Berita

Menelusuri Jejak Kejayaan Tatar Galuh di Museum Galuh Pakuan; Simbol Identitas dan Kebanggaan Masyarakat Ciamis

Di tengah modernisasi Kabupaten Ciamis, berdiri sebuah bangunan yang menjadi saksi bisu perjalanan panjang peradaban Sunda di Jawa Barat.

Museum Galuh Pakuan, atau yang secara historis dikenal sebagai Keraton Selagangga, bukan sekadar gedung penyimpanan barang antik.

Ia adalah episentrum memori kolektif masyarakat Galuh yang merangkum masa prasejarah, kejayaan kerajaan Hindu-Buddha, hingga transisi menuju masa kolonial dan kemerdekaan.

Terletak di Jalan K.H. Ahmad Dahlan No. 40, Lingkungan Selagangga, Kecamatan Ciamis, museum ini menjadi jujukan utama bagi para peneliti, akademisi, dan pelancong yang ingin menyelami akar filosofis “Kagaluhan.

Sebagai salah satu dari lima museum yang baru saja mengantongi Nomor Pendaftaran Nasional Museum (NPNM) dari Kementerian Kebudayaan, Museum Galuh Pakuan kini menatap masa depan dengan standar pengelolaan yang lebih profesional dan diakui secara nasional.

Akar Historis: Dari Kediaman Bupati ke Ruang Publik

Keberadaan Museum Galuh Pakuan tidak bisa dilepaskan dari sosok Raden Adipati Aria (RAA) Koesoemadiningrat, Bupati Galuh yang memerintah antara tahun 1839 hingga 1886.

Bangunan yang kini menjadi museum ini dulunya merupakan kediaman pribadi sang bupati yang disebut sebagai Keraton Selagangga.

Berdasarkan catatan sejarah dan tulisan ilmiah, RAA Koesoemadiningrat adalah sosok visioner yang sangat peduli terhadap pelestarian artefak.

Ia mengumpulkan berbagai peninggalan dari pelosok wilayah Galuh untuk diselamatkan.

Setelah wafat, rumah ini tetap dijaga oleh keturunannya hingga akhirnya diresmikan sebagai museum pada 18 Juli 2010 oleh Wakil Gubernur Jawa Barat saat itu, Dede Yusuf.

Transformasi Keraton Selagangga

Sebagai situs cagar budaya, Keraton Selagangga memiliki arsitektur yang unik, memadukan gaya tradisional Sunda dengan sentuhan kolonial abad ke-19.

Struktur bangunannya mencerminkan strata sosial dan kearifan lokal dalam menata ruang.

Transformasi dari rumah hunian menjadi museum dilakukan tanpa mengubah struktur aslinya, sehingga pengunjung dapat merasakan atmosfer “keraton” yang kental saat memasuki area pameran.

Koleksi Utama: Melintasi Tiga Zaman

Museum Galuh Pakuan menyimpan lebih dari 200 benda koleksi yang dikategorikan dalam 24 jenis menurut fungsinya. Koleksi-koleksi ini dibagi menjadi tiga lapisan masa yang sangat penting:

A. Masa Megalitikum dan Hindu-Buddha

Di halaman dan ruang transisi, pengunjung dapat menemukan artefak dari masa prasejarah.

  • Arca Ganesha dan Nandi: Simbol pengaruh Hindu yang kuat di Tatar Galuh. Arca-arca ini ditemukan di wilayah Cipaku dan dikumpulkan oleh para leluhur untuk diselamatkan.
  • Menhir dan Dolmen: Batu-batu pemujaan dari masa Megalitikum yang menunjukkan bahwa wilayah Ciamis telah menjadi pusat peradaban spiritual sejak ribuan tahun lalu.
  • Batu Lumping dan Prasasti: Fragmen komunikasi masa lalu yang hingga kini masih menjadi objek penelitian epigraf dan arkeolog.
Baca Juga :  Ciamis Raih Penghargaan WTN 2024, Kadishub: "Ini Berkat Kerja Keras Semua Pihak"

B. Masa Kerajaan Galuh

Ini adalah “jantung” dari koleksi museum. Benda-benda di sini mencerminkan otoritas dan kedaulatan Kerajaan Galuh.

  • Tombak Raja dan Keris: Senjata-senjata pusaka yang memiliki ornamen falsafah “Kembang Cakra”, melambangkan harmoni antara pemimpin dan rakyatnya.
  • Gong Keramat: Alat musik sekaligus instrumen komunikasi massa pada zamannya. Beberapa gong dipercaya memiliki nilai sakral yang tinggi.

C. Masa Kanjeng Prebu (Kolonial)

Koleksi ini didominasi oleh peninggalan pribadi RAA Koesoemadiningrat dan keluarganya.

