
Ketegangan di Gaza terus memakan korban jiwa, termasuk di antaranya seorang sandera perempuan Israel yang dilaporkan tewas akibat serangan udara Israel di wilayah utara Gaza.
Sayap militer Hamas, Brigade Al Qassam, menyampaikan kabar duka ini, menyalahkan Israel atas insiden tersebut.
Pernyataan Hamas tentang Korban Jiwa
Juru bicara Brigade Al Qassam, Abu Obaida, pada Sabtu (23/11), mengonfirmasi bahwa seorang sandera perempuan Israel tewas di lokasi yang menjadi target serangan udara Israel. “Setelah memulihkan kontak dengan para pejuang yang melindungi sandera, terungkap bahwa salah satu sandera perempuan Israel tewas di wilayah yang diserang oleh Zionis di Gaza utara,” ungkapnya.
Ia juga memperingatkan bahwa nyawa sandera lainnya yang berada di lokasi yang sama kini dalam bahaya besar.
Obaida menuding Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu serta para pemimpin militer Israel bertanggung jawab penuh atas nasib para sandera yang berada di Gaza.
“Netanyahu, pemerintahannya, dan para komandan militernya harus memikul tanggung jawab atas kematian sandera-sandera ini karena tindakan mereka yang memperburuk penderitaan dan mengakibatkan kehilangan nyawa,” tambah Obaida.
Foto dan Tuduhan Publik
Brigade Al Qassam turut mempublikasikan foto sandera yang tewas dengan tajuk “Korban baru Netanyahu dan Halevi (Kepala Staf IDF).” Insiden ini semakin menambah tekanan terhadap pemerintahan Netanyahu, yang mendapat kritik dari keluarga sandera dan oposisi politik di Israel.
Keluarga sandera menuduh Netanyahu lebih memilih melanjutkan operasi militer di Gaza dibandingkan memprioritaskan keselamatan para sandera.
Tuduhan ini mencuat di tengah ancaman dari menteri-menteri sayap kanan dalam koalisinya yang mengancam mundur jika operasi dihentikan.
Dampak Konflik yang Meluas
Sejak eskalasi dimulai pada 7 Oktober 2023, serangan Israel di Gaza telah menewaskan lebih dari 44.000 warga Palestina.
Di sisi lain, Hamas disebut bertanggung jawab atas tewasnya 1.200 warga Israel dan menahan sekitar 250 sandera.
Dari jumlah tersebut, 101 sandera diyakini masih berada di Gaza, sementara Hamas mengklaim sebagian sandera telah tewas akibat serangan udara Israel.
Di tengah konflik ini, Israel juga menahan sedikitnya 9.500 warga Palestina di penjara-penjaranya.
Perkembangan Hukum Internasional
Secara terpisah, Mahkamah Pidana Internasional (ICC) telah mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan Yoav Gallant.
Keduanya dituduh melakukan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza, menambah dimensi hukum internasional dalam konflik yang berkepanjangan ini.
Tantangan Diplomasi dan Harapan Perdamaian
Ketegangan yang tak kunjung reda memperburuk situasi kemanusiaan di Gaza dan menempatkan para sandera, termasuk warga sipil, dalam risiko besar.
Dunia internasional kini semakin mendesak kedua belah pihak untuk menahan diri dan mencari solusi damai, sementara korban terus berjatuhan akibat konflik ini.





