
Musibah besar kembali melanda sektor agraris di wilayah Kabupaten Ciamis, khususnya di Kecamatan Cimaragas.
Fenomena alam berupa luapan air akibat banjir Sungai Cikembang dilaporkan telah melumpuhkan sedikitnya 10 hektar lahan pertanian produktif yang terdiri dari tanaman padi dan jagung di Dusun Bojongmalang, Desa Bojongmalang, pada Jumat (07/07/2023).
Peristiwa pilu yang diperkirakan mulai menerjang pada pukul 06.00 WIB tersebut terjadi begitu cepat.
Debit air sungai yang meningkat drastis akibat intensitas hujan tinggi di wilayah hulu menyebabkan tanggul alami tak mampu lagi menahan laju air.
Akibatnya, hamparan hijau persawahan berubah menjadi genangan air kecoklatan hanya dalam hitungan jam, menyisakan kekhawatiran mendalam bagi para petani yang baru saja memulai musim tanam.
Ringkasan Berita
Pemetaan Wilayah Terdampak: Tiga Blok Terendam Total
Berdasarkan hasil verifikasi lapangan dan pendataan cepat yang dilakukan oleh petugas penyuluh, dampak banjir Sungai Cikembang ini meluas secara masif hingga menggenangi tiga blok persawahan utama yang menjadi urat nadi ekonomi warga Desa Bojongmalang.
Ketiga kawasan terdampak tersebut meliputi Blok Nanggung, Blok Citatah, dan Blok Kaso.
Koordinator Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kecamatan Cimaragas, Edy, menjelaskan bahwa karakteristik kerugian di masing-masing blok cukup bervariasi namun tetap signifikan.
Sebagian besar lahan yang terendam adalah areal persawahan dengan usia tanaman yang masih sangat muda.
Edy menjelaskan bahwa sebagian besar padi yang terdampak luapan air tersebut baru memasuki usia tanam antara 7 hingga 10 hari sesudah tanam (HST).
Menurutnya, usia ini merupakan fase paling kritis bagi pertumbuhan tanaman karena sistem perakaran belum cukup kuat untuk mencengkeram tanah secara kokoh.
Kondisi tersebut membuat tanaman sangat rentan tersapu arus deras atau mengalami pembusukan akibat terendam air dalam waktu lama.
Ancaman Gagal Panen dan Kerugian Material Petani
Kerusakan akibat banjir Sungai Cikembang kali ini tidak hanya menyasar tanaman muda.
Data dari BPP Cimaragas menunjukkan adanya kerugian nyata pada komoditas yang sudah siap masuk meja makan.
Tercatat sekitar 50 bata tanaman padi yang sudah memasuki masa siap panen turut terendam air lumpur.
Kondisi ini dipastikan menurunkan kualitas gabah secara drastis (grade down) karena bulir padi yang terendam air terlalu lama akan menghitam bahkan mulai berkecambah sebelum dipotong.
Tidak berhenti di komoditas padi, sektor palawija pun turut luluh lantak. Luapan air juga menginvasi ladang jagung seluas kurang lebih 500 bata.
Berbeda dengan padi, tanaman jagung memiliki toleransi yang jauh lebih rendah terhadap genangan air.
Dalam keterangannya kepada awak media pada Sabtu (08/07/2023), Edy memaparkan bahwa genangan air yang merendam hamparan lahan pertanian warga memiliki kedalaman yang bervariasi, yakni antara 30 hingga 50 sentimeter.
Kondisi ini menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan hidup tanaman, terutama komoditas jagung.
Menurutnya, karakteristik tanaman jagung yang tidak tahan genangan membuat periode 24 jam menjadi masa krusial; jika air tidak segera surut dalam kurun waktu tersebut, batang tanaman dipastikan akan layu secara permanen dan berakhir dengan kematian massal.
Analisis Teknis BPP: Mengapa Banjir Sungai Cikembang Begitu Merusak?
Secara teknis, banjir Sungai Cikembang membawa material sedimen berupa lumpur tebal yang dapat menutupi stomata atau pori-pori daun tanaman padi yang masih kecil. Jika daun tertutup lumpur, proses fotosintesis akan terhenti total.
Hal inilah yang menyebabkan tanaman padi muda sering kali mengalami kematian massal pasca banjir surut.
Selain itu, BPP Cimaragas juga mengkhawatirkan adanya dampak lanjutan berupa serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT).
Kondisi kelembapan yang tinggi pasca genangan air sering kali menjadi pemicu munculnya penyakit hawar daun bakteri dan serangan hama keong mas yang masif.
Para petani kini dihadapkan pada dua pilihan sulit: melakukan penanaman ulang dengan biaya ekstra atau membiarkan lahan mereka puso (gagal total).
Langkah Responsif: Bantuan Benih dan Dukungan Pemerintah
Menyikapi dampak buruk dari banjir Sungai Cikembang, Pemerintah Kabupaten Ciamis melalui BPP Cimaragas tengah melakukan sinkronisasi data untuk pengajuan bantuan darurat.
Edy menegaskan bahwa pemerintah daerah telah menyiapkan skema bantuan bagi para petani yang lahannya dinyatakan rusak berat atau puso.
“Upaya dari pemerintah daerah adalah memberikan bantuan benih padi pengganti bagi petani yang tanaman padinya rusak total. Kami ingin memastikan bahwa setelah air surut, petani tidak kehilangan momentum untuk segera menanam kembali agar ketahanan pangan di tingkat desa tetap terjaga,” jelasnya.
Namun, bantuan benih tentu belum cukup untuk menutupi seluruh kerugian operasional yang telah dikeluarkan petani, mulai dari biaya olah lahan hingga pembelian pupuk di awal musim tanam lalu.
Oleh karena itu, koordinasi dengan Dinas Pertanian terus ditingkatkan guna mencari solusi komprehensif atas bencana rutin ini.
Urgensi Mitigasi: Asuransi Pertanian Sebagai Solusi Permanen
Di tengah ketidakpastian cuaca yang sering memicu kembali terjadinya banjir Sungai Cikembang, pihak BPP Cimaragas memberikan edukasi mendalam mengenai pentingnya proteksi usaha tani.
Edy menekankan bahwa ketergantungan pada bantuan pemerintah yang sifatnya stimulan tidak akan cukup melindungi kesejahteraan petani dalam jangka panjang.
“Kami sangat menyarankan dan mendorong para petani untuk segera mendaftarkan lahan mereka dalam program Asuransi Usaha Tanam Padi (AUTP),” tegas Edy di akhir wawancaranya.
Melalui AUTP, petani hanya perlu membayar premi yang sangat ringan karena mendapatkan subsidi besar dari pemerintah.
Jika terjadi bencana seperti banjir Sungai Cikembang yang menyebabkan kerusakan hingga 75 persen ke atas, petani berhak mendapatkan klaim ganti rugi sebesar Rp6 juta per hektar.
Nilai klaim ini dianggap cukup sebagai modal bagi petani untuk bangkit dan melakukan pembiayaan musim tanam berikutnya tanpa harus terjerat utang pada pihak ketiga.
Kejadian ini menjadi pengingat keras bagi seluruh pemangku kepentingan di Cimaragas bahwa normalisasi saluran air dan perlindungan asuransi bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan mendesak demi menyelamatkan masa depan pertanian di Desa Bojongmalang.
Para petani kini hanya bisa berharap air segera surut sepenuhnya agar sisa-sisa harapan di ladang mereka masih bisa terselamatkan.