  • Perkakas Kedinasan: Perlengkapan rumah tangga hingga alat tulis yang digunakan bupati saat menjalankan roda pemerintahan.
  • Senjata Rampasan: Salah satu koleksi yang mencuri perhatian adalah meriam kecil yang konon merupakan rampasan dari kapal Portugis, menandakan interaksi wilayah Galuh dengan kekuatan asing di masa lampau.

Tradisi Jamasan Pusaka: Merawat Nilai, Bukan Sekadar Benda

Salah satu keunikan Museum Galuh Pakuan adalah keterikatannya dengan tradisi yang masih hidup. Setiap bulan Maulid (Rabiul Awwal), pihak museum menyelenggarakan upacara Jamasan Pusaka.

Menurut penelitian dari Universitas Siliwangi (2024), Jamasan bukan sekadar ritual pembersihan karat pada besi, melainkan simbol “penyucian diri” atau refleksi batin.

Prosesi ini melibatkan tata cara khusus, seperti penggunaan air dari tujuh sumur mata air keramat dan pemilihan hari antara Senin atau Kamis.

Upacara ini menjadi daya tarik wisata budaya (cultural tourism) yang mempertemukan unsur sejarah, religi, dan mistis dalam satu harmoni.

Peran Strategis dalam Pendidikan Sejarah

Dalam tinjauan pedagogis, Museum Galuh Pakuan telah bertransformasi menjadi laboratorium sejarah bagi para pelajar di Jawa Barat.

Beberapa skripsi dan jurnal penelitian (seperti dalam Prosiding Nasional Sejarah Indonesia) menyoroti pemanfaatan museum ini sebagai sumber belajar sejarah lokal.

Baca Juga :  Atap Rumah di Ciamis Rusak Tertimpa Pohon Waru, Kerugian Capai Rp5 Juta

Guru-guru sejarah di SMK dan SMA sering menggunakan museum Galuh Pakuan ini untuk mematahkan stigma bahwa belajar sejarah itu membosankan.

Dengan melihat langsung tombak raja atau arca kuno, siswa mendapatkan pengalaman sensorik yang memperkuat pemahaman mereka terhadap materi di buku teks.

Inovasi Virtual Reality (VR)

Menariknya, para peneliti juga telah mengembangkan aplikasi Virtual Reality (VR) Museum Galuh Pakuan.

Teknologi ini memungkinkan orang dari seluruh penjuru dunia untuk “masuk” dan melihat koleksi museum secara 360 derajat.

Langkah modernisasi ini sangat penting mengingat lokasi museum yang berada di jalur pemukiman (gang), sehingga aksesibilitas fisik terkadang menjadi kendala.

Tantangan dan Harapan di Era NPNM

Dengan dikantonginya NPNM pada Februari 2026, Museum Galuh Pakuan kini memiliki posisi tawar yang lebih kuat. Namun, beberapa tantangan tetap membayangi, di antaranya:

  • Konservasi Ahli: Kebutuhan akan tenaga kurator profesional yang mampu merawat koleksi kain dan logam dengan teknik modern agar tidak mudah korosi.
  • Literasi Publik: Masih banyak masyarakat lokal yang belum mengetahui kekayaan yang tersimpan di dalam museum ini.
  • Pengembangan Fasilitas: Renovasi ruang pamer agar lebih interaktif dan ramah disabilitas.

Kepala Museum, Ruyat Sudrajat, yang juga merupakan keturunan langsung dari trah Galuh, terus berkomitmen untuk menjaga museum ini sebagai “rumah” bagi identitas Sunda.

“Benda-benda di sini bukan sekadar pajangan, mereka adalah guru yang bercerita tentang siapa kita di masa lalu agar kita tahu ke mana harus melangkah di masa depan,” tuturnya dalam sebuah sesi wawancara.

Mengapa Anda Harus Berkunjung?

Museum Galuh Pakuan adalah jembatan waktu. Berkunjung ke sini memberikan perspektif baru tentang Ciamis—bahwa daerah ini bukan sekadar kabupaten di perlintasan Jawa Barat bagian selatan, melainkan rahim dari peradaban besar bernama Galuh.

Bagi Anda yang menyukai sejarah, fotografi arsitektur, atau sekadar ingin mencari ketenangan di tengah hiruk-pikuk kota,

Keraton Selagangga menawarkan atmosfer yang berbeda. Suasana asri, pepohonan waregu yang rimbun, dan koleksi batu-batu megalitik akan membawa Anda pada kontemplasi mendalam tentang keberlangsungan budaya manusia.

Back to top button

Eksplorasi konten lain dari Reportasee.com™

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca