Berita

Stigma Kota Pensiun Bakal Hilang? Masyarakat Pendidikan Dukung Penuh Perubahan Nama Kabupaten Ciamis Menjadi Galuh

Tokoh pendidikan R. Gardea desak perubahan nama Kabupaten Ciamis menjadi Galuh segera diresmikan demi menghapus stigma kota pensiun.

Gelombang dukungan dari sektor akademis terus mengalir deras mengawal rencana strategis pemerintah daerah di Priangan Timur. Sorotan utama kini tertuju pada argumen kritis dari kalangan akademisi yang menilai kebijakan tersebut sebagai titik balik jati diri daerah.

Terkait wacana regulasi tersebut, masyarakat pendidikan secara terbuka menyatakan dukungan penuh terhadap upaya pemerintah daerah terkait perubahan nama Kabupaten Ciamis. Salah seorang tokoh warga pendidikan di wilayah tersebut, R. Gardea, S.Ap., secara tegas mengawal isu ini dan mengaku sangat setuju.

Menurut pandangan mendalam Gardea, langkah penataan sejarah melalui perubahan nama Kabupaten Ciamis merupakan sebuah penantian panjang sejak lama. Oleh karena itu, ia menilai pemerintah tidak perlu ragu lagi untuk segera melangkah ke tahap finalisasi administratif.

Sebagai sebuah representasi praktisi akademis, Gardea mengungkapkan sebuah fakta historis bahwa nama besar Galuh sebenarnya sudah melekat di sana. Kehadiran institusi pendidikan tinggi menjadi bukti otentik bahwa masyarakat secara kultural telah mengadopsi identitas legendaris ini jauh sebelumnya.

Urgensi Kultural di Balik Perubahan Nama Kabupaten Ciamis

Bukti konkret keandalan identitas ini dapat dilihat pada eksistensi Universitas Galuh, atau yang akrab dikenal secara luas sebagai Unigal. Kampus kebanggaan masyarakat ini tercatat sudah menggunakan nama Galuh sejak tahun 1998 silam sebagai bentuk kehormatan daerah.

Keberadaan kampus ini secara tidak langsung menjadi pilar sosiologis utama mengapa wacana perubahan nama Kabupaten Ciamis dinilai sangat matang. Lebih jauh lagi, Gardea memaparkan bahwa komitmen Unigal dalam melestarikan nilai leluhur diwujudkan dalam sistem formal.

Baca Juga :  119 Penyuluh Pertanian Ciamis Segera Jadi Pegawai Kementan, Transisi Dikebut Hingga Awal 2026

Kampus bergengsi tersebut memiliki kebijakan akademis yang berani dengan mewajibkan mata kuliah kegaluhan di semua jurusan sebanyak dua SKS. Melalui mata kuliah kegaluhan tersebut, kata Gardea, seluruh mahasiswa mendapatkan materi mendalam tentang filosofi dan kebudayaan lokal.

Pola pendidikan karakter inilah yang menurutnya harus ditiru dan diadaptasi oleh jajaran birokrasi pemerintahan daerah. Pemahaman sejarah yang kuat dinilai akan mempermudah masa transisi perubahan nama Kabupaten Ciamis di masyarakat luas.

Melalui rekam jejak akademis tersebut, Unigal juga selalu mengenalkan kebudayaan Galuh dalam berbagai kesempatan di dalam maupun luar negeri. Berangkat dari keberhasilan perguruan tinggi ini, Gardea mendesak pemerintah daerah untuk mengambil langkah replikasi yang masif.

Opini kritis dari sektor pendidikan ini diharapkan menjadi pertimbangan utama dinas terkait dalam merealisasikan perubahan nama Kabupaten Ciamis. Langkah tersebut dinilai sangat mendesak agar generasi muda tidak kehilangan akar budaya aslinya.

Rekomendasi Taktis Gardea: Dari Kurikulum Sekolah Hingga Batas Wilayah

Lebih lanjut, Gardea meminta pemerintah daerah juga harus memiliki keberanian politik untuk mengenalkan tentang kebudayaan Galuh di sekolah-sekolah. Pengenalan nilai sejarah lokal secara masif ini dinilai tidak boleh hanya berhenti di tingkat universitas saja.

Kebijakan ini harus diintegrasikan ke dalam kurikulum muatan lokal secara terstruktur dari tingkat sekolah dasar hingga menengah atas. Langkah ini penting agar pemahaman tentang perubahan nama Kabupaten Ciamis berjalan selaras sejak usia dini di masyarakat.

Bahkan, Gardea berharap intervensi edukasi mengenai materi tentang budaya Galuh ini bisa diperkenalkan kepada anak-anak sejak usia dini. Pendekatan usia emas ini dianggap sangat krusial dalam membentuk mentalitas dan karakter tangguh generasi masa depan.

Baca Juga :  All Ciamis Final! Yamira vs Gaspool Berebut Tahta Juara Kejurda Voli U-14 Jabar 2026

Karena saya meyakini, tutur Gardea secara filosofis, bangsa yang besar adalah bangsa yang senantiasa menghargai akar sejarahnya sendiri. Oleh sebab itu, ia meminta seluruh elemen masyarakat bersama-sama mendukung penuh perubahan nama Kabupaten Ciamis.

Selain fokus pada ranah pengajaran sekolah, Gardea juga menyodorkan rekomendasi fisik yang bersifat taktis kepada pihak eksekutif daerah. Ia menyarankan agar pemerintah daerah segera melengkapi berbagai ornamen berbau Galuh di wilayah perbatasan antar-kabupaten.

Langkah fisik ini dipandang sangat krusial agar esensi dari perubahan nama Kabupaten Ciamis bisa langsung dirasakan secara visual. Identitas visual yang kuat di gerbang masuk daerah dinilai akan memberikan impresi positif bagi pendatang.

Tujuannya sebagai ciri khas yang kuat dan penegasan identitas daerah yang berwibawa di mata publik, tandasnya secara lugas. Rekomendasi ini diharapkan mampu mengubah lanskap tata kota menjadi lebih estetis berbasis kearifan lokal yang kental.

Konsep penataan ini juga diyakini dapat mendongkrak optimisme publik bahwa wacana perubahan nama Kabupaten Ciamis membawa dampak besar. Sektor pariwisata dan ekonomi kreatif berbasis kebudayaan diprediksi akan ikut meroket setelah regulasi disahkan.

Menutup argumen panjangnya, Gardea menambahkan sebuah harapan optimis yang menjadi dambaan kolektif seluruh masyarakat pendidikan di Priangan Timur. Ia sangat berharap setelah proses administrasi perubahan nama Kabupaten Ciamis resmi ketok palu, citra daerah berubah.

Semoga stigma kabupaten pensiunan yang selama ini melekat bisa hilang sepenuhnya dan digantikan semangat modernisasi budaya. Daerah ini harus lahir kembali sebagai pusat peradaban baru yang progresif, mandiri, dan berdaya saing.

Back to top button

Eksplorasi konten lain dari Reportasee.com™

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca