
Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) kolaborasi dosen Universitas Galuh menghadirkan inovasi edukasi yang mengintegrasikan aspek budaya dan teknologi modern.
Mereka menggelar pelatihan khusus mengenai metode desain batik berbasis GeoGebra di SMKN 1 Kawali untuk mendorong keterampilan praktis para siswa.
Langkah nyata ini diharapkan mampu menjadi jawaban atas tantangan kesiapan kerja yang dihadapi oleh dunia pendidikan vokasi saat ini.
Kegiatan yang digagas oleh dosen Program Studi Pendidikan Matematika dan Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Galuh ini berlangsung secara bertahap.
Tim pelaksana terlebih dahulu melakukan pembekalan intensif terkait materi desain batik berbasis GeoGebra di SMKN 1 Kawali kepada jajaran guru mata pelajaran matematika di sekolah tersebut.
Setelah itu, program dilanjutkan dengan tahap implementasi langsung di kelas bersama para siswa kelas XI dan XII.
Acara pelatihan komprehensif ini sukses dilaksanakan pada Kamis (18/06/2026) dengan diikuti oleh seluruh guru matematika dari sekolah terkait.
Ruang lingkup materi yang disampaikan berfokus pada pentingnya sinergi antara nilai kebudayaan lokal, sains matematika, dan pemanfaatan teknologi digital.
Melalui pendekatan multidisiplin ini, implementasi desain batik berbasis GeoGebra di SMKN 1 Kawali diharapkan dapat mentransformasi suasana belajar mengajar menjadi lebih dinamis.
Ringkasan Berita
Warisan Budaya dan Pendekatan Sains
Sri Pajriah, salah satu pemateri yang membawakan topik ‘Batik sebagai Warisan Budaya’ menegaskan bahwa batik bukan sekadar kain bermotif biasa.
Warisan leluhur ini memiliki nilai historis, filosofis, estetis, yang berujung pada potensi ekonomis yang sangat tinggi.
Menurutnya, status kebudayaan Indonesia yang telah diakui oleh UNESCO harus terus dijaga melalui inovasi seperti program desain batik berbasis GeoGebra di SMKN 1 Kawali.
Secara khusus, Sri memperkenalkan kekayaan lokal berupa Batik Ciamisan yang dikenal luas memiliki karakteristik corak yang bersahaja, simpel, serta didominasi motif bernuansa naturalistik.
Batik khas Kabupaten Ciamis ini pernah mengalami masa keemasan yang sangat gemilang pada era tahun 1960 hingga 1980-an.
Melalui wawasan tersebut, draf desain batik berbasis GeoGebra di SMKN 1 Kawali nantinya bisa mengadopsi motif lokal legendaris seperti Ciungwanara, Galuh Pakuan, hingga Cupat Manggu.
Oleh karena itu, pengenalan kearifan lokal ini dinilai sangat krusial bagi generasi muda guna membangun jiwa kewirausahaan yang mandiri.
Melalui penguatan wawasan ini, para siswa dapat terinspirasi untuk mengembangkan kreasi bernilai jual tinggi.
Penggabungan identitas daerah dan keahlian teknis diharapkan mampu melahirkan produk kreatif baru yang relevan dengan tren pasar modern saat ini.
Transformasi Digital Lewat GeoGebra
Di sisi lain, materi inti mengenai aspek teknis digital disampaikan oleh Nur Eva Zakiah, M.Pd. Dalam pemaparannya, ia mengupas tuntas modul praktis tentang tata cara desain batik berbasis GeoGebra di SMKN 1 Kawali.
Penggunaan konteks budaya lokal ini diklaim sangat mendukung target Sustainable Development Goals (SDGs), terutama pada pilar pelestarian kebudayaan global.
Aplikasi GeoGebra sendiri dipilih karena perangkat lunak matematika ini sangat mumpuni untuk membuat pola geometris secara akurat dan visual.
Pengguna dapat memanfaatkan rumus transformasi geometri, seperti refleksi, rotasi, dan dilatasi untuk membentuk draf motif batik yang simetris dan presisi.
Keunggulan komputasi ini membuat agenda desain batik berbasis GeoGebra di SMKN 1 Kawali menjadi jauh lebih mudah dipelajari oleh siswa awam.
Sementara itu, pihak sekolah menyambut baik program kerja sama yang dinilai memberikan dampak instan bagi peningkatan kualitas siswa ini.
Kepala sekolah menegaskan bahwa pelatihan desain batik berbasis GeoGebra di SMKN 1 Kawali hadir pada momentum yang tepat sebagai solusi solutif atas masalah produktivitas lulusan.
Pihak manajemen sekolah berkomitmen penuh untuk mengawal keberlanjutan program IT ini.
Mengatasi Tantangan Pengangguran Vokasi
Menurut Kepala Sekolah, salah satu permasalahan utama yang masih membayangi SMK adalah tingginya angka pengangguran serta rendahnya keterampilan kreatif berbasis teknologi digital.
Selain itu, belum optimalnya kemandirian siswa dalam menciptakan peluang usaha mandiri pasca-kelulusan juga menjadi pekerjaan rumah bersama.
Kehadiran program desain batik berbasis GeoGebra di SMKN 1 Kawali dinilai mampu mendongkrak daya saing siswa secara signifikan.
Penerapan program ini terbukti dapat memicu motivasi belajar siswa agar semakin mencintai matematika di dalam kelas.
Penggabungan rumus hitung dan seni membuat materi ajar yang semula dianggap kaku menjadi jauh lebih menarik bagi remaja.
Lebih jauh, literasi digital siswa akan terasah secara otomatis seiring dengan tingginya intensitas aktivitas desain batik berbasis GeoGebra di SMKN 1 Kawali menggunakan gawai atau laptop.
Pihak sekolah optimis bahwa bekal keterampilan ini akan menumbuhkan kecintaan mendalam terhadap kebudayaan sekaligus menekan angka pengangguran lulusan vokasi.
Evaluasi berkala akan terus dilakukan demi memastikan keberlanjutan dampak positif dari program desain batik berbasis GeoGebra di SMKN 1 Kawali ini di masa depan.
Proyek percontohan ini diharapkan juga dapat diadopsi secara luas oleh sekolah-sekolah kejuruan lainnya di wilayah Jawa Barat.





