
Di tengah dominasi atlet-atlet muda yang penuh energi dan teknik ciamik, seorang sosok berusia 53 tahun berhasil mencuri perhatian publik.
Ia adalah Hartono Soekwanto, pria yang akrab dijuluki “Bos Koi”, yang sukses menorehkan prestasi membanggakan dengan menjuarai Sirkuit Nasional (Sirnas) Padel 2025 di Surabaya.
Bertanding bersama rekannya, Williz, Hartono tampil impresif di kelas Men Bronze pada Minggu (31/8/2025).
Keduanya berhasil menyingkirkan banyak pasangan pemain muda yang terkenal agresif dan lincah di lapangan.
Hartono tidak menampik bahwa perjuangannya kali ini penuh tantangan. Mayoritas lawan yang dihadapinya adalah pemain muda yang sudah menguasai teknik permainan padel modern.
Namun, alih-alih gentar, ia memilih tampil tenang dan sabar.
“Saya main cukup happy, kemudian juga saya main sabar-sabar sampai final dan bisa berhasil jadi champion,” ungkap Hartono usai pertandingan.
Menurutnya, kunci kemenangan terletak pada ketenangan, kesabaran, dan kepercayaan diri, disertai dengan kekompakan bersama Williz.
Faktor itu pula yang membuat mereka mampu menghadapi tekanan dari lawan-lawannya yang lebih bertenaga.
Sirnas Padel merupakan turnamen penting di kalender olahraga padel Indonesia.
Tahun ini, kompetisi digelar di tiga kota besar, yakni Jakarta, Surabaya, dan Bali sebagai tuan rumah Grand Final.
Bagi Hartono, bisa berdiri di podium juara pada turnamen sebesar ini adalah sebuah kebanggaan tersendiri.
Ia menilai, gelar tersebut tidak datang begitu saja, melainkan hasil dari latihan intensif dan persiapan matang.
“Saya bangga dan merasa terhormat bisa juara, karena hingga menjadi juara sampai saat ini cukup memerlukan latihan yang lumayan berat,” ujarnya dengan penuh rasa syukur.
Kemenangan Hartono Soekwanto mendapat sambutan positif dari Perkumpulan Besar Padel Indonesia (PBPI).
Ketua Bidang Organisasi PBPI, Aryo Harmensyah, bahkan mengakui ketangguhan Hartono yang sempat mengalahkannya di babak awal.
“Jujur, ini Pak Hartono bisa ngalahin aku, ronde pertama langsung K.O,” kata Aryo.
Lebih jauh, Aryo menjelaskan bahwa Sirnas Padel tidak hanya menjadi ajang perebutan gelar juara, tetapi juga sarana menjaring bibit-bibit baru untuk tim nasional.
PBPI pun berencana membuka kelas khusus usia senior, seperti kategori 45, 50, dan 55 tahun.
Tujuan utama dari inisiatif ini adalah untuk memasyarakatkan olahraga padel yang kian digemari.
“Dengan menyediakan wadah bagi semua usia, PBPI berharap padel dapat menjadi olahraga yang inklusif dan bisa dinikmati siapa saja,” tambahnya.
Kisah Hartono Soekwanto menjadi bukti bahwa usia tidak pernah menjadi penghalang untuk berprestasi.
Kemenangannya di Surabaya menunjukkan bahwa disiplin, semangat juang, dan kerja keras mampu mengalahkan keunggulan usia muda.
Bagi banyak orang, prestasi Hartono bukan hanya kemenangan pribadi, melainkan juga sumber inspirasi bagi atlet senior dan masyarakat luas untuk terus berusaha meraih impian, tanpa mengenal kata terlambat.





