BeritaPodcast

Gen Z Turun ke Sawah! Mahasiswa Unigal Buktikan Suksesnya Pertanian Organik Ciamis

Kesadaran akan pentingnya pertanian organik Ciamis kini tidak lagi hanya didominasi oleh petani senior, tetapi mulai merasuk kuat ke kalangan perguruan tinggi.

Bukti nyatanya ditunjukkan oleh 12 mahasiswa Fakultas Pertanian (Faperta) Universitas Galuh (Unigal) yang sukses menggelar panen perdana demplot padi di Desa Citeureup, Kecamatan Kawali, pada Sabtu (21/2/2026).

Melalui program inovatif bernama Sekolah Tani, para generasi Z (Gen Z) ini tidak sekadar berwacana teori di dalam kelas.

Mereka berani langsung turun lumpur menggarap sawah seluas 80 bata (1.040 meter persegi) dengan menerapkan metode System of Rice Intensification (SRI).

Kolaborasi Strategis Demi Pertanian Organik Ciamis

Keberhasilan demplot Sekolah Tani ini merupakan hasil kolaborasi ciamik antara mahasiswa dengan Yayasan Cendekia Mandiri Utama.

Hebatnya lagi, momen panen perdana tersebut turut disaksikan langsung oleh para pejabat penting di lingkungan Pemerintah Kabupaten Ciamis.

Sekretaris Daerah (Sekda) Ciamis, Dr. H. Andang Firman Triyadi, S.STP., M.T., hadir langsung memberikan apresiasi.

Sebagai Direktur Learning Manajemen System – Pertanian Sehat Ramah Lingkungan Berkelanjutan (LMS-PSRLB), ia mengaku sangat terkesan dengan aksi nyata para agen perubahan tersebut.

“Kegiatan ini menjadi contoh baik bagaimana generasi muda dapat berperan aktif dalam pembangunan pertanian berkelanjutan dan ramah lingkungan,” ujar Sekda Andang Firman dengan bangga.

Metode SRI Tingkatkan Hasil Panen dan Kualitas Tanah

Senada dengan Sekda, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Ciamis, Ape Ruswandana, S.P., M.P., turut menyoroti keunggulan metode SRI yang diterapkan mahasiswa.

Menurutnya, inovasi ramah lingkungan ini memiliki potensi luar biasa untuk terus dikembangkan secara massal.

“Selain meningkatkan produktivitas, pertanian organik dengan metode SRI juga mampu menjaga kesuburan tanah dan lingkungan,” tegas Ape.

Terlebih lagi, beras olahan dari gabah metode SRI terbukti jauh lebih sehat dibandingkan sistem konvensional yang rakus pupuk kimia.

Ketua Pelaksana Sekolah Tani, Muhamad Ramdani, merinci rahasia di balik suburnya tanaman mereka.

Penggunaan bibit muda, efisiensi air, serta aplikasi pupuk organik dan mikroorganisme lokal sukses memberikan hasil panen yang sangat memuaskan.

“Berdasarkan pengamatan lapangan, rata-rata satu bibit padi mampu menghasilkan hingga 25 anakan. Ini jauh lebih tinggi dibandingkan metode konvensional,” jelas Ramdani.

Menepis Stigma, Gen Z Siap Jadi Penggerak Ketahanan Pangan

Kesuksesan panen raya ini sekaligus menepis stigma bahwa anak muda zaman sekarang enggan kotor-kotoran menjadi petani.

Ketua BEM Faperta Unigal, Ahmad Yusuf Satibi, menegaskan bahwa mahasiswa justru memiliki gairah besar dalam memajukan sektor agraris.

“Kami sebagai mahasiswa pertanian membuktikan bahwa Gen Z memiliki keinginan untuk bertani. Saya berharap para peserta Sekolah Tani ini dapat menjadi pelaku sekaligus penggerak pertanian organik di lingkungan masing-masing,” ungkap Ahmad Yusuf penuh optimisme.

Ke depannya, inisiatif luar biasa dari program Sekolah Tani ini diharapkan terus berlanjut.

Target utamanya adalah melahirkan generasi muda berdaya saing yang berkomitmen menjadikan pertanian organik sebagai pilar utama ketahanan pangan daerah Ciamis.

Back to top button

Eksplorasi konten lain dari Reportasee.com™

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca