
Ratusan warga binaan dan petugas memenuhi Aula Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Banjar dengan khidmat pada Selasa, 11 Juni 2025.
Kehadiran Wakil Ketua Badan Sosialisasi MPR RI, Dr. Agun Gunandjar Sudarsa, membawa misi krusial untuk menanamkan nilai-nilai kebangsaan di lingkungan pemasyarakatan.
Melalui agenda sosialisasi Empat Pilar di Lapas, para warga binaan diajak untuk merenungkan kembali peran strategis mereka dalam menjaga stabilitas politik dan kedaulatan Indonesia di tengah ketidakpastian geopolitik global.
Langkah ini menjadi babak baru dalam program pembinaan, membuktikan bahwa keterbatasan fisik di balik jeruji besi tidak menghalangi seseorang untuk mencintai tanah air.
Hubungan emosional yang terbangun selama acara memperlihatkan tingginya rasa nasionalisme yang masih tertanam di hati para warga binaan.
Ringkasan Berita
Urgensi Sosialisasi Empat Pilar di Lapas: Benteng Ideologi dari Balik Jeruji
Dinamika politik global saat ini menuntut seluruh elemen bangsa untuk memperkuat fondasi moral, tidak terkecuali mereka yang sedang menjalani masa tahanan.
Dalam paparannya yang naratif, Anggota DPR RI dari Dapil Jawa Barat X tersebut membawa audiens menyelami esensi berbangsa yang sesungguhnya.
Ia menegaskan bahwa kedaulatan negara tidak hanya bertumpu pada kekuatan militer, melainkan pada ketangguhan ideologi rakyatnya.
“Di tengah persaingan global dan dinamika geopolitik saat ini, benteng pertahanan kita yang paling utama adalah pemahaman dan pengamalan Empat Pilar Kebangsaan,” ujarnya di hadapan peserta.
Lebih lanjut, ia merinci bahwa Pancasila sebagai ideologi, UUD 1945 sebagai konstitusi, NKRI sebagai bentuk negara yang final, dan Bhinneka Tunggal Ika merupakan kompas bersama.
Oleh karena itu, pelaksanaan sosialisasi Empat Pilar di Lapas dinilai sangat relevan agar tidak ada satu pun warga negara yang kehilangan arah, termasuk mereka yang sedang terpisah dari masyarakat luas.
Kawah Candradimuka untuk Menempa Diri
Menariknya, kegiatan ini dirancang khusus untuk menyentuh setiap lapisan masyarakat tanpa ada diskriminasi.
Lapas tidak boleh dipandang sebagai akhir dari segalanya atau tempat pembuangan, melainkan sebuah ‘kawah candradimuka’.
Tempat ini harus menjadi ruang terbaik bagi warga binaan untuk menempa diri, memperbaiki pola pikir, dan merajut kembali karakter yang sempat retak.
Target utama dari sosialisasi Empat Pilar di Lapas ini adalah memberikan bekal praktis.
Nilai-nilai luhur bangsa bukan sekadar teori hafalan untuk lulus ujian, melainkan instrumen hidup yang harus diterapkan dalam keseharian.
Baik selama masa pembinaan di dalam institusi maupun kelak saat mereka resmi bebas dan kembali berkontribusi aktif di tengah masyarakat.
Kalapas Banjar: Mengubah Karakter Lewat Nilai Nasionalisme
Kepala Lapas Kelas IIB Banjar, Tutut Prastyo, menyambut baik inisiatif strategis dari MPR RI ini.
Menurutnya, materi yang disampaikan menjadi suplemen dan penguat vital bagi program pembinaan kepribadian yang selama ini telah berjalan secara internal di Lapas Banjar.
“Apa yang disampaikan dalam sosialisasi Empat Pilar di Lapas ini sangat relevan dan sejalan dengan misi besar kami,” ungkap Tutut dengan optimis.
Tutut menambahkan, tugas pihak lapas tidak terbatas pada pembinaan secara hukum dan kedisiplinan semata.
Tugas yang jauh lebih berat adalah membentuk kembali karakter warga binaan menjadi insan yang bertanggung jawab, humanis, dan memiliki jiwa nasionalisme yang kokoh.
Pihak manajemen lapas berharap pemahaman yang didapat hari ini meresap ke dalam sanubari dan menjadi landasan hidup baru bagi seluruh warga binaan.
Kontribusi Warga Binaan untuk Stabilitas Nasional
Selama ini, ada stigma keliru yang menganggap bahwa stabilitas nasional hanya menjadi urusan pemerintah dan aparat keamanan.
Melalui momentum sosialisasi Empat Pilar di Lapas ini, paradigma tersebut dipatahkan.
Warga binaan diberikan motivasi besar bahwa mereka tetap memiliki peran strategis dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dengan berkomitmen memperbaiki diri, menjauhi pelanggaran hukum di masa depan, dan berikrar menjadi individu yang positif, mereka sudah andil dalam membangun stabilitas nasional dari tingkat paling dasar.
Keamanan negara dimulai dari pertobatan dan perubahan perilaku setiap individunya.
Kegiatan yang berlangsung dinamis ini akhirnya ditutup dengan atmosfer penuh optimisme. Pancaran harapan terlihat jelas dari wajah para warga binaan.
Dari balik tembok penjara yang dingin, semangat kebangsaan terbukti bisa tetap tumbuh subur, melahirkan manusia-manusia baru yang siap membangun Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur.





