
Insiden keracunan massal Pamarican yang menimpa ratusan siswa SMP Negeri 4 Pamarican, Desa Sukajadi, pada Senin (29/9/2025) kini memasuki babak baru pasca adanya instruksi tegas dari otoritas daerah.
Sebanyak 47 pelajar dilaporkan mengalami gejala medis serius setelah mengonsumsi paket makanan di sekolah, yang memicu reaksi cepat dari tim medis dan desakan investigasi menyeluruh atas dugaan kelalaian prosedur penyajian.
Ringkasan Berita
Kronologi Kejadian di SMPN 4 Pamarican
Peristiwa memilukan ini bermula saat aktivitas belajar mengajar di SMPN 4 Pamarican berlangsung normal. Sekitar pukul 09.30 WIB, sebanyak 442 siswa mengonsumsi paket makanan berlabel MBG.
Suasana sekolah yang awalnya kondusif mendadak berubah menjadi kepanikan masal sekitar dua jam kemudian.
Satu per satu siswa mulai mengeluhkan mual, pusing, hingga kram perut yang hebat, hingga puluhan pelajar tumbang secara bersamaan di lingkungan sekolah.
Hingga Senin sore, data mencatat total 47 siswa teridentifikasi mengalami gejala keracunan. Kondisi ini memaksa pihak sekolah dan Dinas Kesehatan melakukan mobilisasi cepat.
Dari total korban tersebut, 17 siswa harus mendapatkan perawatan intensif secara terpisah: 13 orang di Puskesmas Pamarican, 2 orang di Puskesmas Banjarsari, dan 2 lainnya dirujuk ke RSUD Kota Banjar guna mendapatkan penanganan medis yang lebih komprehensif.
Respons Tegas Bupati Ciamis dalam Rapat Paripurna
Menanggapi musibah keracunan massal Pamarican ini, Bupati Ciamis, Dr. H. Herdiat Sunarya MM, memberikan pernyataan resmi dalam rapat paripurna di DPRD Ciamis.
Ia menyampaikan rasa keprihatinan yang mendalam atas musibah yang mengganggu proses pendidikan ini dan menekankan bahwa keselamatan siswa adalah prioritas tertinggi yang tidak bisa ditawar.
Herdiat Sunarya menegaskan bahwa peristiwa ini harus menjadi pelajaran pahit sekaligus momentum evaluasi bagi semua pihak, terutama dalam pengawasan standar makanan di sekolah.
“Semoga kasus serupa tidak kembali terulang. Jika terbukti ada unsur kelalaian, terutama dalam proses penyajian atau distribusi makanan, maka pihak terkait harus ditindak tegas,” ungkap Bupati Ciamis dengan nada bicara yang sangat serius.
Setelah menghadiri agenda di DPRD, Herdiat Sunarya langsung meninjau lokasi kejadian di SMPN 4 Pamarican untuk memastikan penanganan para siswa berjalan optimal serta memberikan dukungan moral kepada keluarga korban yang masih merasa cemas.
Protokol Darurat Penanganan Korban Keracunan Massal Pamarican
Dinas Kesehatan Kabupaten Ciamis bergerak cepat dengan mengerahkan sedikitnya 13 unit ambulans serta tim medis dari berbagai puskesmas lintas wilayah.
Untuk mengantisipasi eskalasi pasien, RSUD Ciamis juga telah menyiagakan ruang triase IGD dengan tambahan delapan tempat tidur cadangan serta mengirimkan tim reaksi cepat yang terdiri dari dua dokter dan empat perawat langsung ke titik lokasi.
Kepala Dinas Kesehatan Ciamis, dr. Rizali MM, menjelaskan bahwa pihaknya telah mengamankan sejumlah barang bukti untuk keperluan investigasi ilmiah.
“Petugas sudah mengambil sampel makanan, minuman, hingga sampel feses siswa. Semuanya dibawa ke Laboratorium Kesehatan (Labkes) untuk diperiksa guna mengetahui penyebab pasti di balik keracunan massal Pamarican ini,” jelas dr. Rizali.
Evaluasi Standar Higienisasi Sekolah
Bupati Ciamis juga memerintahkan seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) terkait untuk meningkatkan pengawasan terhadap kantin dan penyedia jasa konsumsi di lingkungan pendidikan.
Menurut Herdiat, Ciamis sebenarnya sudah memiliki satgas khusus yang memantau higienisasi dan sanitasi, namun insiden ini menunjukkan perlunya pengetatan pengawasan di lapangan.
Pemerintah daerah kini tengah merancang langkah-langkah preventif agar keracunan massal Pamarican tidak terulang kembali, antara lain:
- Audit Vendor Pangan: Melakukan pemeriksaan berkala terhadap pihak ketiga yang menyuplai makanan ke institusi pendidikan.
- Sertifikasi Penjamah Makanan: Memastikan setiap pengolah makanan memahami prosedur kebersihan standar (sanitasi).
- Respons Cepat Terintegrasi: Memperkuat koordinasi antara sekolah, puskesmas, dan dinas terkait dalam sistem pelaporan dini kesehatan siswa.
Harapan Pulih dan Sanksi Hukum
Sebanyak 30 siswa yang sempat ditangani di sekolah kini telah diizinkan pulang namun tetap berada dalam pengawasan tim medis secara mandiri.
Pihak sekolah berkomitmen untuk terus mendampingi masa pemulihan para siswa hingga mereka mampu kembali mengikuti kegiatan belajar tanpa gangguan kesehatan.
Di sisi lain, publik kini menanti hasil uji laboratorium kesehatan. Jika terbukti ada unsur kesengajaan atau pengabaian standar keamanan pangan yang fatal, sanksi administratif hingga langkah hukum tetap terbuka lebar.
Bupati Ciamis, Herdiat Sunarya, berjanji akan mengawal kasus ini hingga tuntas demi menjamin keamanan anak-anak di seluruh wilayah Ciamis.
Tragedi keracunan massal Pamarican menjadi pengingat bagi setiap penyelenggara layanan publik bahwa detail terkecil dalam penyajian konsumsi bisa berdampak besar bagi kesehatan masyarakat.
Keselamatan siswa harus menjadi fondasi utama dalam setiap program yang melibatkan distribusi makanan di lingkungan sekolah.





