
Upaya penyelamatan macan tutul Jawa (Panthera pardus melas), salah satu satwa langka yang kini berstatus terancam punah, terus diperkuat di kawasan hutan Suaka Margasatwa (SM) Gunung Sawal, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.
Sebanyak 150 unit kamera trap atau kamera pengintai mulai dipasang di kawasan hutan konservasi tersebut guna memantau keberadaan, pergerakan, serta kondisi populasi macan tutul yang menjadi predator puncak ekosistem Gunung Sawal.
Kawasan SM Gunung Sawal memiliki luas lebih dari 5.000 hektare dan dibagi ke dalam 40 petak pengamatan.
Pada setiap petak dipasang minimal dua kamera trap dengan koordinat yang telah ditentukan secara terukur.
Metode ini diharapkan mampu merekam aktivitas macan tutul secara lebih akurat dan berkelanjutan, sehingga data yang dihasilkan dapat menjadi dasar penting dalam upaya perlindungan satwa tersebut.
Pemasangan kamera trap beserta pemantauan hasilnya direncanakan berlangsung selama sekitar tiga bulan.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program Java Wide Leopard Survey (JWLS), sebuah survei terpadu berskala Pulau Jawa yang bertujuan memetakan populasi serta sebaran macan tutul Jawa di berbagai lanskap hutan.
Program JWLS di Gunung Sawal dilaksanakan melalui kolaborasi sejumlah pihak, antara lain Kementerian Kehutanan, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Barat, Yayasan SINTAS Indonesia, komunitas Pedal Gas, serta Raksagiri Sawala.
Sinergi lintas lembaga dan komunitas ini menjadi kunci dalam memperkuat upaya konservasi satwa liar yang kian terdesak oleh berbagai ancaman.
Sebelum pemasangan kamera trap dilakukan, para peserta terlebih dahulu mengikuti kegiatan bimbingan teknis (bimtek) pemasangan kamera trap selama empat hari, yang berlangsung pada 9 hingga 13 Januari 2026.
Kegiatan ini bertujuan untuk memastikan pemasangan dan pengelolaan kamera trap dilakukan sesuai dengan standar survei satwa liar.
Menurut Ilham Purwa dari Raksagiri Sawala, bimtek tersebut diikuti oleh 32 peserta yang terdiri atas pegiat konservasi, kelompok pecinta alam, unsur Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ciamis, serta komunitas peduli lingkungan lainnya.
Selama kegiatan, peserta mendapatkan materi kelas selama dua hari, yang kemudian dilanjutkan dengan praktik lapangan dan simulasi pemasangan kamera trap selama dua hari berikutnya.
“Materi kelas meliputi pengenalan program Java Wide Leopard Survey, pemahaman kawasan konservasi, sampling genetik, serta metode dan teknik pemasangan kamera trap. Simulasi pemasangan kamera trap langsung dilaksanakan di kawasan hutan SM Gunung Sawal,” ujar Ilham.
Ia menjelaskan, kegiatan tersebut tidak hanya bertujuan meningkatkan kapasitas teknis peserta, tetapi juga membangun kesadaran dan kepedulian terhadap pentingnya konservasi macan tutul Jawa.
Melalui kegiatan ini, diharapkan terbentuk jejaring masyarakat yang aktif mendukung pelestarian satwa liar, khususnya di Jawa Barat.
Gunung Sawal sendiri merupakan salah satu lanskap penting yang masuk dalam peta survei JWLS di Pulau Jawa.
Sebelumnya, survei serupa telah dilakukan di sejumlah kawasan lain, seperti Gunung Halimun, Gunung Salak, dan Gunung Gede Pangrango.
Keikutsertaan Gunung Sawal dalam program ini memperkuat posisinya sebagai habitat penting macan tutul Jawa.
Setelah bimtek selesai, peserta terpilih akan dilibatkan secara langsung dalam program pemasangan dan pemantauan kamera trap di SM Gunung Sawal.
Selama proses survei, peserta menerapkan metode kemah berpindah sebagai bagian dari strategi pemasangan kamera di kawasan hutan yang luas dan memiliki medan beragam.
Hasil pemantauan kamera trap nantinya akan disampaikan kepada Pemerintah Kabupaten Ciamis, termasuk Bupati dan Ketua DPRD Ciamis, sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan kebijakan daerah terkait konservasi.
Ilham juga menyatakan dukungannya terhadap wacana menjadikan macan tutul sebagai ikon daerah Ciamis, menggantikan Tugu Bunga Raflesia di Alun-Alun Ciamis.
Berdasarkan data sebelumnya, populasi macan tutul di SM Gunung Sawal pada tahun 2019 terpantau sebanyak sembilan ekor.
Namun, pada tahun 2022 jumlah tersebut menurun dan hanya terdeteksi lima ekor.
Dengan pemasangan 150 kamera trap pada awal 2026 ini, diharapkan keberadaan macan tutul Jawa di Gunung Sawal dapat terpantau secara lebih detail, sekaligus menjadi langkah strategis untuk menyelamatkan satwa langka tersebut dari ancaman kepunahan.





