Berita

Ketergantungan Gadget Jadi Ancaman Baru Bagi Kesehatan Mental Pelajar di Ciamis

Pemeriksaan kesehatan pelajar di Kabupaten Ciamis mengungkap fakta yang cukup mengkhawatirkan. Lebih dari seratus siswa dari berbagai jenjang pendidikan terdeteksi mengalami depresi ringan, dengan penyebab utama yang mencuat adalah ketergantungan terhadap gadget.

Temuan ini merupakan hasil sementara dari program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang digelar oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Ciamis bersama 37 puskesmas sejak Agustus 2025.

Program tersebut menargetkan pemeriksaan bagi lebih dari 203 ribu peserta didik dari tingkat SD/MI, SMP/MTs, hingga SMA/SMK/Aliyah di seluruh wilayah kabupaten.

Depresi Ringan di Kalangan Pelajar Ciamis

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Ciamis, dr. Hj. Eni Rohaeni, menyampaikan bahwa hasil skrining sementara menunjukkan adanya indikasi depresi ringan pada lebih dari 100 siswa.

Fenomena ini dinilai sebagai sinyal penting bahwa masalah kesehatan mental pada anak dan remaja sudah mulai muncul di lingkungan pendidikan.

“Sebagian besar kasus depresi ringan yang kami temukan disebabkan oleh ketergantungan pada gadget, selain juga faktor lingkungan keluarga,” ujar dr. Eni saat kegiatan Ciamis Beri Kabar (Misbar) di Sekretariat PWI Ciamis, Kamis (16/10/2025).

Menurutnya, penggunaan gawai berlebihan membuat siswa kehilangan keseimbangan antara aktivitas digital dan kehidupan sosial di dunia nyata.

Banyak dari mereka mengalami gangguan tidur, mudah cemas, sulit fokus belajar, hingga menarik diri dari lingkungan sosial.

Program CKG: Upaya Deteksi Dini Kesehatan Fisik dan Mental

Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) ini digagas sebagai bagian dari upaya pencegahan dan deteksi dini berbagai gangguan kesehatan pelajar.

Baca Juga :  Rumah Warga di Margajaya Ciamis Ambruk Dihantam Hujan Deras, BPBD Turun Tangan

Pemeriksaan dilakukan langsung ke sekolah-sekolah oleh tenaga medis dari masing-masing puskesmas, dengan menyesuaikan jenis pemeriksaan berdasarkan usia dan jenjang pendidikan.

Pemeriksaan untuk siswa sekolah dasar (usia 7–12 tahun) mencakup status gizi, kesehatan gigi, telinga, mata, tekanan darah, hingga pemeriksaan kesehatan jiwa.

Sementara untuk siswa tingkat menengah dan atas, pemeriksaan diperluas mencakup skrining kesehatan mental, kebiasaan merokok, aktivitas fisik, serta status gizi dan reproduksi.

Setiap siswa diwajibkan mengisi formulir skrining yang ditandatangani oleh orang tua sebagai bentuk persetujuan, agar hasil pemeriksaan dapat digunakan untuk intervensi lebih lanjut jika ditemukan potensi gangguan kesehatan.

“CKG bukan hanya soal mendeteksi penyakit fisik, tapi juga untuk mengenali faktor risiko kesehatan mental sejak dini. Kami ingin memastikan bahwa anak-anak tumbuh sehat secara menyeluruh,” tambah dr. Eni.

Hasil Sementara: 2.012 Siswa Alami Gangguan Penglihatan, 100 Lebih Alami Depresi

Dari total 165.000 siswa yang telah diperiksa hingga pertengahan Oktober 2025, ditemukan 2.012 siswa mengalami gangguan penglihatan dan lebih dari 100 siswa terindikasi depresi ringan.

Untuk kasus penglihatan, lebih dari 1.000 siswa sudah diintervensi melalui pemasangan kacamata gratis dan pemenuhan gizi yang mendukung kesehatan mata.

Sementara itu, untuk siswa dengan indikasi depresi, Dinkes akan melakukan pendampingan lanjutan bersama sekolah dan keluarga.

Baca Juga :  World Nishikigoi Club Koi Show 2025 Siap Digelar di Hiroshima Jepang

Langkah ini melibatkan konseling, pembinaan perilaku sehat digital, serta edukasi pola hidup seimbang.

Gadget, Sekaligus Teman dan Ancaman

Fenomena ketergantungan gadget di kalangan pelajar memang bukan hal baru. Namun, temuan CKG di Ciamis memperlihatkan bahwa dampaknya kini mulai terukur secara medis.

Banyak siswa yang menggunakan ponsel bukan hanya untuk belajar daring, melainkan juga untuk bermain game, menonton video, atau bersosialisasi di media sosial tanpa batas waktu.

Kondisi tersebut membuat pelajar lebih rentan mengalami stres, gangguan konsentrasi, hingga depresi ringan.

“Jika penggunaan gawai tidak dikendalikan, pelajar bisa kehilangan kemampuan bersosialisasi, bahkan motivasi belajar,” jelas dr. Eni.

Karena itu, ia menekankan pentingnya peran orang tua dalam mengawasi dan membatasi waktu penggunaan gadget anak.

Pengawasan yang konsisten dan komunikasi yang sehat di rumah dinilai mampu mencegah gangguan psikologis sejak dini.

Dr. Eni menegaskan bahwa CKG tidak hanya bertujuan mendata kondisi kesehatan pelajar, tetapi juga menjadi pondasi pembentukan generasi muda yang sehat secara fisik, mental, dan sosial.

Hasil pemeriksaan yang telah terkumpul akan direkap secara menyeluruh pada Desember 2025, dan selanjutnya digunakan untuk rencana intervensi jangka panjang di bidang kesehatan anak dan remaja.

“Kami ingin memastikan seluruh siswa di Ciamis mendapat perhatian kesehatan yang memadai. Baik gangguan penglihatan, gizi, maupun kesehatan mental, semua akan ditindaklanjuti,” tegasnya.

Back to top button

Eksplorasi konten lain dari Reportasee.com™

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca