
Tragedi mengerikan mengguncang Haiti pada akhir pekan lalu ketika hampir 200 orang kehilangan nyawa dalam pembantaian brutal yang menargetkan para praktisi Voodoo.
Insiden ini terjadi di Cite Soleil, sebuah wilayah miskin di pesisir barat ibu kota Port-au-Prince, dan dilaporkan dipicu oleh keyakinan seorang pemimpin geng kuat bahwa pengikut Voodoo telah mengutuk putranya dengan penyakit.
Motif Kejam di Balik Pembantaian
Menurut Komite Perdamaian dan Pembangunan (CPD), seorang pemimpin geng yang merasa putranya menderita akibat kutukan Voodoo memutuskan untuk melakukan pembalasan brutal.
“Ia memutuskan untuk menghukum semua orang tua dan praktisi Voodoo yang, dalam imajinasinya, mampu mengirimkan kutukan buruk kepada putranya,” ungkap CPD dalam sebuah pernyataan.
Laporan dari saksi mata menggambarkan kekejaman yang tak terbayangkan. Anggota geng menyeret korban dari rumah mereka dan membawanya ke markas untuk dieksekusi.
Beberapa jasad dimutilasi dan dibakar di jalan, membuat keluarga korban bahkan tidak dapat memakamkan mereka dengan layak.
Salah seorang warga yang kehilangan ayahnya, seorang pria berusia 76 tahun, mengungkapkan bahwa jenazah ayahnya dibakar hingga tidak dapat ditemukan.
Respon Nasional dan Internasional
Tragedi ini menuai kecaman keras dari pemerintah Haiti dan komunitas internasional.
Perdana Menteri Alix Didier Fils-Aime menyebut kekerasan tersebut sebagai “kekejaman yang tak tertahankan” dan “serangan langsung terhadap kemanusiaan.”
Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, turut mengecam insiden ini dan menyerukan penyelidikan menyeluruh serta tindakan tegas terhadap para pelaku.
Menurut juru bicara PBB, sedikitnya 184 orang tewas, termasuk 127 pria dan wanita tua. Banyak dari korban adalah anggota komunitas Voodoo yang telah lama menjadi bagian dari budaya Haiti.
Voodoo, yang diakui sebagai agama resmi Haiti pada 2003, memiliki akar mendalam di negara tersebut tetapi kerap menjadi sasaran serangan dan stigma.
Konteks Kekerasan yang Lebih Luas
Kejadian ini merupakan salah satu puncak dari krisis kekerasan yang terus meningkat di Haiti.
Sejak Februari, geng-geng bersenjata telah menguasai sekitar 80 persen Port-au-Prince, memicu ketidakstabilan besar-besaran.
Serangan ini menambah daftar panjang kekejaman yang telah menyebabkan lebih dari 5.000 korban jiwa tahun ini, menurut data PBB.
Meski ada misi dukungan keamanan yang dipimpin Kenya dengan dukungan Amerika Serikat dan PBB, situasi di Haiti tetap memburuk.
Lebih dari 700 ribu orang, setengahnya anak-anak, telah mengungsi akibat kekerasan ini.
CPD mencatat bahwa wilayah-wilayah terdampak, seperti Wharf Jeremie di Cite Soleil, kini hampir tidak dapat diakses, membuat jumlah korban sebenarnya sulit dipastikan.
Seruan untuk Keadilan
PBB dan komunitas internasional mendesak otoritas Haiti untuk segera menyelidiki tragedi ini dan memperkuat perlindungan bagi warga sipil.
Namun, dengan kendali geng yang begitu besar dan lemahnya otoritas pemerintah, masa depan stabilitas Haiti masih sangat suram.
Kejadian ini tidak hanya mencerminkan kekerasan fisik, tetapi juga konflik mendalam dalam masyarakat Haiti yang telah lama dihantui oleh ketidakstabilan politik, kemiskinan ekstrem, dan diskriminasi agama.
Tragedi ini menjadi pengingat pahit tentang perlunya tindakan global yang lebih konkret untuk memulihkan kedamaian di negara yang sedang berjuang ini.





