Berita

30 Tahun Mengudara! Riak Ramadan Ciamis 2026 Sulap Alun-Alun Jadi Panggung Konservasi Gunung Sawal, Ada Apa Saja?

Ajang ngabuburit legendaris, Riak Ramadan Ciamis, kembali menyapa warga pada Jumat (13/3/2026) sore. Memasuki usianya yang ke-30 tahun, acara yang digelar di pelataran Tugu Perjuangan Alun-Alun Ciamis ini tampil beda.

Mereka sukses menyulap panggung hiburan menjadi arena edukasi konservasi alam yang memikat perhatian ribuan pasang mata.

Di hari ke-6 bulan suci ini, panggung sederhana tersebut didekorasi dengan sangat unik dan tematik.

Pengunjung disuguhkan pemandangan tak biasa berupa rubber boat, perahu kayak, hingga poster besar macan tutul yang mengaum sebagai latar panggung.

Suasana kental akan pelestarian alam ini sukses menciptakan rasa penasaran bagi warga yang sedang menanti waktu berbuka puasa.

Acara ini tidak sekadar menjadi hiburan, melainkan bertransformasi menjadi Panggung Ramadan para Pencinta Alam.

Kolaborasi apik ini menyajikan flying fox untuk anak-anak, pameran perlengkapan outdoor, hingga aksi teatrikal pembacaan puisi yang menyayat hati tentang bencana banjir bandang di Sumatera akibat deforestasi.

Jejak Panjang dan Kolaborasi di Riak Ramadan Ciamis

Menariknya, acara ini turut memamerkan awetan trenggiling dan kerangka asli tulang belulang “Si Abah”, sosok macan tutul legendaris penguasa Suaka Margasatwa Gunung Sawal.

Kerangka yang ditemukan pada tahun 2017 ini menjadi magnet tersendiri sekaligus sarana edukasi satwa liar yang sangat efektif bagi generasi muda.

Turut hadir meramaikan suasana, prajurit TNI AU yang memperagakan olahraga dirgantara paralayang.

Selain itu, pelukis dari komunitas Seni Lukis Galuh (SLUG) tampak asyik menggoreskan kuas mereka, melukiskan keindahan alam di atas kanvas.

Berbagai doorprize alat-alat outbound hingga paket bantuan dari Alfamart juga semakin menghangatkan suasana ngabuburit.

Menurut Noer JM, penggagas dari Keluarga Galuh Budaya (KGB), Riak Ramadan Ciamis telah menjadi ikon ngabuburit sejak tahun 1996.

Mengingat kembali jejak sejarahnya, pentas ngabuburit legendaris ini lahir hanya berselang satu tahun setelah peresmian Taman Raflesia di kawasan Alun-Alun Ciamis.

Baca Juga :  Inspektorat Ciamis Audit 103 Desa Setiap Tahun Secara Bergilir

Perjalanannya melintasi tiga dekade tentu tidak selalu berjalan mulus.

Dengan nada penuh haru, ia mengenang bagaimana ajang tahunan Riak Ramada Ciamis ini melewati masa vakum selama enam tahun, termasuk saat harus terhenti total akibat hantaman pandemi Covid-19 beberapa waktu lalu.

Namun, rentetan rintangan tersebut justru membuat semangat penyelenggaraan semakin menyala.

Kini, menginjak peringatan tahun ke-30 pelaksanaannya, rasa bangga yang luar biasa mengiringi kembalinya panggung edukasi ini.

Terlebih lagi, momentum spesial tersebut berhasil menyatukan berbagai elemen masyarakat dalam sebuah kolaborasi epik.

Karena melibatkan pihak BKSDA, Kelompok Pencinta Alam (KPA), barisan Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala), hingga para relawan konservasi.

Edukasi BKSDA dan Penyelamatan Satwa Dilindungi

Di sisi lain, kehadiran BKSDA Wilayah III Jawa Barat memberikan bobot edukasi yang kuat.

Kepala Bidang BKSDA, Ahmad Arifin, menegaskan bahwa momen ini adalah langkah strategis untuk menanamkan kesadaran konservasi kepada masyarakat luas.

