
Harga porang di Kabupaten Ciamis kembali menjadi sorotan. Memasuki pertengahan tahun 2025, harga umbi porang di tingkat petani tercatat menembus Rp 12.500 per kilogram.
Angka ini menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah perdagangan porang di wilayah tersebut.
Kenaikan ini tentu membawa kabar gembira, meski hanya segelintir petani yang masih bisa merasakannya.
Sebab, sebagian besar petani sudah berhenti menanam porang akibat trauma harga jatuh beberapa tahun lalu.
Pada 2024, harga porang bertahan stabil di kisaran Rp 12.000 per kilogram. Kini, kenaikan Rp 500 membuat para petani yang masih bertahan bisa menikmati hasil lebih baik.
Salah satunya adalah H. Sarkum, warga Dusun Jagabaya II, Desa Jagabaya, Kecamatan Panawangan, Ciamis.
“Tahun 2025 ini harga porang naik jadi Rp 12.500 per kilogram,” ungkap Sarkum kepada Reportasee.com, Sabtu (6/9/2025).
Ironisnya, harga tertinggi ini hanya dinikmati segelintir orang. Jumlah petani porang di Ciamis kini diperkirakan tak lebih dari 10 orang.
Porang sempat booming di Ciamis pada periode 2020–2022. Banyak petani tertarik menanamnya karena prospek ekspor yang menjanjikan. Namun, euforia itu tidak berlangsung lama.
Harga porang terjun bebas ke kisaran Rp 3.500–Rp 4.000 per kilogram. Kejatuhan harga tersebut membuat banyak petani gulung tikar.
Puluhan hingga ratusan hektare lahan porang kemudian terbengkalai atau beralih fungsi menjadi lahan untuk komoditas lain.
Kondisi itu membuat Ciamis, yang sempat dikenal sebagai salah satu sentra produksi porang di Jawa Barat, nyaris kehilangan komoditas unggulan ini.
Di tengah surutnya minat petani, H. Sarkum menjadi salah satu yang memilih bertahan. Ia bahkan dikenal sebagai perintis budidaya porang di Ciamis.
Sejak 2020, Sarkum pernah menggarap lahan porang seluas 6 hektare di beberapa titik, termasuk Dusun Jagabaya I, Blok Pasir Bunut, hingga Blok Ciembe.
Namun kini, luas lahan yang masih dipertahankannya hanya tinggal 3 hektare.
“Sebagian sudah dipanen bulan Juli kemarin, sekarang malah sudah masuk masa tanam lagi,” ujarnya.
Dari lahan tersebut, Sarkum mampu memanen sekitar 25 ton umbi dengan rata-rata berat 3 hingga 5 kilogram per umbi.
Semua hasil panen dijual ke pabrik pengolahan di Jawa Timur, seperti Madiun dan Surabaya, dalam bentuk umbi mentah.
“Kalau dijual dalam bentuk chips memang lebih mahal, tapi prosesnya repot. Biaya tambahan besar dan cuaca sekarang juga tidak menentu,” tambahnya.
Meski harga porang kini mencapai rekor tertinggi, belum banyak petani yang tergugah untuk kembali menanamnya.
Hal ini tak lepas dari risiko besar di sektor pemasaran yang masih sangat bergantung pada ekspor.
Namun bagi mereka yang bertahan, seperti Sarkum, lonjakan harga saat ini menjadi momentum untuk kembali merasakan hasil manis dari kerja keras merawat tanaman yang sempat terlupakan.





