
Derasnya arus modernisasi tak menyurutkan langkah masyarakat adat Kampung Naga, Kabupaten Tasikmalaya, untuk mempertahankan tradisi leluhur.
Di balik rumah-rumah panggung yang tersusun rapi dan lingkungan yang masih alami, tersimpan nilai-nilai adat yang bukan hanya menjadi identitas budaya, tetapi juga terbukti menopang ketahanan pangan serta mendorong tumbuhnya ekonomi kreatif.
Kekuatan nilai adat inilah yang mendorong tim dosen dari Institut Pendidikan Indonesia (IPI) Garut dan Universitas Galuh Ciamis melakukan program pengabdian masyarakat selama empat bulan, mulai Juli hingga Oktober 2025.
Tim yang dipimpin oleh Prima Melati ini melakukan observasi, wawancara, hingga sosialisasi kepada warga, dengan fokus pada dua hal utama: penguatan sistem pangan tradisional melalui leuit (lumbung padi) dan pengembangan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokalJurnal Kampung Naga.
Dalam penelitian ini, leuit kembali ditegaskan sebagai pilar ketahanan pangan Kampung Naga. Setiap keluarga menyimpan 200–300 ikat padi hasil panen, yang cukup memenuhi kebutuhan selama 8 hingga 10 bulan.
“Bagi masyarakat Kampung Naga, padi bukan hanya makanan pokok. Ia adalah amanah leluhur yang harus dijaga. Menyimpan padi di leuit berarti menjaga kedaulatan pangan sekaligus merawat identitas budaya,” tutur Prima Melati, peneliti utama.
Menurutnya, tradisi leuit menunjukkan bahwa masyarakat adat memiliki sistem pangan yang lebih tahan terhadap krisis.
“Mereka tidak bergantung pada pasokan dari luar. Saat musim paceklik, cadangan padi di leuit membuat mereka tetap tenang. Ini adalah bentuk kearifan lokal yang sangat relevan dengan konsep ketahanan pangan modern,” jelasnya.



Tak hanya soal pangan, Kampung Naga juga menunjukkan daya adaptasi dalam bidang ekonomi. Sekitar 40 persen keluarga kini terlibat dalam kegiatan ekonomi kreatif.
- Kerajinan bambu menjadi sektor terbesar, digeluti oleh 20% keluarga, menghasilkan tikar, peralatan rumah tangga, hingga cenderamata untuk wisatawan.
- Produk batok kelapa dikembangkan oleh 10% keluarga, menghasilkan mangkuk, gelas, dan hiasan artistik yang ramah lingkungan.
- Kuliner tradisional seperti wajit, rengginang, dan keripik singkong dikelola oleh 10% keluarga, dipasarkan langsung kepada wisatawan maupun melalui pemesanan via WhatsApp.
Menurut Prima, aktivitas ini bukan sekadar sumber penghasilan tambahan—dengan rata-rata Rp300 ribu hingga Rp900 ribu per bulan—tetapi juga menjadi sarana melestarikan tradisi.
“Setiap kerajinan dan makanan tradisional membawa cerita leluhur. Dengan mengembangkannya, masyarakat tidak hanya mendapat manfaat ekonomi, tetapi juga memperkuat identitas budaya,” katanya.
Meski infrastruktur listrik dan akses digital terbatas, masyarakat Kampung Naga tidak menolak teknologi. Mereka justru melakukan adaptasi selektif.
“Warga menggunakan WhatsApp untuk menerima pesanan produk kerajinan maupun kuliner. Cara sederhana ini efektif dan tidak bertentangan dengan nilai adat yang menjunjung kesederhanaan,” ungkap Prima.
Menurutnya, pendekatan ini membuktikan bahwa teknologi bisa disaring agar tetap selaras dengan norma lokal, tanpa menghilangkan jati diri masyarakat adat.
Program pengabdian masyarakat ini mendapat dukungan Kemendikbudristek melalui program Saintek.
Kehadiran tim peneliti disambut hangat oleh tokoh adat, pengrajin, hingga generasi muda Kampung Naga.
Prima menegaskan bahwa keberhasilan program bukan hanya terletak pada hasil riset, tetapi juga pada keterlibatan langsung masyarakat.
“Kami belajar banyak dari kearifan warga, dan pada saat yang sama membantu mereka mengoptimalkan potensi yang sudah ada. Kolaborasi ini menjadi bukti bahwa tradisi bisa berjalan seiring dengan inovasi,” tuturnya.
Dari hasil pendampingan, terlihat perubahan sikap terutama di kalangan generasi muda.
Jika sebelumnya sebagian cenderung menjual padi untuk kebutuhan cepat, kini mereka mulai menyadari pentingnya menyimpan padi di leuit.
Mereka juga lebih termotivasi untuk mengembangkan usaha kreatif dengan memperhatikan kualitas dan kemasan produk.
“Tradisi bukanlah beban, melainkan modal sosial. Dengan menjadikan nilai adat sebagai fondasi, masyarakat Kampung Naga mampu menghadapi modernisasi tanpa kehilangan jati dirinya,” kata Prima Melati.
Prima menambahkan, kKegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dapat terlaksana berkat dukungan pendanaan dari hibah Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian Masyarakat (DRTPM) Tahun Anggaran 2025.
Pihaknya menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kepercayaan dan dukungan yang diberikan, sehingga kegiatan ini dapat berjalan dengan baik serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Selain itu, ucapan terima kasih juga Prima sampaikan kepada Ketua Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat (LPM) dan Rektor Institut Pendidikan Indonesia (IPI) atas izin, dukungan, serta fasilitas yang telah diberikan sehingga seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan dengan lancar.
Apresiasi yang mendalam Prima tujukan kepada tokoh adat dan seluruh masyarakat Kampung Naga yang telah menerima tim dengan penuh keterbukaan, serta bersedia berbagi pengetahuan dan pengalaman berharga terkait praktik adat, ketahanan pangan, dan pengembangan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal.
Tidak lupa, penghargaan tulus Prima sampaikan kepada tim dosen pengabdian yang telah bekerja sama dengan penuh dedikasi, mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, hingga penyusunan laporan akhir.
Berkat kerja keras dan kolaborasi tersebut, kegiatan ini dapat memberikan hasil yang bermanfaat, baik bagi masyarakat maupun bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan dunia akademik.





