
Cuaca ekstrem kembali melanda wilayah Kabupaten Ciamis. Hujan deras disertai angin puting beliung yang terjadi pada Rabu (5/11/2025) sekitar pukul 13.45 WIB menyebabkan kerusakan parah di tiga desa di Kecamatan Sindangkasih.
Data sementara mencatat 169 rumah warga rusak, sebagian besar di bagian atap akibat hempasan angin kencang dan pohon tumbang yang menimpa bangunan.
Bencana hidrometeorologis itu tidak hanya memporak-porandakan permukiman warga, tetapi juga berdampak pada belasan fasilitas umum dan sosial, seperti kantor pemerintahan, sekolah, serta tempat ibadah.
Kepala Pelaksana BPBD Ciamis, Ani Supiani ST MSi, menjelaskan bahwa hingga Rabu malam, pihaknya mencatat 169 rumah rusak di tiga desa, yaitu Desa Sindangkasih, Desa Gunung Cupu, dan Desa Sukasenang.
Sebanyak tujuh kepala keluarga (KK) yang menghuni lima rumah terpaksa mengungsi karena kondisi rumah mereka rusak berat dan tidak layak ditempati.
Menurut Ani, Desa Sindangkasih menjadi wilayah yang mengalami kerusakan paling parah. Di desa ini, 75 rumah warga terdampak dengan total 95 KK atau 294 jiwa.
Dari jumlah tersebut, lima rumah rusak berat, memaksa tujuh KK untuk mencari tempat perlindungan sementara.
“Penanganan masih terus berlangsung. Tim gabungan sudah dikerahkan untuk membantu evakuasi dan pendataan lanjutan,” ujar Ani.
Selain rumah warga, tujuh fasilitas sosial dan umum di Desa Sindangkasih turut terdampak.
Bangunan yang mengalami kerusakan di antaranya Kantor Kecamatan Sindangkasih, Puskesmas Sindangkasih, MTsN 9 Sindangkasih, KUA Sindangkasih, DKM Al Huda, SMK Karya Nasional, dan satu madrasah di sekitar jalur Sindangkasih–Gunung Cupu.
Sementara itu, di Desa Gunung Cupu, sebanyak 62 rumah warga rusak akibat angin puting beliung, dengan total 65 KK (238 jiwa) terdampak.
Dua fasilitas umum juga mengalami kerusakan, yakni Madrasah An Nur dan satu musala.
Di Desa Sukasenang, tercatat 32 rumah mengalami kerusakan, serta empat fasilitas umum terdampak, antara lain Madrasah Miftahul Ulum, Bale Sawala Dusun Burujul, Saung Resik, dan Saung Sampah.
Dampak puting beliung juga terasa di sektor transportasi.
Beberapa pohon besar tumbang dan menutup seluruh ruas Jalan Raya Nasional III yang menghubungkan Sindangkasih – Gunung Cupu – Cihaurbeuti.
Selain itu, baliho dan tiang listrik di sepanjang jalan juga roboh akibat terpaan angin kencang.
Akibatnya, arus lalu lintas sempat terhenti total selama beberapa jam.
Setelah waktu salat Asar, jalur akhirnya dapat dilalui kembali usai berbagai pihak bergotong royong menyingkirkan pohon tumbang dan membersihkan material di jalan.
Proses pembersihan melibatkan banyak unsur, di antaranya BPBD Ciamis, TNI–Polri, Dinas Pemadam Kebakaran, Tagana, Relawan Baznas (BTB), Sigap Persis, GSR Pramuka, PLN, aparat desa dan kecamatan, serta warga setempat.
Hingga Kamis (6/11/2025), evakuasi pohon tumbang masih terus dilakukan di sejumlah lokasi, terutama di area yang pohonnya menimpa rumah dan bangunan warga.
Menurut laporan lapangan, pohon kelapa tumbang baru berhasil ditangani di enam titik.
“Berbagai pihak terus berjibaku di lapangan untuk memastikan kondisi aman dan membantu warga terdampak. Kami berterima kasih atas partisipasi masyarakat dan semua unsur yang terlibat,” tambah Ani Supiani.
Pemerintah Kabupaten Ciamis melalui BPBD terus melakukan penilaian kerusakan (assessment) dan penyaluran bantuan darurat bagi warga terdampak.
Petugas juga menyiapkan lokasi pengungsian sementara dan memastikan jalur evakuasi aman.
Menariknya, beberapa jam sebelum bencana terjadi, pada Rabu pagi (5/11/2025), Pemkab Ciamis baru saja menggelar apel kesiapsiagaan bencana yang melibatkan berbagai unsur dan potensi relawan.
Kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologis seiring masuknya musim penghujan.
BPBD Ciamis mengimbau masyarakat agar tetap waspada terhadap cuaca ekstrem, terutama bagi warga yang tinggal di daerah rawan bencana seperti lereng perbukitan, dekat aliran sungai, atau wilayah terbuka yang rentan angin kencang.
Meskipun bencana kali ini tidak menimbulkan korban jiwa, kerugian material cukup besar dan trauma psikologis warga menjadi perhatian pemerintah daerah.
Upaya pemulihan fisik dan sosial pun terus diupayakan melalui koordinasi lintas instansi.
Masyarakat diharapkan tetap tenang, namun tidak lengah terhadap potensi cuaca ekstrem susulan.
Pemerintah daerah melalui BPBD akan terus memantau kondisi cuaca bersama BMKG dan menginformasikan peringatan dini kepada masyarakat.





