
Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) mengungkap temuan mengejutkan yang menambah daftar panjang misteri tata surya.
Berdasarkan hasil analisis data dari pesawat ruang angkasa MESSENGER, para ilmuwan memperkirakan keberadaan lapisan berlian raksasa dengan ketebalan mencapai 16 kilometer di bawah kerak planet Merkurius.
Penemuan ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah bergengsi Nature Communications pada 14 Juni 2024, dan menjadi salah satu temuan paling menarik dalam studi geologi planet.
Seperti dilaporkan Space, Kamis (14/8/2025), lapisan berlian tersebut diyakini terletak di batas antara mantel dan inti Merkurius—planet terkecil sekaligus terdekat dari Matahari.
Selama puluhan tahun, Merkurius telah menjadi teka-teki besar bagi para ilmuwan. Planet ini memiliki ciri unik: permukaan gelap, inti sangat padat, dan aktivitas vulkanik yang berakhir jauh lebih cepat dibanding planet lain.
Salah satu petunjuk yang paling menarik adalah keberadaan bercak grafit di permukaannya. Para peneliti menduga bercak ini merupakan sisa dari lautan magma purba yang kaya karbon.
Magma tersebut kemungkinan naik ke permukaan pada masa awal terbentuknya Merkurius, menghasilkan bercak-bercak gelap dan lapisan karbon di bawah permukaan.
Namun, penelitian terbaru mengubah asumsi lama. Tim ilmuwan yang dipimpin oleh Olivier Namur, profesor madya di KU Leuven, Belgia, menemukan bahwa karbon yang tersimpan di bawah permukaan Merkurius kemungkinan besar bukan berbentuk grafit, melainkan berlian.
“Kami menghitung bahwa dengan memperkirakan tekanan di batas mantel-inti dan mengingat Merkurius adalah planet kaya karbon, mineral pembawa karbon yang terbentuk di sana adalah berlian, bukan grafit,” ujar Namur.
Temuan ini tidak mungkin tercapai tanpa data dari MESSENGER (Mercury Surface, Space Environment, Geochemistry, and Ranging), pesawat ruang angkasa NASA yang diluncurkan pada Agustus 2004.
MESSENGER menjadi wahana pertama yang mengorbit Merkurius dan bertugas memetakan serta mempelajari geologi, medan magnet, dan komposisi planet tersebut.
Misi yang berakhir pada 2015 itu meninggalkan warisan data geofisika berharga. Informasi ini kemudian digunakan untuk membangun model komputer yang memprediksi kondisi ekstrem di dalam Merkurius.
Untuk membuktikan hipotesis mereka, para peneliti menggunakan mesin pres berkapasitas besar yang mampu meniru kondisi di bagian dalam Merkurius.
Tekanan yang diterapkan mencapai lebih dari 7 gigapascal, dengan suhu ekstrem hingga 2.177 derajat Celsius.
Melalui simulasi ini, mereka mempelajari bagaimana mineral di mantel Merkurius bereaksi. Hasilnya menguatkan dugaan bahwa berlian dapat terbentuk di bawah tekanan dan panas sebesar itu.
Namur menjelaskan bahwa pembentukan berlian di Merkurius kemungkinan melalui dua mekanisme:
- Kristalisasi lautan magma, yang menghasilkan lapisan berlian tipis di batas mantel-inti.
- Kristalisasi inti logam, yang menjadi proses utama pembentukan lapisan berlian tebal.
Sekitar 4,5 miliar tahun lalu, inti Merkurius berada dalam keadaan cair sepenuhnya. Seiring waktu, inti ini mulai mengkristal.
Kristalisasi tersebut membuat karbon terkonsentrasi di sisa lelehan hingga melewati ambang kelarutan, memicu pembentukan kristal berlian dalam jumlah masif.
“Ketika inti padat yang miskin karbon mulai terbentuk, karbon di cairan inti menjadi semakin kaya. Pada titik tertentu, karbon tidak lagi bisa larut, dan pada kondisi itu berlian terbentuk,” tegas Namur.
Meskipun temuan ini memukau, para ilmuwan menegaskan bahwa lapisan berlian Merkurius masih menjadi objek penelitian murni, bukan target eksploitasi.
Jarak yang ekstrem dan kondisi lingkungan yang sangat keras membuat kemungkinan penambangan berlian di planet ini hampir mustahil dalam waktu dekat.
Temuan ini menjadi langkah penting dalam memahami evolusi planet berbatu di tata surya, sekaligus mengungkap bahwa benda-benda langit terdekat kita masih menyimpan kejutan besar.





