
Curah hujan tinggi yang mengguyur Kabupaten Ciamis selama beberapa hari terakhir telah memicu banjir besar yang melanda Kecamatan Lakbok dan Purwadadi.
Dua wilayah ini menjadi titik terparah dengan dampak paling luas terhadap masyarakat, terutama bagi para petani dan keluarga yang tinggal di dataran rendah.
Banjir tersebut disebabkan oleh meluapnya Sungai Citanduy dan Ciseu’eul, yang membanjiri lebih dari 2.000 hektare lahan pertanian serta ratusan rumah warga.
Akibatnya, ribuan kepala keluarga (KK) terdampak dan terpaksa mengungsi ke lokasi-lokasi aman yang telah disiapkan pemerintah daerah.
Menanggapi bencana ini, Bupati Ciamis, Herdiat Sunarya, turun langsung ke lapangan pada Minggu (1/6/2025) meskipun hari itu merupakan hari libur nasional.
Tanpa ragu, ia menyambangi 14 desa yang tersebar di dua kecamatan terdampak untuk melihat langsung kondisi warga yang dilanda bencana.
Kunjungan tersebut bukan hanya bersifat simbolis, tetapi juga menjadi momen penting dalam mengkoordinasikan langkah-langkah penanganan cepat di lapangan.
Bupati Ciamis Turun Langsung ke Lokasi Banjir
Dalam kunjungannya, Bupati Herdiat tidak hanya hadir untuk memberikan semangat, tetapi juga memimpin koordinasi penyaluran bantuan logistik, layanan kesehatan, serta kebutuhan dasar lainnya.
Ia secara langsung menginstruksikan kepada jajaran Dinas Kesehatan Kabupaten Ciamis agar memprioritaskan pelayanan medis bagi warga terdampak.
“Saya minta layanan kesehatan jadi yang utama. Jangan sampai ada warga yang terabaikan, terutama anak-anak, ibu hamil, dan lansia. Mereka paling rentan terhadap penyakit pascabanjir,” ujar Herdiat dalam salah satu dialognya dengan warga.
Sebagai tindakan konkret, pemerintah daerah mendistribusikan bantuan berupa kaporit untuk membantu masyarakat membersihkan air yang tercemar.
Langkah ini dilakukan guna mengantisipasi penyebaran penyakit menular seperti diare dan infeksi kulit yang sering muncul di tengah kondisi banjir.
Dampak Banjir Terhadap Ribuan Warga
Berdasarkan laporan BPBD Ciamis, sebanyak 2.511 kepala keluarga terdampak secara langsung oleh banjir yang meluas di tujuh desa.
Sementara di Kecamatan Lakbok saja, tercatat 839 hektare lahan sawah tergenang air, menghantam sumber ekonomi utama warga yaitu pertanian.
Tidak hanya itu, banyak rumah yang terendam hingga membuat warga harus mengungsi ke lokasi-lokasi penampungan darurat.
Di titik-titik pengungsian ini, pemerintah memastikan logistik, air bersih, dan akses layanan kesehatan tetap tersedia.
Langkah-Langkah Respons Cepat dari Pemerintah
Berikut adalah 7 langkah strategis penanganan banjir yang diterapkan oleh Pemkab Ciamis:
- Peninjauan langsung oleh kepala daerah di wilayah terdampak.
- Distribusi kaporit dan obat-obatan ke daerah pengungsian.
- Pendataan akurat jumlah KK dan lahan terdampak.
- Pendirian posko darurat di desa-desa kritis.
- Pelayanan kesehatan keliling untuk pengungsi.
- Koordinasi bersama TNI, Polri, dan relawan dalam evakuasi.
- Monitoring cuaca dan kesiagaan untuk banjir susulan.
Arahan Bupati; Jangan Sampai Bencana Bertambah
Bupati Herdiat menekankan bahwa pascabanjir sering kali memunculkan bencana kesehatan yang jauh lebih serius.
Oleh karena itu, ia meminta seluruh OPD terkait untuk bergerak cepat dan sigap, serta memastikan setiap pengungsi merasa aman dan diperhatikan.
“Saya tidak ingin ada warga yang sakit karena terlambat ditangani. Posko kesehatan harus ada di setiap titik pengungsian. Jangan sampai ada yang tertinggal,” tegasnya.
Dalam jangka panjang, Pemkab Ciamis telah mengajukan kerja sama dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citanduy untuk melakukan normalisasi sungai.
Langkah ini dianggap vital untuk mengatasi persoalan banjir tahunan yang terus menghantui Kecamatan Lakbok dan Purwadadi.
Warga berharap rencana ini tidak hanya menjadi wacana, namun benar-benar dilaksanakan secara konsisten agar mereka tidak kembali menjadi korban setiap musim penghujan datang. (adv)





