Berita

Lansia Tewas Tertabrak Kereta Kuto Jaya di Perlintasan Tanpa Palang Kota Banjar

Seorang pria lanjut usia dilaporkan meninggal dunia setelah tertabrak kereta api di sebuah perlintasan tanpa palang pintu di wilayah Kota Banjar, Jawa Barat, Minggu siang, 27 Juli 2025.

Insiden tragis ini terjadi tepatnya di Dusun Perum Balokang, RT 44 RW 14, Desa Balokang, Kecamatan Banjar, pada pukul 13.32 WIB.

Korban diketahui bernama Ihun Solihin (74), warga Lingkungan Awiluar, RT 13 RW 04, Kelurahan Situbatu, Kecamatan Banjar. Ia tertabrak Kereta Api Kuto Jaya yang melaju dari arah Kutoarjo menuju Kiaracondong.

Lokasi kejadian berada di KM 307, sebuah titik perlintasan sebidang yang tidak dilengkapi palang pintu atau sistem pengamanan otomatis.

Menurut keterangan petugas keamanan Stasiun Banjar, Dodi, insiden terjadi ketika korban mencoba melintasi rel menggunakan sepeda motor dari arah selatan ke utara.

Saat itu, kereta Kuto Jaya tengah melintas dengan kecepatan tinggi dari arah timur.

Diduga karena faktor usia dan gangguan pendengaran, korban tidak menyadari keberadaan kereta yang mendekat.

Baca Juga :  Caleg Dapil Jabar X Dituduh Lakukan Dugaan Money Politik Saat Masa Tenang

“Waktu itu saya sedang melakukan pengecekan jalur. Sekitar pukul 13.32 WIB kami mendapat laporan bahwa ada seorang warga yang tertemper kereta api,” ungkap Dodi saat dikonfirmasi.

Benturan keras antara tubuh korban dan rangkaian kereta mengakibatkan korban terseret sejauh kurang lebih 15 meter dari titik tabrakan.

Luka parah di bagian kepala membuat korban meninggal di tempat kejadian.

Tim evakuasi kemudian membawa jenazah ke Instalasi Pemulasaraan Jenazah (IPJ) RSUD Kota Banjar untuk proses lebih lanjut.

Dari informasi yang dihimpun di lapangan, korban dikenal sebagai sosok yang aktif berjualan mainan di sekolah sekitar.

Salah seorang warga, Abdul Manaf, mengungkapkan bahwa korban sering melintasi jalur kereta api tanpa palang tersebut setiap pagi.

“Saya kenal beliau, beliau biasa jualan mainan di sekolah. Tadi siang katanya baru balik ke lokasi setelah memperbaiki tempat dagangan,” ujar Manaf yang sehari-hari berprofesi sebagai tukang ojek di kawasan tersebut.

Baca Juga :  258 Desa di Ciamis Rampungkan Musdesus Koperasi Merah Putih, Siap Jalankan Amanat Presiden

Ia juga menyebutkan bahwa kondisi jalur yang sepi, terutama saat hari libur seperti Minggu, membuat situasi di perlintasan tersebut semakin rawan.

“Biasanya kalau ramai, ada saja warga yang memberi tahu jika ada kereta lewat. Tapi hari Minggu begini memang sepi,” tambahnya.

Peristiwa ini menyoroti kembali persoalan klasik perlintasan sebidang tanpa palang pintu di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk di Kota Banjar.

Minimnya fasilitas pengamanan dan ketiadaan rambu peringatan memadai membuat titik-titik seperti ini menjadi sangat berbahaya, terutama bagi pengguna jalan yang rutin melintas setiap hari.

Insiden yang menimpa Ihun Solihin memperlihatkan urgensi peningkatan keselamatan jalur perlintasan.

Baik melalui pembangunan palang otomatis, penambahan rambu visual dan suara, maupun peningkatan kesadaran masyarakat dalam menghadapi bahaya di jalur kereta api.

Pihak berwenang diharapkan segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap seluruh titik perlintasan tanpa palang di Kota Banjar dan sekitarnya untuk menghindari jatuhnya korban jiwa berikutnya.

Back to top button

Eksplorasi konten lain dari Reportasee.com™

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca