Fenomena Fase Bulan Mati Diungkap LIPI

0
525
Fenomena Fase Bulan Mati

Reportasee.com Pusat Penelitian Laut Dalam (P2LD) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengungkap fenomena fase bulan mati atau bulan baru.

Hal itu terungkap saat naiknya air laut yang pasang tinggi hingga mencapai jembatan Pelabuhan Hunimua, tepatnya terjadi pada 29 – 30 Oktober 2019.

Peneliti P2LD LIPI Bidang Oseanografi Fisika, Muhammad Fadli, di Ambon, Kamis, menyebutkan, tanggal 28 Oktober sampai 1 November merupakan fase bulan mati.

Menurut dia, dalam ilmu fisika oseanografi, pasang dan surut pada durasi waktu tersebut dalam kondisi maksimum.

Fenomena Fase Bulan Mati

Sebelumnya, beredar luas di laman media sosial Facebook, foto jembatan Pelabuhan di Desa Liang, Kecamatan Salahutu (Pulau Ambon), Kabupaten Maluku Tengah terendam air laut yang pasang hingga setinggi mata kaki.

Foto fenomena naiknya air laut hingga ke daratan itu oleh masyarakat diasumsikan sebagai tsunami kecil.

Menanggapi hal tersebut, Fadli mengungkapkan, berdasarkan data yang ia miliki, kondisi air laut pasang pada fase bulan mati di Liang akan mencapai 1,2 hingga 1,4 meter dari muka air rata-rata (Mean Sea Level – MSL). Dan surut akan turun mencapai 1,3 – 1,5 meter dari MSL.

Kondisi pasang tinggi ini juga akan terjadi pada saat terjadi bulan purnama, sekitar 12 – 15 November 2019.

Fenomena siklus periodik 15 hari itu bisa dipantau melalui beberapa aplikasi pasang surut (tidal) di smartphone berbasis Android ataupun IOS.

Fadli menjelaskan, kalau bulan mati memang air sedang mencapai pasang tertinggi untuk satu siklus satu bulan. Air laut akan surut sangat maksimum, pasangnya pun akan sangat tinggi.

“Waktu foto tersebut diambil jam 16.00 sore serta jam 04.00 subuh yang memang dalam masa pasang puncak,” ungkap Fadli.

Lebih lanjut, Fadli menuturkan, naiknya air laut pasang hingga mencapai jembatan Pelabuhan Hunimua belum pernah terjadi sebelumnya.

Serta baru mulai terlihat sesudah gempa tektonik magnitudo 6,5 pada 26 September 2019. Pihaknya menduga adanya kemungkinan telah terjadi “land subsidence”.

Untuk memastikan dugaan terjadi “land subsidence” atau penurunan muka tanah secara lokal akibat gempa di Liang, P2LD LIPI akan memantau kondisi level muka air laut pada saat purnama serta fase bulan mati berikutnya.

“Dari gambar yang saya perhatikan, fenomena ini belum pernah terjadi sebelumnya. Ini mulai terlihat setelah terjadi gempa. Maka kami mencurgai telah terjadi fenomena penurunan muka tanah secara lokal di Liang akibat gempa,” pungkas Muhammad Fadli. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here