Berita

Tak Hanya Dibui, Warga Binaan Lapas Ciamis Digembleng 4 Pilar Kebangsaan

Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Ciamis terus membuktikan komitmen nyatanya dalam mencetak individu yang lebih baik.

Tidak sekadar berfokus pada pelaksanaan sanksi fisik atau pengekangan semata, pembentukan karakter kini menjadi agenda prioritas institusi.

Langkah strategis ini dinilai sangat krusial agar para warga binaan Lapas Ciamis benar-benar siap secara mental dan moral saat kembali ke tengah masyarakat kelak.

Pada hari Selasa (03/03/2026), komitmen tersebut diwujudkan secara konkret melalui penyelenggaraan agenda “Sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan” di Aula Lapas.

Agenda pembinaan kepribadian yang berlangsung dengan sangat khidmat ini bertujuan untuk menanamkan kembali nilai-nilai luhur kenegaraan yang mungkin sempat memudar.

Materi komprehensif yang disampaikan kepada seluruh warga binaan Lapas Ciamis mencakup edukasi esensial mengenai kedudukan Pancasila.

Pemahaman Undang-Undang Dasar (UUD) 1945, makna Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), hingga implementasi semboyan Bhinneka Tunggal Ika dalam kehidupan sehari-hari.

Di tengah dinamika sosial yang semakin kompleks, penguatan pilar ideologi dianggap sebagai langkah preventif sekaligus kuratif yang sangat efektif.

Kehadiran Agun Gunandjar Bawa Angin Segar bagi Warga Binaan Lapas Ciamis

Kegiatan edukatif di awal bulan Maret ini terasa jauh lebih istimewa dan membawa energi berbeda bagi para peserta.

Pasalnya, pihak penyelenggara berhasil menghadirkan secara langsung figur penting di tingkat pemerintahan pusat sebagai narasumber utama.

Sosok tersebut adalah Dr. H. Agun Gunandjar Sudarsa, Bc.IP., M.Si.

Beliau saat ini mengemban amanah sebagai Wakil Ketua Badan Sosialisasi MPR RI, sekaligus tercatat aktif sebagai Anggota Komisi XIII DPR RI.

Kehadiran politisi senior asal daerah pemilihan Jawa Barat ini bukan sekadar untuk menyampaikan materi ketatanegaraan yang kaku, monoton, dan bersifat instruksional bagi warga binaan Lapas Ciamis.

Lebih dari itu, Agun datang dengan pendekatan kemanusiaan, membawa suntikan motivasi mendalam yang sangat dibutuhkan oleh mereka yang tengah menjalani masa hukuman.

Dalam pemaparan awalnya, ia langsung mematahkan stigma negatif yang kerap menempel pada narapidana.

Agun menegaskan dengan lantang bahwa menyandang status hukum di dalam jeruji besi bukanlah titik akhir dari sebuah perjalanan kehidupan.

Menurut kacamata sosiologisnya, waktu yang dihabiskan di dalam lembaga pemasyarakatan justru harus dimaknai ulang.

Baca Juga :  Halal Bihalal Nasional PAN 2025 Satukan Kebersamaan dan Semangat Kemenangan

Fase ini merupakan momen berharga yang diberikan Tuhan untuk jeda sejenak, memulihkan mental, melakukan introspeksi mendalam, dan membenahi diri secara menyeluruh sebelum memulai lembaran baru.

Masa Pidana Sebagai Fase Transformasi Diri dan Ideologi

“Masa pidana ini, jika direnungkan secara mendalam, pada dasarnya hanyalah sebuah jeda dari kehidupan fisik semata,” ungkap Agun Gunandjar di hadapan puluhan warga binaan Lapas Ciamis yang menyimak dengan saksama.

Ia mengingatkan dengan tegas bahwa semangat kebangsaan dan rasa cinta tanah air tidak boleh ikut luntur, meskipun kebebasan fisik sedang dibatasi oleh tembok penjara.

Secara status ideologis dan konstitusional, seluruh individu yang berada di lingkungan pemasyarakatan tetap merupakan bagian yang utuh, sah, dan tidak terpisahkan dari elemen bangsa Indonesia.

Oleh karena itu, Agun mendorong agar ruang gerak yang terbatas tidak menjadi alasan untuk berhenti belajar dan memperbaiki kualitas diri.

Ia meminta setiap individu untuk selalu menjadikan 4 Pilar Kebangsaan sebagai kompas moral utama dalam menjalani rutinitas harian di dalam sel.

Suasana di dalam aula pun hidup dan tidak berjalan satu arah.

Para peserta tampak antusias menyerap setiap pesan motivasi yang disampaikan.

Momentum interaktif ini membuktikan bahwa rasa ingin tahu dan semangat untuk bertransformasi masih menyala terang di dalam sanubari para warga binaan Lapas Ciamis.

Agun menaruh harapan besar agar para peserta kelak mampu bertransformasi menjadi pilar pendukung di tengah masyarakat setelah masa hukumannya selesai.

Ia mendorong mereka untuk kembali ke kampung halaman dengan membawa manfaat nyata dan kesiapan untuk bekerja keras.

Tantangan positif tersebut ia lontarkan agar setiap individu mampu membuktikan kepada dunia bahwa diri mereka bukanlah beban bagi lingkungan.

Pesan mendalam dari sang politisi senior itu pun tampak langsung disambut dengan anggukan persetujuan dari para hadirin.

Visi Jangka Panjang Pembinaan Berkelanjutan di Lapas Ciamis

Sejalan dengan pemaparan inspiratif dari narasumber nasional tersebut, Kepala Lapas Kelas IIB Ciamis, Supriyanto, turut mengutarakan esensi mendasar di balik penyelenggaraan acara ini.

Menurutnya, agenda sosialisasi wawasan kenegaraan semacam ini merupakan salah satu pilar yang sangat integral dari totalitas program pembinaan kepribadian di institusinya.

Supriyanto memaparkan bahwa indikator sebuah lembaga pemasyarakatan dikatakan berhasil kini telah bergeser secara signifikan.

Lapas tidak lagi sekadar berbangga jika mampu melatih warganya agar terampil secara hard skill atau kemandirian untuk mencari nafkah usai bebas, seperti membuat kerajinan atau bertani.

Baca Juga :  Satpol PP Ciamis Komit Perangi Rokok Ilegal

Namun, yang tingkat urgensinya jauh lebih tinggi adalah pembangunan fondasi psikologis dan ideologis yang harus berdiri tegak di dalam diri setiap warga binaan Lapas Ciamis.

“Mereka juga harus memiliki rasa cinta tanah air yang kokoh, toleransi yang tinggi, dan yang terpenting adalah kesadaran hukum yang kuat,” terang Kalapas memberikan penjelasan rinci.

Langkah progresif ini sejatinya sangat selaras dengan pendekatan keadilan restoratif dan sistem peradilan pidana modern di Indonesia.

Keseimbangan antara keahlian vokasional (keterampilan kerja) dan kematangan karakter kebangsaan inilah yang diyakini akan membuat proses reintegrasi sosial di masa depan berjalan mulus tanpa penolakan dari masyarakat.

Wawasan Kebangsaan Sebagai Benteng Moral dari Residivisme

Pihak manajemen institusi memiliki ekspektasi besar agar kegiatan edukasi ini memberikan multiplier effect yang berkesinambungan.

“Kami sangat berharap dari lubuk hati terdalam, kegiatan yang digelar hari ini tidak hanya menguap dan berhenti sebagai seremoni formal belaka,” tegas Supriyanto dengan raut wajah serius.

Tujuan sejati dari institusi pemasyarakatan adalah merawat dan mendukung pembentukan ulang karakter setiap individu secara komprehensif.

Penerapan nilai mulia Pancasila, sebagai contoh, diajarkan agar warga binaan Lapas Ciamis mampu menghargai perbedaan pandangan dan tidak mudah terprovokasi.

Sementara itu, pemahaman mendalam terkait UUD 1945 dan NKRI diharapkan mampu menyadarkan kembali tentang batasan hak dan kewajiban tanggung jawab sebagai warga negara yang patuh hukum.

Lebih lanjut, ia menekankan esensi pentingnya wawasan kebangsaan sebagai fondasi pertahanan moral yang solid.

Pemahaman yang benar mengenai pilar bernegara dipercaya akan menjelma menjadi benteng pertahanan psikologis terkuat bagi para penghuni lapas.

Benteng tak kasat mata inilah yang akan menjaga rasionalitas mereka agar tidak kembali mengulangi kesalahan fatal di masa lalu atau terjebak dalam lubang residivisme (pengulangan tindak pidana).

Menutup pemaparannya dengan penuh optimisme, Supriyanto merangkum visi besar pembinaan berkelanjutan di institusi yang dipimpinnya.

Ia menegaskan bahwa misi utama lembaganya saat ini adalah mengantarkan para penghuni menuju gerbang kebebasan dengan menyandang identitas baru yang jauh lebih positif.

Lebih dari itu, Kalapas menaruh harapan besar agar kelak mereka mampu memikul tanggung jawab moral yang utuh terhadap bangsa, sesama manusia, maupun keluarga.

Bekal moral inilah yang diyakini akan menjadi penuntun hidup yang sesungguhnya ketika tiba waktunya bagi mereka untuk kembali menghirup udara bebas di tengah masyarakat.

Back to top button

Eksplorasi konten lain dari Reportasee.com™

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca