
Ketersediaan tenaga medis di Kabupaten Ciamis menunjukkan perkembangan positif dalam beberapa tahun terakhir.
Jumlah dokter spesialis yang bertugas di berbagai rumah sakit pemerintah dan swasta kini dinilai sudah memadai untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat.
Namun, di balik pencapaian itu, Kabupaten Ciamis masih menghadapi tantangan besar: minimnya dokter sub-spesialis di sejumlah fasilitas kesehatan.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Ciamis, dr. H. Rizali Sofyan, M.M., melalui Kepala Bidang Sumber Daya Kesehatan (SDK), Iwan Deniawan, HA, MK, S.KM, membenarkan hal itu.
Iwan mengungkapkan bahwa saat ini terdapat 75 dokter spesialis yang aktif memberikan pelayanan di rumah sakit daerah maupun swasta.
Jumlah tersebut dianggap cukup untuk menanggung beban layanan masyarakat di wilayah Ciamis.
“Jumlah dokter spesialis yang ada saat ini sebanyak 75 orang. Secara umum, kebutuhan untuk layanan kesehatan masyarakat sudah terpenuhi,” ujar Iwan Deniawan.
Meski demikian, menurut Iwan, ketersediaan dokter sub-spesialis masih jauh dari harapan.
Rumah sakit, baik milik pemerintah maupun swasta, masih kesulitan mendapatkan tenaga medis dengan keahlian lebih mendalam di bidang tertentu.
“Kita masih membutuhkan dokter sub-spesialis, terutama untuk kelompok penyakit KJSU, yaitu Kanker, Jantung, Stroke, dan Uronefrologi,” jelasnya.
Kelompok penyakit KJSU dikenal sebagai jenis penyakit dengan tingkat kompleksitas tinggi dan membutuhkan penanganan lanjutan oleh tenaga medis dengan keahlian khusus.
Minimnya dokter sub-spesialis membuat beberapa pasien dengan penyakit berat terkadang harus dirujuk ke rumah sakit di luar daerah, seperti Tasikmalaya atau Bandung.
Kondisi ini menjadi perhatian serius Dinas Kesehatan Ciamis. Iwan menjelaskan bahwa pemerintah daerah tengah berupaya mencari solusi jangka panjang untuk memperkuat ketersediaan tenaga medis di wilayahnya, termasuk dalam hal pendidikan dan distribusi tenaga dokter.
Salah satu langkah yang kini tengah dijalankan adalah program Bantuan Pendidikan Dokter bagi puskesmas yang memiliki dua dokter berstatus Aparatur Sipil Negara (ASN).
Program ini diharapkan dapat menjadi jalan bagi peningkatan kompetensi tenaga medis di tingkat layanan primer.
“Kami sedang mengupayakan pemenuhan kebutuhan dokter spesialis dan sub-spesialis melalui program Bantuan Pendidikan Dokter, terutama di puskesmas yang memiliki dua dokter ASN,” kata Iwan.
Ia menambahkan, puskesmas memiliki peran strategis sebagai Pusat Kesehatan Keluarga Layanan Primer (KKLP).
Karena itu, keberadaan dokter dengan kompetensi khusus di fasilitas kesehatan tingkat pertama menjadi penting untuk mempercepat penanganan penyakit dan mencegah rujukan berlebihan ke rumah sakit besar.
Selain itu, Dinas Kesehatan Ciamis juga terus mendorong kerja sama dengan berbagai institusi pendidikan kedokteran dan lembaga terkait untuk memperkuat sistem pendidikan dan distribusi tenaga dokter.
Langkah kolaboratif ini diharapkan dapat memperkecil kesenjangan tenaga medis antara rumah sakit dan puskesmas, serta antara spesialis dan sub-spesialis.
Upaya pemenuhan tenaga dokter sub-spesialis ini menjadi bagian dari komitmen pemerintah daerah dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan masyarakat Ciamis secara menyeluruh.
Dengan terpenuhinya kebutuhan dokter spesialis dan sub-spesialis, masyarakat diharapkan bisa mendapatkan akses layanan kesehatan yang lebih cepat, efektif, dan merata tanpa harus keluar daerah untuk berobat.