BKSDA memperkenalkan konsep 3P: Perlindungan, Pengawetan, dan Pemanfaatan alam secara lestari.

BKSDA juga memamerkan alat peraga edukasi, mulai dari flyer keanekaragaman hayati hingga simulasi penyelamatan satwa.

Pengunjung diajak mengenali peralatan evakuasi seperti kendaraan unit rescue, alat penjepit, hingga sarung tangan khusus yang digunakan saat satwa dilindungi terpaksa turun ke permukiman warga.

Sebagai salah satu benteng pertahanan ekologi di Tatar Galuh, kawasan Suaka Margasatwa (SM) Gunung Sawal terbukti masih menjadi habitat yang amat nyaman bagi berbagai satwa endemik yang terancam punah.

Hal ini ditegaskan langsung oleh Ahmad Arifin, yang memberikan jaminan otoritatif terkait terjaganya kondisi hutan Ciamis.

Menurutnya, rantai makanan dan ekosistem di kawasan tersebut masih sangat mumpuni untuk menopang kehidupan satwa-satwa kunci.

Mulai dari macan tutul jawa, elang jawa, hingga kelompok primata seperti lutung.

Oleh karena itu, guna memantau sekaligus memastikan kelestarian penguasa rimba tersebut, pihak BKSDA terus melakukan langkah proaktif.

Baca Juga :  Tim Bola Voli Ciamis Berhasil Kalahkan Pangandaran pada Porsenitas

Saat ini, mereka tengah menggelar observasi intensif melalui program Javan Wide Leopard Survey (JWLS).

Dalam pelaksanaannya, tim konservasi secara senyap menyebar sejumlah kamera jebak (camera trap) di titik-titik strategis yang berada di kedalaman hutan Gunung Sawal.

Langkah pemetaan berbasis teknologi ini sangat krusial untuk mengumpulkan data populasi yang akurat tanpa mengganggu kenyamanan satwa.

Berdasarkan indikator ekologis yang ditemukan di lapangan sejauh ini, Arifin menaruh optimisme yang tinggi.

Ia meyakini kuat bahwa populasi macan tutul jawa di kawasan konservasi kebanggaan masyarakat Ciamis tersebut masih dalam kondisi yang cukup baik dan terus terjaga populasinya.

Orasi Ketua DPRD Ciamis: Tolak Hutan Pinus, Tanam Aren!

Puncak kemeriahan Riak Ramadan Ciamis sore itu ditandai dengan kehadiran Ketua DPRD Ciamis, H. Nanang Permana, S.H., M.H.

Dalam orasinya yang berapi-api, ia menceritakan perjalanan panjang Pemkab dan DPRD sejak 2018 dalam menuntut KLHK agar Gunung Sawal sepenuhnya berstatus kawasan konservasi, bukan lagi hutan produksi.

Nanang menyoroti tajam kebijakan penanaman pohon pinus oleh Perhutani pada 1978.

“Sebelum ada pinus, Sungai Cileueur tidak pernah kering walau kemarau panjang. Sekarang, kemarau tiga bulan saja debit air langsung habis. Pinus itu bukan menyerap air, tapi boros air!” tegasnya.

Sebagai solusi nyata, sejak 2019, Nanang bersama komunitas Fokus telah menggencarkan Gerakan Nanam Pohon (GNP).

Mereka menanam 200.000 benih pohon aren di sela-sela hutan pinus Gunung Sawal.

Langkah ini tidak hanya bertujuan mengembalikan resapan air yang hilang, tetapi juga membuka keran ekonomi baru bagi warga setempat melalui produksi gula aren yang bernilai tinggi.

Melalui kemasan yang segar dan relevan, perhelatan Riak Ramadan Ciamis kali ini membuktikan bahwa ngabuburit bisa menjadi ajang refleksi diri untuk lebih mencintai bumi, sejalan dengan makna suci bulan Ramadan.

Back to top button

Eksplorasi konten lain dari Reportasee.com™

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca