
Kabupaten Ciamis mencatatkan 83 kasus kekerasan dan pelecehan terhadap perempuan serta anak sepanjang tahun 2025.
Menanggapi angka krusial ini, Bupati Herdiat Sunarya meminta guru PGRI bertindak sebagai garda terdepan dalam pengawasan dan perlindungan siswa di sekolah guna menekan kasus kekerasan anak di Ciamis.
Pernyataan tegas tersebut disampaikan Bupati saat menghadiri Halal Bihalal PGRI Kabupaten Ciamis tahun 2026 yang berlangsung di Aula Gedung STIKes Muhammadiyah Ciamis, Selasa (07/04/2026).
Data yang diungkapkan ini menjadi alarm keras bagi dunia pendidikan di Tatar Galuh untuk lebih waspada.
Ringkasan Berita
Alarm Bahaya Kasus Kekerasan Anak di Ciamis
Angka 83 kasus yang terjadi sepanjang tahun lalu menunjukkan bahwa ancaman terhadap keselamatan anak masih sangat nyata.
Bupati Herdiat mengungkapkan keprihatinannya yang mendalam mengingat tren kasus kekerasan anak di Ciamis yang harus segera diputus rantainya agar tidak semakin meluas.
Menurutnya, sekolah bukan hanya tempat untuk transfer ilmu pengetahuan, melainkan harus menjadi ruang paling aman bagi siswa.
Meningkatnya statistik kasus kekerasan anak di Ciamis menuntut kepekaan lebih dari para pendidik untuk mendeteksi dini tanda-tanda trauma atau perubahan perilaku pada anak didik mereka.
“Kami sangat prihatin. Data menunjukkan ada 83 kasus kekerasan dan pelecehan di tahun 2025. Ini adalah tugas besar kita bersama untuk memastikan bahwa kasus kekerasan anak di Ciamis tidak terus bertambah di masa mendatang,” tegas Herdiat di hadapan ratusan anggota PGRI.
Peran Guru PGRI Sebagai Benteng Perlindungan
Dalam kesempatan tersebut, Bupati menekankan bahwa guru memiliki posisi strategis untuk mencegah terjadinya kasus kekerasan anak di Ciamis.
Sebagai orang tua kedua di sekolah, guru diharapkan mampu menjalin komunikasi yang lebih personal dengan siswa, sehingga anak-anak merasa nyaman untuk bercerita jika mengalami tindakan tidak menyenangkan.
Soliditas organisasi PGRI diharapkan mampu memperkuat sistem proteksi anak di lingkungan pendidikan.
Bupati meminta agar tidak ada lagi pembiaran terhadap tindakan bullying atau pelecehan sekecil apa pun.
Upaya kolektif ini merupakan langkah konkret untuk menekan potensi kasus kekerasan anak di Ciamis yang menyasar usia sekolah.
“Guru harus menjadi suri teladan dan pelindung. Jika pengawasan di sekolah lemah, risiko terjadinya kasus kekerasan anak di Ciamis akan semakin tinggi. Kita tidak boleh lengah sedikit pun,” tambahnya dengan nada serius.
Ancaman Digital dan Kerentanan Siswa
Selain kekerasan fisik, Bupati juga menyoroti kerentanan anak terhadap kekerasan berbasis digital. Di era pesatnya teknologi, banyak anak usia TK dan SD yang sudah mahir menggunakan gawai.
Jika tanpa pengawasan, hal ini bisa menjadi pintu masuk bagi kasus kekerasan anak di Ciamis dalam bentuk eksploitasi daring.
Pengawasan terhadap penggunaan teknologi digital oleh siswa menjadi poin krusial yang ditekanan Herdiat.
Ia mengingatkan bahwa lemahnya pengawasan orang tua dan guru terhadap aktivitas digital anak dapat menjerumuskan mereka ke hal-hal negatif yang berujung pada kasus kekerasan anak di Ciamis.
“Anak-anak kita sudah sangat mahir teknologi. Namun, jika pengawasannya lemah, mereka bisa terjerumus. Inilah yang seringkali menjadi awal mula terjadinya kasus kekerasan anak di Ciamis yang bersifat psikis maupun pelecehan seksual,” jelasnya.
Menuju Generasi Emas 2045 Tanpa Kekerasan
Upaya meminimalisir kasus kekerasan anak di Ciamis merupakan bagian integral dari visi mewujudkan Generasi Emas 2045.
Bupati menegaskan bahwa murid-murid yang berkualitas tidak hanya lahir dari kurikulum yang baik, tetapi juga dari lingkungan yang sehat dan bebas dari rasa takut.
Pemerintah Kabupaten Ciamis berkomitmen untuk terus mensosialisasikan perlindungan anak dan memperkuat regulasi daerah.
Sinergi antara pemerintah dan organisasi profesi seperti PGRI dianggap sebagai kunci utama dalam memerangi kasus kekerasan anak di Ciamis secara sistematis.
“Pendidikan adalah sektor penting. Jangan sampai mimpi anak-anak kita hancur karena menjadi korban kasus kekerasan anak di Ciamis. Mari kita satukan visi untuk menjaga mereka,” tutur Herdiat.
Apresiasi untuk Pendidik Berdedikasi
Sebagai penutup acara, Bupati memberikan penghargaan kepada lima guru yang dinilai memiliki dedikasi tinggi, termasuk mereka yang aktif dalam melakukan pendampingan karakter siswa.
Penghargaan ini diharapkan menjadi motivasi bagi guru lain untuk terus peduli pada isu sosial, terutama dalam menekan angka kasus kekerasan anak di Ciamis.
Meski tantangan ke depan tidak mudah, komitmen bersama antara birokrasi dan tenaga pendidik diharapkan mampu menciptakan suasana belajar yang kondusif.
Dengan pengawasan ketat dan rasa kasih sayang, diharapkan kasus kekerasan anak di Ciamis dapat ditekan hingga ke titik terendah.





