
Gerakan belanja di pasar rakyat yang dicanangkan Pemerintah Kota Banjar mulai menunjukkan dampak positif terhadap aktivitas ekonomi lokal.
Sejumlah ASN di Kota Banjar, Jawa Barat, telah terlihat berbelanja di pasar tradisional sejak kebijakan ini berlaku, dan kehadiran mereka diyakini mampu membantu meningkatkan omzet pedagang pasar.
Ketua Paguyuban Pasar Banjar, Aa Sukmana, mengungkapkan bahwa seminggu setelah surat edaran Wali Kota Banjar diterbitkan, sudah ada ASN yang mulai berbelanja di pasar.
Meski jumlahnya masih terbatas, ia menilai ini adalah awal yang baik untuk mendukung perekonomian pedagang kecil.
“Informasi dari pedagang menyebutkan sudah ada ASN yang datang berbelanja, meskipun jumlahnya masih sedikit,” ujarnya, Senin (28/7/2025). “Saya memperkirakan jumlahnya akan meningkat di awal bulan, saat ASN menerima gaji.”
Bagi para pedagang pasar, kehadiran ASN yang berbelanja memberikan angin segar di tengah persaingan dengan pusat perbelanjaan modern.
Sukmana menuturkan, kebijakan ini bukan hanya sekadar membantu penjualan, tetapi juga dapat mempromosikan produk lokal kepada kalangan yang lebih luas.
“Kami mengapresiasi upaya ini karena jelas membantu meningkatkan omzet pedagang,” ucapnya. “Selain itu, ini juga menjadi ajang promosi bagi produk-produk yang dijual di pasar tradisional.”
Menurut Sukmana, beberapa pedagang di Pasar Banjar kini juga mulai memanfaatkan teknologi digital untuk memperluas jangkauan pasar.
“Banyak pedagang, khususnya yang menjual sayuran, sudah menggunakan aplikasi digital untuk memasarkan produk mereka. Harapannya, kebijakan ini bisa berjalan beriringan dengan inovasi tersebut,” tambahnya.
Kebijakan ini merujuk pada Surat Edaran Wali Kota Banjar Nomor 5/.2/2883/DKUKMP/2025 yang mengimbau ASN lingkup Pemkot Banjar agar berbelanja di pasar rakyat minimal sekali dalam seminggu.
Kepala Dinas KUKMP Kota Banjar, Sri Sobariah, menjelaskan bahwa ketentuan ini bersifat ajakan dan tidak memaksa.
“Nominal belanja disesuaikan dengan kemampuan masing-masing ASN. Intinya, kami ingin memancing partisipasi ASN sebagai contoh bagi masyarakat umum,” ujarnya.
Sukmana berharap gerakan ini dapat berjalan konsisten agar benar-benar mampu meningkatkan omzet pedagang pasar.
Menurutnya, keberhasilan kebijakan ini bergantung pada sinergi antara pemerintah, ASN, dan adaptasi teknologi oleh pedagang.
“Kalau semua pihak berperan aktif, saya yakin pasar tradisional akan kembali ramai dan mampu bersaing dengan pusat perbelanjaan modern,” tegasnya.
Gerakan ini sekaligus menegaskan komitmen Pemkot Banjar untuk mendukung ekonomi lokal melalui langkah sederhana namun berdampak besar: membiasakan ASN berbelanja di pasar tradisional.





