Berita

Desentralisasi Partai Politik; Solusi Segar Tata Kelola Parpol ala Agun Gunandjar Sudarsa

Benarkah desentralisasi partai politik jadi kunci berantas elitisme parpol? Akademisi Unigal bongkar isi disertasi doktor baru Agun Gunandjar di sini!

Sistem pengaderan dan penyaringan tokoh di internal partai politik Indonesia dinilai memerlukan perombakan total demi menciptakan pemerintahan yang bersih.

Akademisi Universitas Galuh (Unigal), Aan Anwar Sihabudin, menegaskan bahwa konsep desentralisasi partai politik yang ditawarkan dalam riset terbaru Agun Gunandjar Sudarsa merupakan jawaban konkret atas mandeknya reformasi parpol saat ini.

Gagasan tersebut dinilai mampu memotong jalur birokrasi internal yang selama ini cenderung terpusat dan elitis.

Pernyataan tersebut disampaikan Aan usai menghadiri sidang terbuka promosi doktor Agun Gunandjar di Politeknik STIA LAN Jakarta.

Dalam pemaparannya di hadapan dewan penguji, politisi senior tersebut berhasil mempertahankan disertasi ilmiahnya yang berjudul ‘Tata Kelola Fungsi Representasi dan Rekrutmen Partai Golkar dalam Mewujudkan Good Governance di Era Reformasi’.

Penelitian ini menyoroti bagaimana parpol seharusnya bekerja untuk rakyat.

“Jujur, dari semua kandidat doktor yang dipromosikan, kebetulan saya juga hadir langsung di lokasi, baru hari ini saya sangat puas dengan pemaparan dan jawaban atas pertanyaan dewan penguji,” ujar Aan, yang juga menjabat sebagai Wakil Rektor 3 Unigal.

Mengapa Desentralisasi Partai Politik Menjadi Kunci?

Menurut Aan, salah satu kelemahan terbesar partai modern di Indonesia saat ini adalah pola komunikasi yang berjarak dengan akar rumput.

Konsep desentralisasi partai politik yang diuji dalam sidang tersebut menawarkan struktur baru yang lebih membumi, salah satunya melalui optimalisasi Lembaga Aspirasi.

Baca Juga :  Peringati Harhubnas 2024, Dishub Ciamis Pererat Silaturahmi Lewat Olahraga

Lembaga ini didesain bukan sekadar sebagai pemanis birokrasi, melainkan sebagai wadah organik tempat rakyat bisa langsung menyampaikan keluhan kepada wakilnya secara berkala.

Lebih jauh, gagasan desentralisasi partai politik ini diharapkan mampu mendorong fungsi pendidikan politik dan kaderisasi yang berjalan secara berjenjang.

Penjaringan kader tidak boleh lagi bersifat mendadak, instan, atau hanya mengandalkan popularitas tokoh semata.

Sebaliknya, prosesnya harus berbasis pada investasi sumber daya manusia (SDM) jangka panjang yang terintegrasi dari tingkat daerah hingga pusat.

Berbasis Teknologi dan Berburu Bakat Milenial

Di era digital yang serba cepat, penerapan desentralisasi partai politik juga wajib memanfaatkan teknologi informasi untuk menjaring kelompok muda.

Aan sangat sepakat dengan pemikiran Agun bahwa parpol harus aktif melakukan model pencarian bakat (talent scouting) untuk merangkul:

  • Kelompok milenial dan Gen Z yang melek digital namun sering apatis terhadap politik.
  • Tokoh mahasiswa dan aktivis pergerakan murni yang memiliki idealisme tinggi.
  • Tokoh potensial di daerah yang selama ini tidak tersentuh oleh elit pusat.

“Lembaga aspirasi dalam skema desentralisasi partai politik ini bisa menjadi tempat curhat rakyat yang riil. Menurut saya, ini adalah pola baru yang sangat sehat bagi iklim demokrasi kita ke depan,” tambah Aan.

Langkah taktis ini dipandang strategis untuk mewujudkan Good Political Party Governance atau tata kelola partai politik yang akuntabel, transparan, dan amanah.

Partai politik yang sehat secara internal otomatis akan melahirkan pejabat publik serta kebijakan yang integritasnya teruji di masyarakat.

Baca Juga :  PSGC Ciamis Tutup Putaran Pertama dengan Kemenangan Telak 3-0

Tantangan Reformasi Golkar di Era Modern

Sidang promosi doktor ini menarik perhatian banyak pihak karena mengambil studi kasus langsung pada Partai Golkar, salah satu partai politik tertua di Indonesia.

Golkar kerap menghadapi tantangan faksionalisme yang kuat dan resistensi yang tinggi terhadap perubahan struktural.

Pengamat menilai, jika formula desentralisasi partai politik ini benar-benar diterapkan secara konsisten, Golkar bisa memimpin arah perubahan gaya baru dalam pengelolaan partai di tingkat nasional.

Lebih lanjut, riset ini memberikan rekomendasi penting agar keputusan strategis partai tidak lagi didominasi oleh segelintir elit di Jakarta.

Otonomi yang lebih luas harus diberikan kepada pengurus tingkat daerah untuk menentukan arah kebijakan yang sesuai dengan kearifan lokal masing-masing wilayah.

Sebagai penutup, Aan yang hadir langsung dalam momentum bersejarah tersebut menyampaikan apresiasi mendalam dari dunia akademik.

Langkah nyata seorang praktisi politik senior yang bersedia menguji teori dan pengalamannya di meja akademik patut dicontoh oleh politisi lainnya.

Aan menutup pernyataannya dengan menyampaikan ucapan selamat, baik atas nama pribadi maupun mewakili seluruh civitas akademika Universitas Galuh, atas gelar doktor terapan yang baru saja diraih oleh Agun.

Ia menaruh harapan besar agar gagasan mengenai desentralisasi partai politik tersebut tidak sekadar menjadi arsip yang tersimpan di ruang perpustakaan.

Lebih dari itu, Aan berharap buah pemikiran tersebut dapat membawa manfaat nyata dan segera diimplementasikan demi mendorong perbaikan serta kemajuan bangsa.

Back to top button

Eksplorasi konten lain dari Reportasee.com™

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca