
Sering melihat komentar “Pick me banget sih!” atau “Bau-bau pick me girl nih” berseliweran di linimasa TikTok maupun X (Twitter)?
Istilah ini telah menjadi bahasa gaul yang sangat cepat menempel pada individu yang dianggap haus validasi atau berusaha keras agar terlihat paling berbeda dari orang lain.
Lantas, sebenarnya apa itu pick me dan mengapa tren pelabelan ini terus relevan hingga tahun 2026?
Fenomena ini bukan sekadar ejekan siber biasa. Di balik kata yang singkat tersebut, terdapat perilaku psikologis dan dinamika sosial yang cukup kompleks di era digital saat ini.
Ringkasan Berita
Memahami Arti “Pick Me” dalam Bahasa Gaul
Secara harfiah, istilah pick me berasal dari bahasa Inggris yang terjemahan bebasnya adalah “pilih aku”.
Dalam konteks pergaulan modern dan budaya internet, apa itu pick me merujuk pada seseorang yang berusaha dengan sangat keras untuk mendapatkan perhatian, pujian, atau penerimaan dari lawan jenis.
Cara utama yang mereka gunakan adalah dengan menonjolkan diri sebagai sosok yang “tidak biasa” atau “berbeda” dari stereotip gendernya sendiri.
Ironisnya, perilaku ini sering kali dibarengi dengan tindakan merendahkan kelompok atau gendernya sendiri demi terlihat lebih superior.
Meskipun pada awalnya istilah ini sangat identik dengan perempuan (pick me girl), seiring berjalannya waktu, sebutan ini juga meluas dan berlaku untuk laki-laki (pick me boy).
Ciri-Ciri Utama Pick Me Girl di Era Digital
Untuk memahami sepenuhnya apa itu pick me, Anda perlu mengenali karakteristiknya yang khas.
Berikut adalah beberapa ciri utama pick me girl yang sering memancing perdebatan di media sosial:
- Sindrom “I’m Not Like Other Girls”: Mereka sangat gemar membandingkan diri dan menonjolkan perbedaan secara berlebihan. Kalimat andalannya sering kali berbunyi, “Cuma aku ya cewek yang nggak suka nongkrong di kafe estetik dan lebih pilih ngopi di warkop?”
- Merendahkan Standar Feminin: Mereka memiliki kecenderungan mengejek atau memandang sebelah mata perempuan lain yang menyukai makeup, skincare, berbelanja, atau mengikuti tren fashion. Mereka menganggap hal-hal tersebut sebagai sesuatu yang “ribet”, “palsu”, atau “buang-buang waktu”.
- Mengklaim Lebih Nyaman Bergaul dengan Laki-Laki: Alasannya sangat klasik. Mereka sering menyatakan bahwa berteman dengan sesama perempuan itu “banyak drama” atau “terlalu sensitif”, sehingga mereka merasa lebih cocok berada di lingkaran pertemanan laki-laki.
- Haus Validasi Lawan Jenis: Hampir segala tindakan, unggahan di media sosial, dan opini yang mereka sampaikan dirancang sedemikian rupa untuk mendapatkan pengakuan dari laki-laki.
Apa Itu Pick Me Boy? Kenali Bedanya
Berbeda dengan perempuan yang cenderung asertif dalam menunjukkan perbedaannya, pick me boy memiliki pendekatan yang sedikit berbeda dan sering kali lebih manipulatif untuk menarik simpati.
Mereka sering menggunakan taktik self-deprecating atau merendahkan diri sendiri agar mendapatkan pembelaan dan validasi dari perempuan.
Contoh kalimat yang sangat khas adalah: “Aku mah apa atuh, cuma cowok biasa yang nggak punya mobil mewah, pasti nggak ada cewek yang mau sama aku.”
Tujuan utama dari kalimat tersebut bukan karena ia benar-benar merasa rendah diri, melainkan untuk memancing respons positif atau pujian seperti, “Nggak kok, kamu itu baik banget dan pengertian, itu yang paling penting!”
Mengapa Seseorang Bisa Menjadi Pick Me?
Dari sudut pandang psikologis, perilaku pick me tidak muncul begitu saja. Ada beberapa faktor mendalam yang memicunya:
- Internalized Misogyny (Misogini Terinternalisasi): Pada perempuan, perilaku ini sering dikaitkan dengan pandangan bawah sadar bahwa hal-hal yang berbau feminin itu lemah atau kurang berharga. Oleh karena itu, mereka berusaha menjauhi sifat feminin tersebut agar dihargai oleh lingkungan yang patriarki.
- Krisis Kepercayaan Diri: Rasa insecure yang tinggi membuat seseorang merasa harus membuat “karakter palsu” agar diterima oleh lingkungan sekitarnya.
- Fear of Missing Out (FOMO) pada Validasi: Di era media sosial, likes dan komentar pujian adalah mata uang sosial. Seseorang bisa menjadi pick me demi mempertahankan engagement dan sorotan pada dirinya.
Dampak Negatif Sindrom Pick Me dalam Hubungan Sosial
Memelihara sifat pick me memiliki konsekuensi sosial yang nyata. Seseorang dengan karakter ini lambat laun akan kesulitan membangun hubungan pertemanan yang tulus, terutama dengan sesama gendernya.
Mereka rentan dikucilkan karena dianggap toxic dan selalu ingin bersaing.
Selain itu, mempertahankan kepribadian yang tidak autentik hanya demi validasi orang lain tentu akan menguras energi mental (kelelahan emosional).
Cara Elegan Menghadapi Teman yang Pick Me
Jika Anda memiliki rekan kerja atau teman dengan ciri-ciri di atas, Anda tidak perlu langsung memusuhinya. Berikut cara menghadapinya:
- Jangan Beri Pancingan: Abaikan saat mereka mulai membandingkan diri atau memancing pujian. Jika mereka tidak mendapat validasi yang dicari, perlahan mereka akan menghentikan taktik tersebut di depan Anda.
- Beri Tanggapan Netral: Jawab pernyataannya dengan santai. Misalnya, jika ia berkata “Aku mah nggak bisa dandan”, Anda cukup menjawab, “Oh, ya nggak apa-apa, tiap orang kan beda-beda kesukaannya.”
- Tetapkan Batasan: Jika perilakunya sudah mulai merendahkan Anda atau orang lain di sekitarnya, jangan ragu untuk menegur dengan sopan namun tegas.
Autentik Lebih Baik daripada Sekadar Berbeda
Pada akhirnya, memahami apa itu pick me mengajarkan kita untuk lebih mawas diri. Memiliki selera yang unik atau tomboi adalah hal yang sangat normal dan sah-sah saja.
Namun, yang menjadi masalah adalah ketika keunikan tersebut digunakan sebagai alat untuk menjatuhkan orang lain demi sebuah validasi.
Jadilah diri sendiri secara autentik, tanpa perlu merasa harus bersaing atau membuktikan bahwa Anda lebih baik dari orang lain.





