Berita

Prevalensi Stunting di Ciamis Terus Menurun, BPB 2025 Catat Angka 4,39 Persen

Advertisements

Kabupaten Ciamis mencatat tren positif dalam upaya percepatan penurunan stunting. Berdasarkan hasil Bulan Penimbangan Balita (BPB) tahun 2025, prevalensi stunting di wilayah ini tercatat sebesar 4,39 persen.

Angka tersebut menunjukkan penurunan signifikan dibandingkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) pada tahun-tahun sebelumnya.

Data SSGI mencatat prevalensi stunting di Kabupaten Ciamis pada tahun 2023 sebesar 25,45 persen, kemudian turun menjadi 20,3 persen pada tahun 2024.

Meski pada tahun 2025 tidak dilakukan pengukuran melalui SSGI, hasil BPB menjadi indikator penting yang menunjukkan adanya perbaikan status gizi anak secara berkelanjutan.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Ciamis, dr. Eni Rochaeni, menjelaskan bahwa penurunan tersebut tidak terjadi secara instan, melainkan merupakan hasil dari berbagai intervensi yang dilakukan secara terencana dan berkesinambungan.

Tidak hanya stunting, kasus wasting dan overweight pada anak juga menunjukkan tren penurunan.

Menurut dr. Eni, keberhasilan ini tidak terlepas dari kolaborasi lintas sektor yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan.

Seluruh wilayah di Kabupaten Ciamis telah memiliki Bapak dan Ibu Asuh yang berasal dari 27 Organisasi Perangkat Daerah (OPD).

Program tersebut secara rutin dimonitor dan dievaluasi oleh Tim Percepatan Pencegahan dan Penurunan Stunting (TP3S) bersama TP Posyandu Kabupaten Ciamis, sehingga pendampingan terhadap keluarga sasaran dapat berjalan optimal.

Selain menangani kasus stunting dan gizi buruk, Dinas Kesehatan juga memberikan perhatian serius pada ibu hamil dengan Kekurangan Energi Kronis (KEK) dan ibu hamil anemia, yang selama ini menjadi faktor risiko utama terjadinya stunting pada bayi.

Baca Juga :  Bupati Herdiat Sunarya Lepas Tim Voli Putra Ciamis PORNAS XVII untuk Bertanding di Palembang

Dr. Eni mengungkapkan, penyebab utama stunting masih berkaitan dengan kurangnya asupan gizi yang memadai pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yakni sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun.

Rendahnya konsumsi protein hewani, kondisi ibu hamil yang mengalami KEK dan anemia, pola asuh yang belum optimal, minimnya variasi makanan, serta sanitasi lingkungan yang kurang baik menjadi faktor dominan.

Untuk memastikan penurunan stunting berjalan berkelanjutan, Pemerintah Kabupaten Ciamis melakukan pendekatan menyeluruh terhadap seluruh kelompok sasaran.

Pada kelompok remaja, misalnya, diterapkan program Sikeren Halo Cinta (Sistem Informasi Kesehatan Remaja Halo Cinta) yang memungkinkan skrining kesehatan dan pemantauan status gizi secara digital.

Advertisements

Selain itu, terdapat program Si Ratu Manis, yakni gerakan minum Tablet Tambah Darah (TTD) setiap hari Rabu bagi remaja puteri untuk mencegah anemia.

Sementara itu, bagi calon pengantin, dilakukan skrining kesehatan yang dilaporkan melalui aplikasi Elsimil, disertai pemeriksaan dan konseling sebagai langkah pencegahan stunting sejak sebelum kehamilan.

Pada kelompok ibu hamil, bayi, dan balita, Dinas Kesehatan menginisiasi program GeMil Ci Bucin (Gerakan Miliaran Cinta menuju Bayi, Balita, dan Bumil Sehat, Bahagia, Penuh Cinta).

Program ini melibatkan berbagai pihak, mulai dari TP3S, TP Posyandu, TP PKK, Bank BJB, GOW, Baznas, hingga perguruan tinggi seperti Universitas Galuh Ciamis dan STIKes Muhammadiyah Ciamis.

Baca Juga :  Legalitas Sudah Kantongi, Koperasi Merah Putih di Banjar Masih Belum Beroperasi

Dalam mendukung pemenuhan gizi, seluruh OPD terkait turut bergerak sesuai peran masing-masing.

Salah satu bentuk nyata adalah program Celengan Hati Bucin, di mana aparatur sipil negara secara gotong royong memberikan bantuan makanan bergizi kepada ibu hamil KEK dan ibu hamil anemia.

Di tingkat pelayanan kesehatan, setiap puskesmas di Kabupaten Ciamis telah memiliki pengelola program gizi dan imunisasi.

Pemantauan tumbuh kembang bayi dan balita dilakukan melalui aplikasi SGizi, sementara pemantauan imunisasi menggunakan aplikasi ASIK.

Seluruh data pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), gizi, dan imunisasi dilaporkan secara rutin setiap bulan kepada Kementerian Kesehatan.

Meski capaian penurunan stunting menunjukkan hasil menggembirakan, dr. Eni menegaskan bahwa Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) masih menjadi tantangan utama.

Perubahan perilaku harus dimulai dari kesadaran individu dan keluarga agar derajat kesehatan masyarakat dapat meningkat secara berkelanjutan.

Ia juga mengingatkan bahwa masih terdapat keluarga berisiko melahirkan bayi stunting akibat keterbatasan akses terhadap makanan dengan kandungan protein hewani, serta masih ditemukannya calon pengantin dan ibu hamil yang mengalami anemia dan KEK.

Melalui berbagai upaya tersebut, Pemerintah Kabupaten Ciamis optimistis penurunan prevalensi stunting dapat terus dipertahankan.

“Dengan kolaborasi semua pihak dan kesadaran masyarakat untuk hidup sehat, target generasi Ciamis yang sehat dan berkualitas dapat tercapai,” pungkas dr. Eni Rochaeni.

Advertisements

Back to top button

Eksplorasi konten lain dari Reportasee.com™

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker