
Fenomena alam yang jarang terjadi mengundang perhatian warga Desa Karangpaningal, Kecamatan Tambaksari, Kabupaten Ciamis.
Di sebuah kebun kapol yang berada di belakang rumah seorang warga bernama Aki Wihatmi, sekuntum bunga bangkai raksasa (Amorphophallus titanium Beck) ditemukan mekar sempurna, Sabtu (15/11/2025) sore.
Penemuan ini terjadi sekitar pukul 15.25 WIB, ketika Kepala Dusun Kampung Kuta, Didi Sardi, tengah dalam perjalanan pulang setelah berburu tupai.
Tepat sebelum hujan turun, sebuah bentuk besar mencolok di antara tanaman kapol menarik perhatiannya.
Setelah didekati, ternyata bunga bangkai yang terkenal dengan ukuran dan aromanya itu sedang berada pada fase mekar penuh.
“Saat lewat kebun belakang rumah Aki Wihatmi, saya melihat ada bunga bangkai yang sedang mekar,” ujar Didi Sardi ketika dihubungi Reportasee.com.
Ia menjelaskan bahwa kondisi bunga saat ditemukan sudah terbuka sempurna tanpa tanda-tanda mulai layu.
Menurut Didi, kemunculan bunga bangkai di wilayah tersebut bukan hal yang terjadi setiap waktu.
Tanaman ini biasanya hanya muncul sekitar sekali dalam setahun, terutama pada awal musim hujan atau menjelang peralihan cuaca.
Meski begitu, keberadaannya tetap dianggap langka dan kerap menjadi perhatian warga setiap kali muncul.
Didi juga mengungkapkan bahwa pada hari yang sama, ia menerima kabar dari adiknya mengenai kemunculan bunga bangkai lain yang juga mekar di Dusun Marga, yang masih termasuk dalam wilayah Desa Karangpaningal.
Informasi itu membuat warga setempat semakin antusias karena dua bunga bangkai mekar pada waktu yang hampir bersamaan merupakan kejadian yang tidak sering terjadi.
Di Kampung Kuta, bunga bangkai lebih dikenal sebagai kembang suweg, sebutan lokal yang sudah digunakan sejak lama.
Meski mekarannya mampu menghadirkan pemandangan yang memukau, bunga ini juga terkenal dengan aroma menyengat menyerupai bau bangkai, terutama saat memasuki fase akhir sebelum layu.
Biasanya, setelah sekitar satu minggu, bunga akan mengering, membusuk, dan mengeluarkan bau tajam yang khas.
Di balik itu, tanaman suweg sebenarnya memiliki manfaat lain bagi warga setempat. Bagian umbinya sering diolah menjadi makanan tradisional.
Umbi tersebut dikukus setelah dibersihkan dan dipotong-potong, kemudian disantap bersama parutan kelapa.
“Umbi suweg setelah dikukus biasanya disantap dengan parutan kelapa. Itu makanan khas lembur,” jelas Didi.
Mekarnya bunga bangkai di Karangpaningal kali ini tidak hanya menjadi tontonan warga.
Tetapi juga menjadi pengingat akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan yang memungkinkan flora langka seperti Amorphophallus titanium tetap tumbuh.
Fenomena ini sekaligus memperkaya pengetahuan masyarakat tentang keberagaman hayati yang masih hidup di sekitar mereka.





