sudah dikepung api.
Material bangunan yang mudah terbakar membuat si jago merah dengan cepat merambat ke bagian atap dan struktur kayu lainnya.
Dalam kondisi panik, korban langsung berteriak meminta tolong dan segera menghubungi Pos WMK Banjarsari.
Respon Cepat Petugas Tangani Kebakaran Dapur di Ciamis
Mendapat laporan darurat dari warga, pihak Pemadam Kebakaran langsung menerjunkan tim rescue.
Lokasi yang berada di wilayah perbatasan menuntut koordinasi cepat agar insiden kebakaran dapur di Ciamis ini tidak merembet ke bangunan utama rumah atau pemukiman padat penduduk di sekitarnya.
“Menyusul laporan dari korban, dengan respon cepat empat personel dari Pos Damkar WMK Banjarsari langsung meluncur ke lokasi kejadian,” tambah Budi Rahmat.
Empat petugas piket siaga yang diterjunkan adalah Icep, Uju, Gilang, dan Nurholis. Mereka tiba di lokasi dengan menggunakan unit mobil pancar bernomor polisi Z 8159 T.
Setibanya di tempat kejadian perkara (TKP), petugas langsung melakukan lokalisir area agar kobaran api tidak menyentuh bangunan utama yang dihuni oleh keluarga Salim.
Sinergi Petugas dan Warga Padamkan Api
Proses pemadaman ini menjadi potret nyata gotong royong masyarakat. Tak hanya petugas pemadam, berbagai unsur kewilayahan turut turun tangan di tengah dinginnya udara dini hari.
Tampak di lokasi, personel dari Koramil Lakbok dan Polsek Lakbok bersinergi dengan perangkat desa serta kecamatan setempat.
Petugas PLN juga dikerahkan untuk memutus aliran listrik guna menghindari korsleting yang dapat memperparah situasi.
Warga sekitar yang terbangun dari tidurnya pun bahu-membahu menyiramkan air dengan peralatan seadanya.
Berkat kerja keras semua pihak, api berhasil dikuasai sepenuhnya sekitar pukul 03.00 WIB.
Petugas memastikan tidak ada lagi titik api (hotspot) yang berpotensi menyala kembali sebelum mereka kembali ke posko pada Sabtu dini hari tersebut.
Pelajaran Berharga dari Kasus Kebakaran Dapur di Ciamis
Kasus kebakaran dapur di Ciamis ini menjadi pengingat keras bagi seluruh masyarakat, terutama saat intensitas aktivitas memasak meningkat menjelang hari raya.
Penggunaan tungku kayu bakar memerlukan pengawasan ekstra ketat, apalagi jika letaknya berdekatan dengan material tradisional seperti anyaman bambu.
Dinding bambu sangat rentan terhadap panas radiasi. Meski api di dalam tungku tampak padam, bara yang tersisa di dalam abu seringkali masih menyimpan panas tinggi.
Oleh karena itu, pengecekan ganda pada area memasak sangatlah krusial.
“Pastikan api benar-benar mati hingga ke baranya. Musibah bisa terjadi kapan saja, maka kewaspadaan adalah kunci utama,” pungkas Budi Rahmat.
Kini, keluarga Salim terpaksa merayakan Idul Fitri dengan kondisi dapur yang tinggal puing.
Kendati demikian, mereka tetap bersyukur karena bangunan utama rumah dan nyawa seluruh anggota keluarga masih selamat dari amukan api.





