
Di tengah pesona alam pedesaan Ciamis yang masih menyimpan keanekaragaman hayati, tersimpan kisah tentang sebuah tanaman langka yang kian jarang terlihat: buah hangasa.
Tanaman yang oleh sebagian warga juga disebut hanggasa, ranggasa, atau wresah ini memiliki nama ilmiah Amomum dealbatum dan dikenal dalam bahasa Inggris sebagai Java cardamom.
Bagi masyarakat yang gemar menjelajah hutan atau kebun, nama buah ini mungkin tak asing. Sosoknya mirip dengan tanaman dari keluarga jahe-jahean seperti honje, lengkuas, atau kapulaga, namun buahnya memiliki bentuk yang berbeda dan unik.
Kenangan Masa Kecil dan Hilangnya Keberadaan Hangasa
Bagi Iing Kuswandi, warga Kampung Tengah, Dusun Cidewa, RT 06 RW 16, Desa Dewasari, Kecamatan Cijeungjing, Ciamis, buah hangasa bukan sekadar tanaman herbal, melainkan juga bagian dari kenangan masa kecilnya.
“Dulu waktu saya masih SD di tahun 1990-an, buah hangasa masih banyak sekali. Sepulang sekolah, kami sering mencari buah itu di kebun-kebun sekitar. Tapi sekarang sudah sangat jarang terlihat,” ujar Iing kepada Reportasee.com, Minggu (26/10/2025).
Meski populasinya semakin langka, Iing merasa beruntung karena di kebun belakang rumahnya masih tumbuh satu rumpun hangasa yang kini sedang berbuah.
“Alhamdulillah, tanaman hangasa di belakang rumah sedang berbuah. Buah hijaunya mulai menguning, tanda sudah hampir matang,” ucapnya dengan nada gembira.
Cita Rasa Unik Buah Hangasa
Iing mengenang, semasa kecil ia dan teman-temannya kerap berburu buah hangasa seusai pulang sekolah.
Kegembiraan mereka memuncak ketika menemukan rumpun yang sedang berbuah lebat dengan warna kuning cerah menandakan kematangan sempurna.
“Kalau sudah matang, buahnya langsung dimakan begitu saja, tanpa perlu direbus. Rasanya manis, sedikit asam, tapi sangat segar,” kenangnya.
Menurut Iing, setelah menikmati buah tersebut, tubuh terasa hangat — sensasi yang mirip dengan ketika seseorang minum wedang jahe.
Tanaman Herbal dari Keluarga Jahe-jahean
Secara botani, tanaman hangasa termasuk dalam keluarga Zingiberaceae, rumpun tanaman rempah yang juga menaungi jahe, lengkuas, dan honje.
Tak heran bila tanaman ini memiliki sifat menghangatkan tubuh serta dikenal memiliki berbagai khasiat herbal.
“Orang-orang tua dulu sering menggunakan buah hangasa sebagai obat alami,” tambah Iing.
Selain dikonsumsi langsung, buah ini juga dapat diolah menjadi minuman seperti jus honje, yang kini semakin populer di berbagai daerah.
Bahkan bunga hangasa pun bisa dijadikan bahan sambal atau pecel, menyerupai sambal kecombrang yang terkenal dengan cita rasa aromatiknya.
Kaya Manfaat untuk Kesehatan
Dari berbagai literatur, buah hangasa (Amomum dealbatum) diketahui merupakan tanaman aromatik kaya nutrisi yang berkhasiat bagi kesehatan.
Kandungan senyawa aktif di dalamnya memiliki efek antioksidan, antikanker, serta dapat meningkatkan daya tahan tubuh.
Beberapa manfaat buah hangasa antara lain:
- Membantu menurunkan kadar kolesterol
- Melancarkan pencernaan
- Meningkatkan imunitas tubuh
- Menjaga kesehatan kulit
- Mencegah pertumbuhan sel kanker berkat kandungan antioksidannya
Dalam pengobatan tradisional, buah hangasa telah lama digunakan untuk mengatasi berbagai penyakit ringan dan menjaga stamina, terutama pada musim hujan.
“Wedang hangasa cocok sekali diminum ketika cuaca dingin, seperti halnya wedang jahe,” ujar Iing.
Cara Mengonsumsi Buah Hangasa
Buah hangasa dapat dikonsumsi dalam beberapa cara. Saat matang, kulit buah berwarna kuning cerah, dan duri halus di permukaannya akan rontok dengan sendirinya.
Buah matang ini menyebarkan aroma harum khas yang menjadi penanda siap santap.
Buah bisa dimakan langsung dalam kondisi segar, memberikan perpaduan rasa manis dan asam yang menyegarkan.
Sementara itu, buah yang masih muda berwarna hijau dan memiliki deretan duri kecil di permukaannya. Sebelum dimakan, biasanya buah muda direbus terlebih dahulu setelah durinya dibersihkan.
“Kalau masih muda, rasa asamnya lebih dominan,” kata Iing menutup percakapan.
Keberadaan buah hangasa kini semakin sulit ditemukan, bahkan di daerah pedesaan yang dahulu menjadi habitat alaminya.
Banyak faktor yang diduga menyebabkan kelangkaannya, mulai dari perubahan penggunaan lahan, menurunnya minat masyarakat untuk menanam tanaman liar, hingga kurangnya pengetahuan akan nilai herbal dan ekonomisnya.
Namun, keberadaan satu rumpun di kebun belakang rumah Iing menjadi simbol kecil harapan agar tanaman tradisional ini tidak punah.
Bila dibudidayakan kembali dan dikenalkan secara lebih luas, hangasa berpotensi menjadi salah satu komoditas herbal lokal unggulan dengan nilai kesehatan tinggi dan cita rasa khas Nusantara.





