BMKG Analisa Fenomena Embun Es di Dieng

0
102
Embun Es di Dataran Tinggi Dieng
Foto : Embun Beku di Dieng (Sipayo)

Suhu di Dieng, Banjarnegara, Jawa Tengah turun minus sembilan derajat Celsius. Kondisi ini mengakibatkan embun es yang muncul lebih tebal dan dengan skala yang lebih luas.

Bagi sektor pariwisata, kemunculan embun es Dieng adalah ‘berkah’. Jumlah wisatawan meningkat signifikan. Banyak wisatawan tidak ingin melewatkan fenomena embun es di Dieng yang langka itu.

“Kunjungan sekitar 9.500 orang pada Hari Minggu kemarin.” ujar Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dieng, Aryadi Darwanto, Senin 23 Juni 2019.

Tetapi ternyata embun es di Dieng tak selamanya memiliki dampak positif. Fenomena ini justru ditakuti petani. Oleh karena itu, masyarakat di Dieng menyebut embun es sebagai ‘bun upas’ yang artinya dalam bahasa lokal adalah embun beracun.

Banyak tanaman kentang dan hortikultura yang mati akibat adanya embun es tersebut. Lantas, apa sebenarnya yang terjadi? Dan bagaimana embun es atau dikenal embun salju itu dapat terjadi?

Anomali Cuaca Ekstrim

Menurut penjelasan Setyoajie Prayoedhie, Kepala Stasiun Geofisika BMKG Banjarnegara, fenomena embun es merupakan anomali cuaca ekstrem yang biasa terjadi di daerah dataran tinggi dan dapat disebabkan oleh banyak faktor.

Menurut hasil analisa BMKG, di wilayah Indonesia saat ini sedang didominasi angin timuran. Angin timuran merupakan massa udara dingin dan kering yang asalnya dari Benua Australia.

Belokan angin terjadi di wilayah Kalimantan bagian utara dan Sumatera Utara bagian barat. Monsun Australia pada dasarian III Juni diperkirakan lebih kuat dibanding normalnya. Sementara Monsun Asia diperkirakan tidak aktif.

Akibatnya, kondisi ini mengurangi peluang pembentukan awan dan hujan di wilayah Indonesia khususnya bagian selatan.

Itulah sebabnya di daerah pegunungan memiliki tekanan lebih tinggi dibandingkan daerah lembah dan udara yang lebih dingin memiliki kerapatan udara (densitas) yang lebih besar.

Catabatic Flows

“Selanjutnya akan mengalirkan udara ke lembah (catabatic flows),” lanjut Setyoajie.

Udara dingin yang mengalir ke lembah secara signifikan mempercepat laju kondensasi embun yang ada di permukaan.

“Hal inilah yang kemudian dikenal sebagai embun es (frost), seperti yang sedang terjadi di Dieng,” tambah Setyoajie.

Menurutnya, ketika tiba musim kemarau, embun es di Dataran Tinggi Dieng merupakan fenomena yang wajar dan biasa terjadi di tahun-tahun sebelumnya.

Di wilayah Dieng memang sudah terjadi beberapa kali fenomena embun es. Bahkan, tercatat sudah delapan kali dalam bulan Juni 2019 ini. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here