
Pemerintah Kabupaten Ciamis terus memperkuat upaya percepatan penurunan stunting melalui pemanfaatan teknologi digital dalam layanan kesehatan ibu dan anak.
Salah satu langkah strategis yang kini diterapkan adalah pemantauan status gizi dan imunisasi bayi serta balita berbasis aplikasi, yang memungkinkan data kesehatan dipantau secara berkala, akurat, dan terintegrasi.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Ciamis, dr. Eni Rochaeni, menjelaskan bahwa seluruh puskesmas di Kabupaten Ciamis saat ini telah memiliki pengelola program gizi dan pengelola imunisasi.
Keberadaan petugas khusus ini bertujuan memastikan seluruh bayi dan balita mendapatkan layanan kesehatan yang optimal serta tercatat secara sistematis.
Dalam pelaksanaannya, pemantauan tumbuh kembang bayi dan balita dilakukan melalui aplikasi SGizi.
Aplikasi ini digunakan untuk mencatat dan melaporkan perkembangan status gizi anak secara rutin, sehingga potensi gangguan pertumbuhan, termasuk stunting, dapat terdeteksi sejak dini.
Sementara itu, pemantauan cakupan imunisasi dilakukan melalui aplikasi ASIK, yang memungkinkan tenaga kesehatan dan pemangku kebijakan memantau kelengkapan imunisasi anak secara real time.
“Setiap bulan, seluruh layanan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), gizi, dan imunisasi dilaporkan secara berkala kepada Kementerian Kesehatan melalui aplikasi tersebut,” ujar dr. Eni.
Dengan sistem pelaporan digital ini, pemerintah daerah dapat melakukan evaluasi program secara lebih cepat dan tepat sasaran.
Digitalisasi layanan kesehatan ini menjadi bagian dari strategi besar Kabupaten Ciamis dalam menurunkan angka stunting.
Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), prevalensi stunting di Kabupaten Ciamis pada tahun 2023 tercatat sebesar 25,45 persen dan mengalami penurunan menjadi 20,3 persen pada tahun 2024.
Sementara pada tahun 2025, meskipun tidak dilakukan survei SSGI, hasil Bulan Penimbangan Balita (BPB) menunjukkan prevalensi stunting sebesar 4,39 persen.
Data tersebut menjadi indikator awal keberhasilan berbagai program intervensi, termasuk penguatan sistem pemantauan berbasis aplikasi.
Selain memudahkan pencatatan dan pelaporan, sistem digital juga memperkuat koordinasi lintas sektor.
Dinas Kesehatan bekerja sama dengan Tim Percepatan Pencegahan dan Penurunan Stunting (TP3S), TP Posyandu Kabupaten Ciamis, serta 27 Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang berperan sebagai Bapak dan Ibu Asuh di seluruh wilayah.
Pemantauan dan evaluasi program dilakukan secara rutin untuk memastikan setiap kasus tertangani dengan baik.
Meski demikian, dr. Eni menegaskan bahwa pemanfaatan teknologi harus diiringi dengan partisipasi aktif masyarakat, khususnya para orang tua.
Ia mengimbau agar ibu yang memiliki bayi dan balita rutin datang ke posyandu setiap bulan, sehingga data pertumbuhan dan imunisasi anak dapat tercatat dengan lengkap dalam sistem.
“Teknologi sudah kami siapkan, tetapi keberhasilannya sangat bergantung pada keterlibatan keluarga. Dengan rutin ke posyandu, tumbuh kembang anak bisa dipantau secara optimal dan intervensi dapat segera dilakukan jika ditemukan masalah,” jelasnya.
Ke depan, Pemerintah Kabupaten Ciamis berharap sistem pemantauan berbasis aplikasi ini dapat semakin meningkatkan kualitas layanan kesehatan anak, mempercepat penurunan stunting, serta menjadi fondasi dalam mewujudkan generasi Ciamis yang sehat, cerdas, dan berdaya saing.





