Berita

Manfaatkan Media Sosial, Pemuda Gen Z Sulap Kebun Semangka Jadi Destinasi Wisata

Di tengah arus urbanisasi yang kian marak, seorang pemuda Gen Z asal Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, memilih jalan berbeda. Akmal Irsyad Salahudin (25), putra sulung dari keluarga pegawai negeri sipil, justru mantap menggeluti dunia pertanian di kampung halamannya, Desa Handapherang, Kecamatan Cijeungjing.

Namun, keputusan Akmal bukan sekadar bertani secara konvensional.

Ia menghadirkan sentuhan baru yang membuat kebunnya tidak hanya menghasilkan panen, tetapi juga menjadi destinasi wisata petik buah semangka yang viral berkat pemanfaatan media sosial.

Di lahan seluas 350 bata (sekitar 0,5 hektare) di belakang rumahnya, Akmal menanam cabai rawit jenis sniper dan semangka kuning varietas Dewangga.

Dari total lahan tersebut, 250 bata ia fokuskan untuk semangka.

Buah berkulit hijau tua dengan daging kuning cemerlang itu menjadi primadona karena teksturnya renyah dan rasanya manis.

Keunikan kebun Akmal terletak pada konsep wisata petik buah. Lewat unggahan sederhana di media sosial dan promosi dari mulut ke mulut, ia mengundang masyarakat untuk datang langsung ke kebunnya.

Pengunjung diberi kesempatan mencicipi potongan semangka sebelum memilih buah terbaik untuk dipetik sendiri.

Setelah ditimbang, semangka dibawa pulang dengan harga Rp9.000 per kilogram. Berat rata-rata per buah berkisar 2 hingga 4 kilogram.

Pada Minggu (24/8/2025), tercatat 30 kali transaksi dengan jumlah pembelian antara 4 hingga 13 kilogram per orang.

Jika dirata-rata satu transaksi diikuti tiga orang, maka ada sekitar 90 pengunjung yang menikmati wisata petik semangka Akmal hari itu.

Model pemasaran berbasis wisata ini terbukti efektif. Akmal mengaku omzet bulanannya mencapai Rp30 juta.

Baca Juga :  Pemdes Didorong Gunakan Alat Berat UPTD Workshop PUPR untuk Tingkatkan PAD

Setelah dipotong biaya produksi dan tenaga kerja sekitar Rp10 juta, ia masih mengantongi keuntungan bersih Rp20 juta per bulan.

“Alhamdulillah, dengan cara seperti ini saya bisa tetap tinggal di desa tanpa harus merantau. Bahkan bisa membuka lapangan kerja untuk tetangga,” ungkap Akmal saat ditemui di kebunnya.

Penghasilan tersebut setara bahkan lebih tinggi dari gaji pejabat eselon III di instansi pemerintah. Tidak heran jika kebun semangka Akmal semakin dikenal sebagai contoh sukses inovasi pertanian desa.

Berawal dari Cabai, Berkembang ke Semangka

Perjalanan Akmal menekuni pertanian dimulai pada akhir 2023. Dengan modal pinjaman Rp15 juta dari sang ayah, seorang penghulu di KUA Cidolog, ia memberanikan diri menanam cabai rawit di lahan 70 bata milik keluarganya.

Keberuntungan berpihak padanya. Saat panen awal 2024, harga cabai rawit melonjak hingga Rp100 ribu per kilogram di pasaran.

Di tingkat petani, harga tembus Rp80 ribu per kilogram. Satu pohon cabai bahkan bisa menghasilkan lebih dari satu kilogram, dengan biaya produksi hanya sekitar Rp10 ribu per pohon.

Keuntungan besar dari panen cabai pertama itu membuat Akmal melunasi pinjaman sekaligus mengembangkan usaha.

Ia menyewa lahan tambahan 250 bata untuk menanam semangka premium varietas Dewangga F1.

Ramai Dikunjungi, Terinspirasi Bendungan Leuwikeris

Panen perdana semangka Akmal bertepatan dengan ramainya wisata Bendungan Leuwikeris yang diresmikan Presiden Joko Widodo pada Agustus 2024.

Melihat banyak wisatawan yang datang, Akmal memanfaatkan momentum itu dengan menawarkan pengalaman memetik semangka langsung dari kebun.

Baca Juga :  Sebanyak 494 Calon Jemaah Haji Ciamis Dilepas Secara Khidmat Menuju Tanah Suci

Respon pengunjung sangat positif. Bahkan, dalam satu hari ia pernah menjual hingga satu ton semangka. “Itu rekor penjualan terbesar,” kenangnya.

Kini, meskipun Bendungan Leuwikeris mulai sepi pengunjung, kebun semangka Akmal tetap ramai.

Pengunjung datang bukan hanya dari Desa Handapherang, tetapi juga dari desa tetangga hingga warga Kota Ciamis.

Salah satunya Astrid, karyawati bank BUMN asal Ciamis, yang datang bersama rekan-rekannya.

“Senang sekali bisa langsung memetik semangka segar. Cuma sayangnya akses jalannya rusak parah,” keluhnya.

Kritik mengenai akses jalan juga datang dari warga. Ketua RW 06 Dusun Cikatomas, Tofan, menyebut ruas jalan desa sepanjang 1,5 kilometer yang menghubungkan Dusun Cikatomas dan Dusun Guha sudah rusak parah selama belasan tahun.

Kondisi ini dikeluhkan warga maupun wisatawan, namun hingga kini belum ada perbaikan berarti.

Meski menghadapi tantangan infrastruktur, Akmal tetap optimistis. Dengan dukungan masyarakat dan promosi lewat media sosial, ia yakin usaha wisata petik semangkanya akan terus berkembang.

Kisah Akmal menjadi contoh nyata bagaimana generasi muda desa mampu berinovasi dengan menggabungkan pertanian tradisional dan strategi pemasaran modern.

Dengan kreativitas dan keberanian mengambil peluang, ia berhasil mengubah kebun sederhana menjadi destinasi wisata yang menggerakkan roda ekonomi lokal.

Lebih dari sekadar keuntungan materi, keberhasilan Akmal memberi pesan penting: bertahan di desa bukan berarti menutup peluang sukses.

Justru, dengan memanfaatkan potensi lokal dan teknologi digital, pertanian bisa menjadi profesi bergengsi yang menjanjikan masa depan cerah.

Back to top button

Eksplorasi konten lain dari Reportasee.com™

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca