Berita

Terungkap! Bakteri Coli Jadi Biang Keracunan Puluhan Siswa SMPN 4 Pamarican

Hasil pemeriksaan laboratorium akhirnya menguak penyebab di balik insiden keracunan massal yang menimpa puluhan siswa SMPN 4 Pamarican, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.

Pemeriksaan resmi menunjukkan bahwa penyebab utama keracunan adalah kontaminasi bakteri coli (koliform) yang ditemukan dalam air dan makanan yang dikonsumsi para siswa.

Temuan tersebut disampaikan langsung oleh Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Ciamis sekaligus Koordinator Satgas Makanan Bergizi Gratis (MBG), Dr. Erwan Dermawan, SSTP, MSi, setelah hasil uji laboratorium diterima pada Rabu (15/10/2025).

“Diketahui penyebab keracunan tersebut adalah bakteri coli. Itu hasil pemeriksaan laboratorium,” ungkap Erwan Dermawan kepada Reportasee.com.

Air Dapur Tercemar, Olahan Ayam Positif Mengandung Bakteri Coli

Investigasi menunjukkan bahwa bakteri coli ditemukan di dua sumber berbeda yang berkaitan langsung dengan menu makanan siswa.

Pertama, pada air yang digunakan untuk memasak di dapur SPPG (Sentra Penyedia Pangan Gizi) yang menjadi penyuplai makanan program MBG bagi SMPN 4 Pamarican.

Kedua, pada menu olahan ayam yang disajikan kepada para siswa pada hari kejadian.

Dapur SPPG yang berlokasi di Desa Sukajadi, Kecamatan Pamarican, diduga menggunakan air yang sudah terkontaminasi bakteri sebelum proses memasak dilakukan.

Kondisi tersebut menyebabkan makanan yang diolah turut terpapar, sehingga menimbulkan efek keracunan pada siswa.

Puluhan Siswa Tumbang Usai Santap Makan Siang MBG

Peristiwa keracunan terjadi pada Senin siang, 29 September 2025, tak lama setelah para siswa menyantap makanan MBG yang disediakan sekolah.

Tak berselang lama, sejumlah siswa mengalami gejala seperti mual, pusing, dan muntah, hingga akhirnya dilarikan ke fasilitas kesehatan terdekat.

Total terdapat 82 siswa yang terdampak dalam insiden tersebut. Dari jumlah itu, 35 siswa harus dirawat intensif di puskesmas setempat, sementara dua siswa dirujuk ke RSUD Kota Banjar untuk penanganan medis lanjutan.

Baca Juga :  Terima Kirab Budaya, Bupati Ciamis: Toleransi Kondusifitas Daerah

Adapun 47 siswa lainnya diperbolehkan pulang setelah mendapat perawatan di sekolah dan menjalani rawat jalan di rumah masing-masing.

Dapur SPPG Ditutup Sementara untuk Penyelidikan

Menindaklanjuti temuan ini, pemerintah daerah memutuskan untuk menutup sementara dapur SPPG yang selama ini menjadi penyedia makanan bagi SMPN 4 Pamarican dan beberapa sekolah lain di sekitar wilayah tersebut.

Penutupan dilakukan guna memastikan proses sterilisasi dan pemeriksaan ulang kelayakan fasilitas dapur.

Langkah serupa juga diterapkan pada dapur SPPG di wilayah Kawali, yang sebelumnya mengalami kejadian sejenis setelah beberapa siswa SD dan MI di sana juga dilaporkan mengalami gejala keracunan.

“Saat ini dua dapur SPPG ditutup sementara karena kasus keracunan. Kami lakukan evaluasi total terhadap sistem pengolahan makanan,” jelas Erwan.

Belum Satu pun Dapur SPPG Kantongi Sertifikat Higiene Sanitasi

Erwan menambahkan, hingga kini dari 80 dapur SPPG yang sudah beroperasi di Ciamis, belum ada satu pun yang memiliki Surat Laik Higiene Sanitasi (SLHS)—dokumen yang menjadi syarat utama untuk menjamin keamanan makanan yang diolah dan disajikan kepada publik.

“Dari 78 SPPG yang sudah berjalan, belum satu pun memiliki SLHS. Sekarang semuanya sedang berproses untuk mengurus SLHS serta PBG (Persetujuan Bangunan Gedung),” ujarnya.

Kondisi ini menunjukkan masih lemahnya pengawasan dan kesiapan infrastruktur sanitasi di dapur penyedia makanan sekolah, terutama yang dikelola untuk mendukung program nasional seperti MBG.

Program MBG dan Dampaknya bagi Masyarakat

Meski diwarnai insiden, Erwan menegaskan bahwa program Makanan Bergizi Gratis (MBG) tetap memiliki peran strategis dalam upaya pemerintah menekan angka stunting dan meningkatkan kualitas gizi siswa di Kabupaten Ciamis.

Baca Juga :  Angin Kencang Tumbangkan Pohon Kelapa, Rumah Warga di Margajaya Rusak Parah

Program ini tidak hanya berorientasi pada kesehatan anak sekolah, tetapi juga berkontribusi dalam menggerakkan ekonomi lokal.

Melalui sistem penyediaan bahan pangan dari petani dan pelaku usaha sekitar, program MBG mendorong terbentuknya rantai pasok lokal yang produktif.

“Dengan adanya program MBG, perekonomian warga setempat ikut bergerak. Petani, peternak, hingga pelaku UMKM ikut mendapatkan manfaat,” tutur Erwan.

Kebutuhan Pangan yang Mendorong Ekonomi Lokal

Erwan mencontohkan, satu dapur SPPG yang melayani sekitar 3.000 siswa membutuhkan 6.000 buah pisang per minggu untuk memenuhi menu yang disajikan dua kali seminggu.

Jumlah tersebut setara dengan 15 tandan pisang per minggu atau 720 tandan per tahun untuk setiap dapur.

“Artinya, satu dapur SPPG butuh lahan kebun pisang sekitar 1,5 hektare. Itu baru satu dapur. Coba kalikan dengan 80 dapur yang sudah beroperasi,” jelasnya.

Selain pisang, kebutuhan lain seperti beras, ayam, telur, ikan, tahu, tempe, dan sayuran segar juga meningkat signifikan, membuka peluang bagi petani dan pedagang lokal untuk memasok kebutuhan dapur sekolah.

Kasus keracunan di SMPN 4 Pamarican menjadi peringatan keras bagi penyelenggara program MBG agar lebih memperhatikan faktor kebersihan, sumber air, dan kelayakan dapur produksi.

Dinas Pendidikan Ciamis bersama Satgas MBG kini tengah melakukan audit menyeluruh terhadap seluruh dapur SPPG guna memastikan insiden serupa tidak terulang.

Erwan berharap, ke depan seluruh dapur SPPG dapat memenuhi standar kelayakan yang telah ditetapkan pemerintah.

Ia juga mengimbau agar setiap pengelola dapur meningkatkan kesadaran terhadap pentingnya higienitas dan keamanan pangan.

“Kejadian ini menjadi pelajaran berharga. Kami akan pastikan setiap dapur yang beroperasi sudah layak secara sanitasi dan siap menyajikan makanan sehat bagi siswa,” pungkasnya.

Back to top button

Eksplorasi konten lain dari Reportasee.com™

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca