Berita

Keteladanan Dinilai Lebih Penting dari Nasihat dalam Mengamalkan Pancasila

Anggota Komisi XIII DPR RI, Dr. H. Agun Gunanjar Sudarsa, BcIP., M.Si., menegaskan bahwa dalam memahami dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila, keteladanan memiliki peran yang jauh lebih penting dibandingkan sekadar nasihat atau pepatah-petitih.

Pernyataan tersebut ia sampaikan saat menjadi keynote speaker dalam kegiatan Festival Konservasi dan Budaya yang digelar di Auditorium Rektorat Universitas Galuh (Unigal) Ciamis, pada Jumat (3/10/2025) sore.

Acara bertema “Penguatan Relawan Gerakan Kebajikan Pancasila kepada Kelompok Masyarakat” itu dihadiri sekitar 300 peserta, terdiri dari mahasiswa, civitas akademika Unigal, pelajar SMP dan SMA, komunitas kebangsaan, serta masyarakat sekitar kampus.

Dalam sambutannya, Agun menyoroti pentingnya keteladanan dalam mengamalkan Pancasila di tengah perubahan sosial yang cepat akibat kemajuan teknologi.

Ia menilai, peradaban manusia kini telah banyak bergeser, sehingga setiap individu harus semakin cerdas dan waspada dalam menyikapi perkembangan zaman.

“Kalau kita tidak cerdas dan tidak waspada, kondisi ini bisa membawa bangsa ke situasi yang memprihatinkan. Bahkan, bukan tidak mungkin Indonesia akan kehilangan jati dirinya akibat perpecahan,” ujarnya dengan nada tegas.

Agun menegaskan bahwa ideologi Pancasila merupakan benteng terakhir persatuan bangsa, yang wajib dijaga melalui berbagai gerakan kebajikan.

“Indonesia memiliki ideologi Pancasila, dan itulah yang harus dipertahankan. Maka wajib bagi kita semua untuk terus melakukan gerakan-gerakan kebajikan,” ajaknya.

Lebih lanjut, politikus Partai Golkar asal Daerah Pemilihan Jawa Barat X ini menegaskan, Pancasila bukan sekadar dasar negara, tetapi juga pandangan hidup yang mencerminkan nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan.

Baca Juga :  Momen Haru di Lakbok, Bupati Herdiat Datangi Janda Penjual Keliling untuk Serahkan Rutilahu

Menurutnya, bila nilai-nilai tersebut benar-benar menjadi pola pikir seluruh warga negara dan penyelenggara negara, maka seluruh kebijakan yang diambil pun akan mengandung unsur kebajikan.

“Kalau seseorang berpikir dengan landasan ketuhanan, maka tutur katanya tidak akan kotor, tidak akan mudah menyalahkan orang lain, dan tidak akan membuat kebijakan yang berpotensi menimbulkan perpecahan,” tutur Agun yang telah duduk di DPR RI selama tujuh periode berturut-turut.

Dalam kesempatan yang sama, Agun juga menyoroti perilaku masyarakat di media sosial yang belakangan dianggap semakin mengkhawatirkan.

Ia menilai, arus informasi digital yang kian deras sering kali bersifat manipulatif dan dapat memecah belah masyarakat.

“Sekarang ini banyak sekali informasi yang bersifat menggiring opini dan memunculkan pro-kontra. Kita bisa lihat contohnya pada aksi demonstrasi besar di akhir Agustus lalu. Bila kita tidak cerdas menyaring informasi, maka mudah sekali terbawa arus yang menyesatkan,” jelasnya.

Oleh sebab itu, ia mengajak seluruh lapisan masyarakat, termasuk kalangan akademisi, untuk meningkatkan kewaspadaan nasional dan terus memperkuat semangat kebajikan demi menjaga keutuhan bangsa.

“Gerakan-gerakan kebajikan seperti ini sangat relevan untuk mempertahankan ideologi Pancasila dan keutuhan berbangsa. Sekaligus menjadi upaya merawat warisan budaya dan meneguhkan jati diri bangsa,” tambahnya.

Indonesia, lanjut Agun, merupakan negara dengan keanekaragaman alam dan budaya yang luar biasa. Dikelilingi ribuan pulau, ratusan suku, serta beragam bahasa daerah, bangsa ini bersatu di bawah semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

“Keberagaman itu adalah kekuatan, bukan kelemahan. Pancasila lah yang mempersatukan semua perbedaan menjadi harmoni dalam satu bingkai kebangsaan,” ucapnya.

Baca Juga :  Bupati Ciamis Gelar Silaturahmi, Tegaskan Komitmen Pembangunan

Sementara itu, Direktur Jaringan dan Pemberdayaan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Toto Purbanto, yang turut hadir dalam acara tersebut, menjelaskan bahwa pendekatan pembinaan ideologi Pancasila saat ini jauh berbeda dengan masa Orde Baru.

“Dulu pada masa Orde Baru, ada program P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) yang sifatnya cenderung doktriner dan mengutamakan hafalan,” jelas Toto.

Namun kini, lanjutnya, BPIP lebih menekankan pada pembinaan yang bersifat aplikatif dengan menyasar generasi muda.

Program-program yang dijalankan dirancang agar relevan dengan perkembangan zaman, seperti lomba-lomba yang menonjolkan keteladanan dan praktik pengamalan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

“Sekitar 70 persen kegiatan difokuskan pada praktik, dan hanya 30 persen pada aspek hafalan atau teori,” tambahnya.

Rektor Universitas Galuh (Unigal) Ciamis, Prof. Dr. Dadi, M.Si., dalam kesempatan yang sama menyampaikan bahwa kegiatan Festival Konservasi Budaya ini merupakan kali kedua Unigal bekerja sama dengan BPIP dalam menguatkan gerakan kebajikan berbasis nilai-nilai Pancasila.

Menurutnya, kegiatan tersebut diharapkan dapat menjadi langkah konkret bagi kalangan akademisi dalam membumikan nilai-nilai luhur bangsa di tengah tantangan globalisasi.

“Kegiatan ini memang langkah kecil, namun diharapkan mampu memberikan dampak besar dalam merawat warisan budaya dan meneguhkan jati diri sebagai identitas bangsa,” pungkas Prof. Dadi.

Back to top button

Eksplorasi konten lain dari Reportasee.com™

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca