
Bupati Ciamis, Dr. H. Herdiat Sunarya, meminta agar pengawasan terhadap dapur penyedia Makanan Bergizi Gratis (MBG) di wilayahnya diperketat.
Permintaan itu disampaikan menyusul kasus dugaan keracunan yang menimpa belasan siswa sekolah dasar di Kecamatan Kawali pada Jumat (3/10/2025).
Bupati Herdiat menegaskan, keamanan dan kebersihan makanan harus menjadi prioritas utama dalam pelaksanaan program MBG.
Ia tak ingin insiden serupa kembali terulang dan menimbulkan korban, terutama di kalangan anak-anak sekolah dasar.
“Saya sangat prihatin dan kasihan terhadap anak-anak. Awalnya mereka sehat, setelah mengonsumsi menu MBG justru sakit. Ini tentu tidak boleh terulang lagi,” ujar Herdiat dengan nada tegas saat menjenguk korban di Puskesmas Kawali.
Usai menuntaskan perjalanan dinas dari Jakarta, Jumat siang itu, Bupati Herdiat langsung menuju Puskesmas Kawali untuk memantau kondisi para siswa yang dirawat akibat gejala keracunan makanan.
Langkah cepat tersebut menunjukkan kepedulian Bupati terhadap para siswa yang terdampak.
Di hadapan tenaga medis dan pihak sekolah, Bupati menekankan pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap proses pengolahan dan distribusi makanan MBG.
Menurutnya, pengawasan ketat di tingkat dapur dan penyedia jasa adalah kunci utama untuk memastikan keamanan konsumsi anak-anak sekolah.
Data yang dihimpun menunjukkan, sebanyak 14 siswa mengalami gejala keracunan setelah menyantap makanan dari program MBG.
Mereka berasal dari dua sekolah di wilayah Kecamatan Kawali, yaitu SDN 1 Sindangsari dan MI PUI Pogorsari.
Di SDN 1 Sindangsari, dari 98 siswa penerima MBG, terdapat 12 siswa yang mengeluhkan sakit perut, pusing, dan mual.
Setelah mendapat perawatan, dua siswa telah dinyatakan pulih, sementara 10 lainnya masih menjalani perawatan intensif di Puskesmas Kawali.
Sedangkan di MI PUI Pogorsari, dari 293 penerima MBG, terdapat dua siswa yang mengalami gejala serupa.
Keduanya sempat dirawat di Puskesmas Kawalimukti dan kini telah pulih serta dipulangkan ke rumah masing-masing.
Melihat kasus tersebut, Bupati Herdiat meminta agar Badan Gizi Nasional (BGN) memperketat pengawasan terhadap seluruh dapur dan penyedia MBG di Kabupaten Ciamis.
Ia menegaskan, setiap Satuan Pelaksana Penyedia Gizi (SPPG) wajib menerapkan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang telah ditetapkan dan tidak hanya berorientasi pada keuntungan semata.
“Saya harap BGN bertindak tegas dan melakukan pengawasan lebih ketat terhadap SPPG maupun dapur pengolah. Jangan sampai anak-anak kita kembali menjadi korban,” tegasnya.
“Kami meminta SPPG memiliki rasa tanggung jawab, bukan hanya mencari keuntungan,” tambah Herdiat.
Menurutnya, pengawasan yang kuat dari lembaga terkait dan kedisiplinan para penyedia makanan akan menjadi fondasi agar program MBG tetap berjalan dengan baik dan tidak menimbulkan risiko bagi penerimanya.
Hingga kini, tim medis bersama dinas terkait masih melakukan penelusuran untuk memastikan penyebab pasti dugaan keracunan tersebut.
Pemerintah daerah turut memantau perkembangan kondisi para siswa dan memastikan seluruh korban mendapatkan perawatan optimal hingga pulih sepenuhnya.
Di sisi lain, Bupati Herdiat menginstruksikan jajarannya untuk melakukan evaluasi total terhadap pelaksanaan program MBG, mulai dari tahap penyediaan bahan baku, proses pengolahan, hingga distribusi ke sekolah-sekolah.
“Evaluasi ini penting agar tidak ada lagi kasus serupa di masa depan. Program MBG harus menjadi sarana peningkatan gizi, bukan sumber masalah kesehatan,” ujarnya.
Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) merupakan salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan kualitas gizi anak sekolah, terutama di jenjang pendidikan dasar.
Program ini diharapkan membantu anak-anak tumbuh sehat, aktif, dan cerdas melalui asupan makanan bernutrisi.
Namun, Bupati menegaskan bahwa keberhasilan program ini tidak hanya bergantung pada jumlah penerima manfaat, melainkan juga pada kualitas, kebersihan, dan keamanan makanan yang disajikan.
“Program ini bagus dan bermanfaat. Tapi aspek kebersihan dan keamanan harus dijaga dengan sangat ketat. Jangan sampai niat baik pemerintah justru menimbulkan kerugian bagi anak-anak,” tegas Herdiat.
Pemerintah Kabupaten Ciamis memastikan bahwa keselamatan dan kesehatan anak-anak sekolah menjadi prioritas utama.
Melalui koordinasi lintas instansi, Pemkab berkomitmen melakukan pengawasan berlapis serta memperkuat edukasi tentang keamanan pangan di lingkungan sekolah.
Langkah ini diharapkan tidak hanya mencegah kasus serupa, tetapi juga membangun kembali kepercayaan masyarakat terhadap program MBG, agar tujuan mulia peningkatan gizi anak tetap terjaga tanpa menimbulkan kekhawatiran.





