Berita

Mitigasi Bencana Lewat Pendidikan, FKIP Unigal Hadirkan Pakar Dunia Willie Smits Bahas Potensi Strategis Aren

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Galuh (Unigal) kembali menunjukkan peran aktifnya dalam merespons berbagai persoalan krusial yang tengah dihadapi bangsa.

Melalui penyelenggaraan Kuliah Umum bertema “Merawat Indonesia: Harmoni antara Alam, Budaya, dan Pendidikan,” FKIP Unigal berupaya membekali civitas akademika dengan wawasan strategis mengenai kelestarian lingkungan dan penguatan karakter berbasis budaya.

Acara yang digelar pada Selasa (2/12/2025) ini bukan sekadar agenda rutin akademik, melainkan sebuah respons nyata atas meningkatnya intensitas bencana alam seperti banjir dan tanah longsor yang melanda berbagai wilayah di Indonesia belakangan ini.

Melalui forum ilmiah ini, FKIP Unigal mendorong mahasiswa, dosen, hingga masyarakat luas untuk tidak hanya memandang isu lingkungan sebagai bencana rutin, tetapi sebagai panggilan mendesak untuk memperkuat peran dunia pendidikan dalam menjaga keberlanjutan bumi.

Pendidikan Sebagai Fondasi Kesadaran Ekosistem

Dekan FKIP Universitas Galuh, Dr. Amam, M.Pd., dalam sambutan pembukaannya menekankan bahwa kolaborasi antara institusi pendidikan dan masyarakat adalah kunci utama dalam merawat lingkungan hidup.

Ia menyoroti bahwa kerusakan ekosistem dan perubahan sosial yang semakin kompleks menuntut dunia pendidikan untuk melahirkan insan-insan yang tidak hanya cerdas secara kognitif, tetapi juga memiliki kepekaan kritis terhadap dinamika alam.

“Pendidikan bukan sekadar ruang belajar formal, tetapi juga ruang untuk membangun kepedulian, karakter, dan kemampuan untuk memberikan solusi nyata di tengah masyarakat,” ujar Dr. Amam dengan tegas.

Menurutnya, tema kuliah umum kali ini sengaja dipilih karena relevansinya yang sangat kuat dengan tantangan nasional saat ini.

Mahasiswa sebagai calon pendidik masa depan diharapkan mampu menjadi katalisator perubahan yang membawa misi pelestarian alam ke dalam ruang-ruang kelas di masa mendatang.

Baca Juga :  Puncak Kekecewaan Bupati Herdiat: Kepala KCD XIII Selalu Mangkir, Disebut 'Sudah Tak Betah' di Ciamis

Transformasi Pembelajaran Berbasis Kearifan Lokal

Kuliah umum ini menjadi semakin istimewa dengan kehadiran dua narasumber bereputasi tinggi yang membedah persoalan dari sudut pandang berbeda namun saling berkaitan.

Pembicara pertama, Prof. Dr. Dadi, M.Si., yang merupakan Rektor Universitas Galuh, membawakan materi bertajuk “Revolusi Pembelajaran Berbasis Kearifan Lokal di Era Digital.”

Prof. Dadi menggarisbawahi bahwa kemajuan teknologi digital seharusnya tidak menjadi alasan bagi generasi muda untuk tercerabut dari akar budayanya.

Sebaliknya, digitalisasi harus dimanfaatkan untuk memperkuat harmoni antara teknologi dan tradisi.

Ia memaparkan bahwa integrasi nilai-nilai budaya lokal ke dalam model pembelajaran modern adalah benteng pertahanan karakter bangsa yang paling efektif di era globalisasi.

Dengan begitu, teknologi berperan sebagai alat, sementara kearifan lokal tetap menjadi kompas moral dalam setiap proses inovasi pendidikan.

Pakar Dunia Willie Smits: Aren Sebagai Solusi Masa Depan

Antusiasme peserta mencapai puncaknya saat narasumber kedua, pakar konservasi dunia Dr. Willie Smits, naik ke podium.

Ia menyuguhkan topik yang sangat teknis namun aplikatif berjudul “Potensi Aren (Arenga pinnata) sebagai Tumbuhan Konservasi untuk Meningkatkan Ketahanan Pangan dan Energi.”

Dr. Willie Smits memaparkan data mendalam mengenai tanaman aren yang selama ini sering dipandang sebelah mata oleh banyak pihak.

Padahal, pohon aren memiliki nilai ekologis dan ekonomis yang sangat strategis bagi Indonesia, khususnya dalam menghadapi krisis lingkungan.

Berikut adalah beberapa poin utama yang disampaikan Smits mengenai keunggulan tanaman aren:

  • Penyerap Air yang Ulung: Sistem perakaran aren sangat efektif untuk mencegah erosi dan menjaga ketersediaan air tanah, menjadikannya tumbuhan konservasi ideal di daerah rawan longsor.
  • Ketahanan Pangan: Aren mampu menghasilkan sumber karbohidrat dan pemanis alami yang sangat produktif tanpa harus merusak hutan (zero deforestation).
  • Sumber Energi Berkelanjutan: Nira aren memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi bioetanol, sebuah sumber energi alternatif yang ramah lingkungan.
Baca Juga :  PHBI 1 Muharam, Pemdes Wanasigra Sindangkasih Ciamis Berikan Santunan

“Pengembangan tanaman aren adalah salah satu solusi konkret yang bisa kita ambil dalam menghadapi krisis lingkungan serta kebutuhan energi masa depan secara bersamaan,” ungkap Dr. Willie Smits.

Penjelasan mendalam ini memicu diskusi dinamis di antara para peserta yang hadir, baik yang mengikuti secara luring maupun daring melalui platform Zoom.

Komitmen Melahirkan Insan Pendidikan Berkarakter

Kegiatan ini diikuti oleh ratusan peserta yang terdiri dari mahasiswa dari berbagai program studi, para dosen, serta masyarakat umum.

Interaksi yang terjadi selama sesi diskusi menunjukkan bahwa isu konservasi alam dan penguatan pendidikan berbasis budaya lokal tetap menjadi perhatian serius di kalangan akademisi Universitas Galuh.

Menutup rangkaian acara, Dr. Amam kembali menegaskan bahwa FKIP Universitas Galuh akan terus berkomitmen menyelenggarakan forum-forum ilmiah serupa sebagai bagian dari tanggung jawab moral universitas terhadap kelestarian Indonesia.

“Melalui kegiatan seperti ini, kami berharap lahir lebih banyak insan pendidikan yang tidak hanya peduli terhadap alam, tetapi juga memahami budaya bangsanya sendiri. Kontribusi nyata mereka adalah modal utama bagi keberlanjutan Indonesia di masa depan,” tutupnya.

Back to top button

Eksplorasi konten lain dari Reportasee.com™

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca