
Memasuki fase krusial pada bulan puasa 1447 H, fluktuasi harga komoditas pokok di sejumlah pasar tradisional Jawa Barat mulai menunjukkan tren kenaikan yang signifikan.
Berdasarkan pantauan riil pada Jumat pagi (27/2/2026), harga pangan jelang pekan kedua Ramadan mencatatkan lonjakan tajam, terutama pada sektor protein hewani seperti daging sapi dan telur ayam ras.
Kenaikan ini mulai memicu kekhawatiran di kalangan ibu rumah tangga serta pelaku usaha kuliner skala kecil.
Tren lonjakan harga terpantau terjadi secara serentak di beberapa wilayah penyangga.
Mulai dari Bandung Raya, Tasikmalaya, hingga Ciamis, dengan persentase kenaikan rata-rata berkisar antara 10 hingga 15 persen dibandingkan harga pada awal bulan puasa.
Rincian Kenaikan Harga: Daging Sapi Tembus Rp150 Ribu
Data yang dihimpun tim redaksi reportasee.com dari berbagai pasar tradisional menunjukkan bahwa harga daging sapi kualitas premium kini telah menyentuh angka Rp150.000 hingga Rp160.000 per kilogram.
Padahal, pada hari-hari pertama Ramadan, komoditas ini masih stabil di kisaran Rp135.000 per kilogram.
Selain daging sapi, komoditas telur ayam ras juga mengalami penyesuaian harga yang cukup memberatkan konsumen.
Di beberapa pasar induk di kawasan Priangan Timur, telur ayam kini dibanderol seharga Rp32.000 per kilogram, merangkak naik dari posisi sebelumnya di angka Rp28.000.
Kondisi ini umumnya dipicu oleh meningkatnya konsumsi masyarakat untuk persiapan buka puasa bersama, serta upaya warga menstok bahan makanan pokok menuju pertengahan bulan suci.
Faktor Cuaca dan Rantai Pasok Jadi Penyebab Utama
Terdapat beberapa faktor eksternal yang ditengarai menjadi pemicu utama tren harga pangan jelang pekan kedua Ramadan ini.
Selain siklus tahunan di mana permintaan selalu melampaui batas normal, cuaca ekstrem yang melanda sebagian wilayah Jawa Barat dalam beberapa hari terakhir turut mengganggu kelancaran distribusi logistik.
Curah hujan yang tinggi sering kali menghambat armada pengiriman komoditas dari daerah sentra produksi menuju pasar-pasar induk.
Keterlambatan pasokan di tingkat distributor ini secara otomatis berdampak pada penyesuaian harga jual di tingkat pedagang eceran.
Lebih lanjut, fluktuasi harga pakan ternak di pasar global juga menjadi salah satu alasan mendasar mengapa harga jual komoditas.
Seperti telur dan daging ayam sangat rentan mengalami kenaikan dan sulit ditekan kembali ke harga normal dalam waktu singkat.
Antisipasi Pemerintah: Operasi Pasar Murah Segera Digelar
Guna menekan laju inflasi daerah dan mempertahankan daya beli masyarakat, sejumlah otoritas pemerintah daerah di wilayah Jawa Barat tengah menyiapkan langkah intervensi.
Salah satu upaya yang akan dipercepat adalah pelaksanaan Operasi Pasar Murah (OPM) di berbagai titik strategis.
Program ini direncanakan akan menyasar kawasan pemukiman padat penduduk dengan menyediakan paket sembako bersubsidi.
Di sisi lain, masyarakat terus diimbau untuk berbelanja secara bijak dan menghindari aksi borong (panic buying) yang justru berpotensi memperparah kondisi kelangkaan barang di pasaran.
Distribusi pasokan dari sentra peternakan saat ini sedang diprioritaskan untuk segera disalurkan ke pasar-pasar lokal guna menstabilkan harga dalam beberapa hari ke depan.
Di tengah fluktuasi harga pangan jelang pekan kedua Ramadan, pengelolaan keuangan dapur dituntut untuk lebih cermat.
Mengkombinasikan hidangan berbuka dan sahur dengan sumber protein nabati, seperti tahu, tempe, atau kacang-kacangan, dapat menjadi alternatif cerdas untuk mengimbangi mahalnya harga protein hewani.
Selain itu, memanfaatkan aplikasi informasi harga pangan daerah secara rutin sebelum berbelanja sangat disarankan agar konsumen dapat memetakan pasar mana yang menawarkan harga paling kompetitif.





