
Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Ciamis yang baru menjabat, Dra. Soimah, beserta jajarannya mengalami momen spiritual tak terduga dalam rangkaian agenda kerjanya.
Secara istimewa, rombongan Kejari Ciamis di Talqin Dzikir secara langsung oleh Sesepuh Pesantren Sirnarasa, Syekh Muhammad Abdul Gaos atau yang akrab disapa Abah Aos.
Kunjungan silaturahmi yang berlangsung di Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis pada Rabu (7/9/2022) ini menjadi bukti nyata kuatnya harmoni antara institusi penegak hukum dan tokoh agama.
Momen bersejarah ini bukan sekadar kunjungan formal biasa, melainkan langkah strategis awal masa jabatan untuk merangkul seluruh elemen masyarakat kultural.
Ringkasan Berita
Momen Spiritual: Kejari Ciamis di Talqin Dzikir oleh Abah Aos
Kunjungan Dra. Soimah ke Pesantren Sirnarasa membawa angin segar dalam pola komunikasi institusi hukum di daerah.
Kehadirannya tidak hanya disambut dengan kehangatan khas pesantren, tetapi juga mendapatkan keistimewaan luar biasa.
Pasalnya, tidak semua tamu institusi mendapatkan kesempatan untuk mengikuti prosesi bimbingan rohani.
Oleh karena itu, momen Kejari Ciamis di Talqin Dzikir ini menjadi sebuah catatan sejarah yang membanggakan.
Selain mendapatkan bimbingan kalimat tauhid, rombongan institusi kejaksaan ini juga didoakan secara khusus oleh Abah Aos agar amanah dalam menjalankan tugas.
“Alhamdulillah, hari ini kami bisa berkunjung langsung ke Pesantren Sirnarasa yang berlokasi di Kecamatan Panjalu, Ciamis,” ungkap Dra. Soimah penuh syukur di sela-sela kunjungannya.
Bagi Soimah yang baru saja memegang tongkat komando kejaksaan di Ciamis, langkah ini sangat krusial.
Silaturahmi kultural dinilai mampu membuka sekat-sekat birokrasi yang kaku antara pejabat negara dan rakyatnya.
Sinergi Kuat Antara Penegak Hukum dan Ulama
Lebih lanjut, Dra. Soimah menjelaskan bahwa agenda utamanya adalah memperkenalkan diri sekaligus memohon doa restu kepada para kiai.
Menjabat di lingkungan kabupaten yang kental dengan nuansa agamis tentu membutuhkan pendekatan yang relevan.
Maka dari itu, kunjungan ke Pesantren Sirnarasa adalah wujud nyata dari komitmennya.
Ia ingin menjalin tali silaturahmi yang erat dengan para tokoh agama dan ulama setempat agar roda pemerintahan berjalan seimbang.
“Ini juga bertujuan untuk menjalin sinergitas antara tokoh masyarakat, pemuda, dan pastinya tokoh agama serta ulama di Kabupaten Ciamis,” tuturnya menjelaskan.
Sinergi yang solid antara umara (pemerintah/penegak hukum) dan ulama sangat penting untuk menjaga kondusivitas daerah.
Ketika instrumen hukum positif beriringan dengan nilai-nilai spiritual, ketertiban dan keadilan masyarakat akan lebih mudah diwujudkan.
Sambutan Hangat dari Keluarga Besar Pesantren Sirnarasa
Kedatangan rombongan institusi hukum ini mendapat apresiasi setinggi-tingginya dari pihak tuan rumah.
Rais Am TQN Pesantren Sirnarasa Suryalaya Kabupaten Ciamis, Anjar Asmara, menyambut baik langkah proaktif tersebut.
Anjar merasa bangga karena institusi kejaksaan mau turun langsung menyapa kalangan akar rumput di pesantren.
Terlebih lagi, seluruh rombongan bersedia mengikuti prosesi spiritual yang menjadi fondasi tarekat di sana.
“Terima kasih atas kunjungannya. Alhamdulillah juga telah mendapatkan bimbingan dzikir dan secara resmi sudah menjadi bagian dari ikhwan Pesantren Sirnarasa,” ucap Anjar dengan ramah.
Status sebagai “ikhwan” atau saudara dalam jalan spiritual tentu menjadi ikatan emosional baru yang positif.
Hal ini diharapkan mampu membawa keberkahan bagi kinerja kejaksaan dalam menegakkan keadilan di “Tatar Galuh” Ciamis.
Makna Mendalam Saat Kejari Ciamis di Talqin Dzikir
Bagi sebagian pembaca awam, istilah spiritual tasawuf ini mungkin masih terdengar sedikit asing. Lantas, apa sebenarnya makna dari prosesi yang diikuti oleh para petinggi kejaksaan tersebut?
Secara etimologi atau asal-usul pembentukan bahasa, pengertiannya berasal dari kata Arab “Laggana Yulaqqinu“.
Kata tersebut memiliki arti memberi pelajaran, mendiktekan, membimbing, atau mengajarkan suatu kalimat suci.
Dalam tradisi ajaran tasawuf, khususnya Tarekat Qadiriyyah Naqsyabandiyyah (TQN), ini merupakan metode bimbingan rohani tingkat tinggi.
Seorang mursyid (guru spiritual) menanamkan kalimat tauhid (La Ilaha Illallah) langsung ke dalam kalbu terdalam muridnya.
Sehingga, ketika peristiwa Kejari Ciamis di Talqin Dzikir terjadi, singkatnya mereka telah memperoleh pengajaran mendasar tentang cara mengingat Tuhan yang benar.
Dzikir yang dipraktikkan tidak hanya sebatas diucapkan secara lisan, melainkan menghujam kuat menjadi ketenangan di dalam hati sanubari.
Pengaruh Pesantren Sirnarasa Terhadap Harmoni Sosial
Sebagai informasi tambahan, Pesantren Sirnarasa bukanlah lembaga pendidikan agama sembarangan.
Terletak di dataran tinggi Kecamatan Panjalu yang berhawa sejuk, pesantren asuhan Abah Aos ini telah lama menjadi episentrum dakwah yang damai di Jawa Barat.
Oleh sebab itu, wajar jika tokoh-tokoh penting sering meluangkan waktu untuk sowan ke tempat ini.
Selain mencari keberkahan ilmu, para pemangku kebijakan menyadari bahwa pesantren memiliki peran vital dalam menjaga stabilitas Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Kamtibmas).
Keterlibatan aktif para ulama dalam mendukung program penegakan hukum pemerintah telah terbukti sangat efektif.
Melalui ikatan batin yang telah terjalin dari prosesi Kejari Ciamis di Talqin Dzikir, kolaborasi antara aparat hukum dan elemen pesantren dipastikan akan terus kokoh demi kemajuan dan kedamaian Kabupaten Ciamis di masa mendatang.





