
Ribuan warga Desa Pasirbatang, Kecamatan Manonjaya, Kabupaten Tasikmalaya, menggelar aksi unjuk rasa besar-besaran, Jumat, 25 Juli 2025.
Mereka memadati halaman kantor desa sambil membawa spanduk dan poster yang berisi desakan agar kepala desa segera mundur dari jabatannya.
Aksi yang berlangsung tertib dan damai ini merupakan puncak dari kekecewaan masyarakat atas kepemimpinan kepala desa yang sudah menjabat sejak tahun 2019.
Warga menilai tidak ada perbaikan berarti yang dirasakan selama hampir lima tahun terakhir.
Justru, mereka menduga telah terjadi sejumlah penyalahgunaan wewenang, terutama terkait pengelolaan anggaran desa.
Koordinator aksi, Aho Barho, menjelaskan bahwa masyarakat tidak lagi menaruh kepercayaan kepada kepala desa.
Ia menyebut, unjuk rasa ini merupakan bentuk ekspresi dari kegelisahan dan keresahan warga yang merasa diabaikan oleh pemimpinnya sendiri.
“Sudah tidak ada kepercayaan lagi pada kepala desa yang sekarang menjabat. Kami datang ke sini karena ingin perubahan, bukan sekadar janji,” tegas Aho kepada awak media di lokasi aksi.
Salah satu isu utama yang disorot warga adalah buruknya transparansi dalam pengelolaan anggaran pembangunan desa.
Banyak warga mempertanyakan kejelasan dana desa yang seharusnya digunakan untuk memperbaiki infrastruktur seperti jalan, namun tidak terealisasi dengan baik.
“Jalan-jalan desa banyak yang rusak parah. Tapi bertahun-tahun tidak pernah diperbaiki, padahal dananya selalu ada. Lalu ke mana anggaran itu selama ini?” tanya Aho dengan nada kecewa.
Tak hanya dana infrastruktur, warga juga menyoroti dugaan penyalahgunaan dana Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).
Informasi dari pengurus internal BUMDes menyebutkan adanya intervensi langsung dari kepala desa terhadap dana yang seharusnya dikelola secara mandiri.
“Seharusnya BUMDes dikelola oleh pengurus yang ditunjuk, tapi kenyataannya, kades justru meminta dana tersebut untuk dikelola olehnya. Ini tidak sesuai aturan,” ujar Aho.
Dalam tuntutannya, warga menginginkan agar kepala desa digantikan dengan figur baru yang lebih amanah, transparan, dan memiliki komitmen kuat dalam membangun desa.
Mereka berharap ada pemimpin yang benar-benar memahami dan memperjuangkan kebutuhan masyarakat.
“Harapan kami sederhana. Kami ingin kepala desa yang peduli, yang bisa membawa desa ini maju. Bukan hanya duduk di kursi kekuasaan tanpa bekerja nyata,” kata Aho yang kembali disambut tepuk tangan dari massa.
Meski dihadiri oleh ribuan orang, aksi berlangsung dengan damai. Aparat kepolisian serta perangkat desa ikut mengamankan jalannya demonstrasi untuk menghindari gangguan keamanan.
Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari pihak kepala desa maupun pemerintah daerah atas tuntutan yang disampaikan warga.
Warga berharap aspirasi mereka tidak diabaikan, dan ada langkah cepat dari pemerintah untuk mengevaluasi kinerja kepala desa.
Menurut Aho dan massa lainnya, jika tidak ada tindakan yang diambil, mereka berencana akan kembali menggelar aksi lanjutan dengan skala yang lebih besar.





