
Penantian panjang masyarakat yang bermukim di wilayah perbatasan Provinsi Jawa Barat dan Banten akhirnya berakhir.
Setelah hampir 30 tahun hidup dengan keterbatasan akses, warga Desa Pasirbaru, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, dan Desa Cibareno, Kecamatan Cilograng, Kabupaten Lebak, Banten, kini kembali terhubung melalui Jembatan Permata yang resmi dioperasikan, Sabtu, 17 Januari 2026.
Bagi warga setempat, peresmian jembatan ini bukan sekadar hadirnya infrastruktur baru, melainkan terwujudnya mimpi lama yang sempat terhenti sejak jembatan sebelumnya hanyut akibat banjir besar pada tahun 1995.
Sejak saat itu, akses antarwilayah terputus dan memaksa masyarakat menempuh jalur alternatif yang lebih jauh, memakan waktu, tenaga, serta biaya yang tidak sedikit.
Sinergi Foundation mengambil peran penting dalam menjawab kebutuhan mendasar tersebut.
Melalui program Sasaka Indonesia, lembaga filantropi ini menginisiasi pembangunan kembali Jembatan Permata dengan menggandeng Permata Bank Syariah serta melibatkan partisipasi dan swadaya masyarakat setempat.
Kolaborasi lintas pihak ini menjadi kunci terwujudnya infrastruktur yang telah lama dinantikan warga perbatasan Jabar–Banten.
Kehadiran Jembatan Permata membawa dampak langsung bagi kehidupan lebih dari 2.500 warga di kedua desa.
Akses mobilitas yang sebelumnya terbatas kini menjadi lebih mudah, aman, dan layak.
Aktivitas ekonomi kembali menggeliat, distribusi hasil pertanian dan perdagangan menjadi lebih efisien, serta mobilitas warga menuju fasilitas pendidikan dan layanan kesehatan dapat dilakukan dengan lebih cepat dan aman.
Strategic Partnership Sinergi Foundation, Dedi Sutrisno, menegaskan bahwa pembangunan jembatan ini dilandasi oleh komitmen untuk menghadirkan akses yang adil bagi masyarakat di wilayah terpencil dan sulit dijangkau.
Menurutnya, infrastruktur dasar merupakan fondasi penting bagi peningkatan kualitas hidup masyarakat.
“Alhamdulillah, berkat kolaborasi semua pihak, renovasi jembatan gantung beralas bordes ini dapat diselesaikan. Kami berharap jembatan ini mampu membawa perubahan signifikan bagi kondisi sosial dan ekonomi masyarakat sekitar,” ujar Dedi dalam sambutannya.
Ia menjelaskan bahwa Jembatan Permata dirancang dengan mengedepankan aspek keamanan dan kenyamanan pengguna.
Proses pembangunan berlangsung selama kurang lebih 90 hari, dimulai sejak akhir November 2025 hingga selesai pada 8 Januari 2026.
Jembatan ini memiliki panjang sekitar 51 meter dan lebar 1,2 meter, dengan alas berbahan bordes yang dipilih untuk memberikan rasa aman bagi warga yang melintas setiap hari.
Komitmen Sinergi Foundation dalam mengelola dan menyalurkan dana sosial secara optimal juga ditegaskan oleh Wakil Ketua UPZDK, Awaludin Gumbira.
Ia menyampaikan bahwa pembangunan Jembatan Permata merupakan bentuk pemanfaatan dana umat yang diarahkan pada program berdampak luas dan berkelanjutan.
“Jika kita memandang jembatan ini secara lebih luas, di dalamnya terkandung nilai pendidikan, ekonomi, hingga kesehatan,” tuturnya.
Rasa syukur dan apresiasi disampaikan oleh tokoh masyarakat setempat, H. Syamsudin, warga Kampung Bantar Kelapa, Desa Cibareno.
Ia mengungkapkan bahwa selama puluhan tahun warga harus memutar melalui jalur yang jauh untuk menjalankan aktivitas sehari-hari.
Kondisi tersebut tidak hanya menyulitkan mobilitas, tetapi juga membebani biaya perjalanan masyarakat.
“Dengan adanya jembatan ini, aktivitas ekonomi warga menjadi lebih lancar, dan anak-anak dapat pergi ke sekolah dengan lebih aman. Ini adalah mimpi lama yang akhirnya terwujud,” ungkapnya.
Sebagai bagian dari rangkaian peresmian, Sinergi Foundation turut menyalurkan 40 paket sembako kepada para lansia dhuafa di wilayah sekitar.
Bantuan tersebut menjadi simbol kepedulian sosial sekaligus penegasan bahwa pembangunan infrastruktur harus berjalan seiring dengan penguatan aspek kemanusiaan.
Melalui terbangunnya Jembatan Permata, Sinergi Foundation tidak hanya menghadirkan akses fisik, tetapi juga membuka jalan bagi tumbuhnya harapan baru, kemandirian, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat di wilayah perbatasan Jawa Barat dan Banten.
Jembatan ini menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi dan keberpihakan pada masyarakat mampu mewujudkan perubahan yang telah lama dinantikan.





