
Kebutuhan pembangunan septic tank di wilayah Kelurahan Ciamis, Kabupaten Ciamis, masih menjadi pekerjaan rumah besar yang belum terselesaikan.
Lurah Ciamis, Muhlison, mengungkapkan bahwa jumlah septic tank yang perlu dibangun di wilayahnya mencapai sekitar 500 unit.
Menurutnya, angka tersebut bukanlah sekadar data, melainkan kebutuhan nyata warga dalam rangka meningkatkan sanitasi lingkungan dan menjaga kesehatan masyarakat.
“Ada sekitar 500-an unit septic tank yang harus segera dibangun. Jumlah ini memang besar dan tidak bisa dipenuhi sekaligus, sehingga butuh dukungan dan kolaborasi dari berbagai pihak,” jelasnya saat ditemui di ruang kerjanya.
Muhlison mengakui bahwa realisasi pembangunan septic tank di tahun 2025 masih jauh dari kebutuhan ideal.
Dari ratusan unit yang dibutuhkan, baru tiga unit septic tank yang terealisasi melalui Dana Kelurahan.
Salah satunya berlokasi di RW 10, Lingkungan Kalapa Jajar, sementara pembangunan lain lebih banyak difokuskan pada perbaikan jalan KIP.
Dana Kelurahan Ciamis tahun 2025 sendiri tercatat sebesar Rp200 juta.
Dari jumlah tersebut, hampir separuhnya terserap untuk pembangunan infrastruktur, termasuk septic tank dan jalan lingkungan.
“Sisanya kami gunakan untuk program pemberdayaan masyarakat, salah satunya pelatihan digital bagi pelaku UMKM,” ujar Muhlison.
Lebih jauh, Muhlison menjelaskan bahwa septic tank yang dibangun di Kelurahan Ciamis menggunakan teknologi Bio Tech.
Teknologi ini dianggap lebih ramah lingkungan karena mampu mengurai bakteri secara efektif sehingga air limbah yang keluar telah melalui tahap sterilisasi.
“Dengan septic tank berteknologi Bio Tech, proses pengolahan limbah menjadi lebih aman. Air buangan yang sudah disterilisasi tidak lagi menimbulkan risiko pencemaran,” terangnya.
Namun, tantangan terbesar tetap pada persoalan pendanaan. Dengan hanya mengandalkan Dana Kelurahan, kebutuhan ratusan unit septic tank tentu sulit dipenuhi dalam waktu singkat.
Muhlison pun berharap adanya sumber dana tambahan baik dari pemerintah daerah, provinsi, maupun program lain.
“Kami sangat berharap ada alternatif pendanaan untuk mempercepat pembangunan septic tank ini. Jika hanya mengandalkan anggaran kelurahan, penyelesaiannya bisa memakan waktu lama,” ujarnya.
Ketua Kelompok Masyarakat (Pokmas) Kelurahan Ciamis, Dodi Suprapto, juga menyoroti pentingnya septic tank dalam menjaga kesehatan lingkungan.
Menurutnya, keberadaan septic tank sangat vital untuk mencegah pencemaran bakteri E. Coli yang berpotensi mencemari saluran air warga.
“Septic tank ini bukan sekadar fasilitas, melainkan kebutuhan mendesak. Dengan adanya septic tank, kita bisa mencegah penyebaran bakteri berbahaya ke selokan dan lingkungan sekitar,” kata Dodi.
Ia menambahkan, Pokmas bersama pemerintah kelurahan tengah berupaya mencari sumber pendanaan tambahan.
Pasalnya, pada tahun 2025 saja, dana kelurahan hanya mampu membiayai pembangunan tiga unit septic tank, sementara anggaran lainnya habis untuk pembangunan jalan KIP, TPT, dan posyandu.
Dengan kebutuhan mencapai 500 unit septic tank dan realisasi yang masih minim, persoalan sanitasi di Kelurahan Ciamis masih menjadi pekerjaan rumah besar.
Diperlukan sinergi kuat antara pemerintah, masyarakat, dan pihak lain untuk mempercepat pemenuhan kebutuhan ini.
Selain berdampak langsung pada kesehatan warga, penyediaan septic tank juga menjadi indikator penting dalam mewujudkan lingkungan permukiman yang bersih, sehat, dan layak huni.
Tanpa langkah konkret dan dukungan yang memadai, ratusan unit septic tank yang dibutuhkan Kelurahan Ciamis akan tetap menjadi persoalan berlarut-larut.





