
Anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar, Agun Gunanjar Sudarsa, menekankan pentingnya penguasaan teknologi digital dalam kehidupan sehari-hari demi masa depan masyarakat.
Pemahaman ini mencakup transformasi dalam peta politik hingga kemudahan transaksi keuangan modern. Melalui agenda diskusi formal, program edukasi digitalisasi ekonomi Kota Banjar resmi disosialisasikan secara masif kepada warga setempat.
Langkah strategis ini dilakukan setelah Agun mengisi diskusi interaktif bersama warga. Acara bertema “Tantangan Ekonomi dan Politik Era Digital” tersebut digelar bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Kota Banjar, Jawa Barat.
Kehadiran OJK dalam forum ini memperkuat urgensi perlunya keterbukaan informasi keuangan di tengah modernisasi zaman.
Menurut Agun, masyarakat harus mulai membiasakan diri dengan melakukan perubahan mendasar di setiap aktivitas harian mereka. Di era yang serba teknologi dan tantangan perbankan yang semakin maju, adaptasi menjadi kunci utama untuk bertahan.
Oleh sebab itu, akselerasi melalui edukasi digitalisasi ekonomi Kota Banjar diharapkan mampu mengubah kebiasaan konvensional masyarakat secara bertahap.
Mengubah kebiasaan masyarakat dengan pemahaman baru yang serba digital dalam setiap aktivitas ekonomi tersebut dinilai sangat mendesak.
Hal ini krusial agar masyarakat tidak tertinggal dan terjebak dalam transaksi pinjaman online ilegal atau pinjol. Pasalnya, kasus penipuan berbasis digital belakangan ini kian marak terjadi akibat minimnya literasi keuangan publik.
Terlebih lagi, semua aktivitas ekonomi saat ini sudah bergeser ke arah kemudahan yang difasilitasi oleh internet. Berbagai layanan komersial seperti GrabFood, transfer uang antarbank, hingga transaksi barang harian kini telah memanfaatkan ekosistem digital.
Oleh karena itu, kehadiran edukasi digitalisasi ekonomi Kota Banjar menjadi fondasi penting agar masyarakat tidak sekadar menjadi konsumen pasif.
“Kita pembayaran sekarang kan semua sudah pakai digital, mulai dari transaksi barang, transfer uang, dan segala macamnya. Jadi, kita harus memberikan pemahaman berkelanjutan bahwa digitalisasi ini sebagai sebuah kemajuan yang nyata,” ujar Agun kepada wartawan di lokasi acara.
Menghadapi Tantangan Melalui Edukasi Digitalisasi Ekonomi Kota Banjar
Lebih lanjut, legislator senior ini menyebutkan bahwa perkembangan teknologi digital pada dasarnya membawa dua sisi mata uang, yakni tantangan sekaligus peluang.
Artinya, ketika masyarakat sama sekali tidak bisa menguasai teknologi, mereka secara otomatis akan tertinggal dari daerah lain. Sebaliknya, jika modal pengetahuan ini dapat dikuasai dengan baik, kesejahteraan ekonomi lokal dipastikan akan meningkat.
Ketika teknologi itu mampu dikuasai, hal tersebut akan menjadi sebuah peluang emas dan memudahkan masyarakat dalam menjalankan roda ekonomi.
Efisiensi waktu dan transparansi biaya menjadi keuntungan langsung yang dapat dirasakan oleh para pelaku usaha mikro. Maka dari itu, implementasi edukasi digitalisasi ekonomi Kota Banjar harus menyasar seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.
“Ketika kita tidak bisa menguasai teknologi itu, maka kita pasti akan ketinggalan. Namun, ketika kita berhasil menguasainya, dalam setiap transaksi kita akan jauh lebih mudah, lebih efisien, dan juga lebih cepat,” kata Anggota Komisi XI DPR RI tersebut menerangkan.
Meskipun menawarkan banyak kemudahan, perkembangan teknologi dalam transaksi perbankan ini juga menyimpan risiko besar jika tidak disikapi dengan kewaspadaan tinggi.
Keteledoran minor atau keinginan untuk mendapatkan dana secara instan sering kali menjadi bumerang bagi masyarakat luas. Tanpa adanya edukasi digitalisasi ekonomi Kota Banjar yang merata, ancaman kerugian material akan selalu mengintai warga.
Banyak warga yang terjebak dalam bisnis digital ilegal hanya karena tergiur proses yang serba cepat dan mudah. Kurangnya sosialisasi membuat mereka dengan mudah terjerat pinjaman online ilegal, bank emok, maupun lembaga keuangan tidak berizin lainnya.
Fenomena sistemik inilah yang melatarbelakangan urgensi penguatan program edukasi digitalisasi ekonomi Kota Banjar bersama otoritas terkait.
Melihat kondisi tersebut, kolaborasi antara pemerintah, DPR, dan OJK harus terus ditingkatkan secara berkala. Konsumen dan masyarakat umum wajib dibekali perlindungan hukum serta pengetahuan tentang regulasi keuangan yang valid.
Kampanye mengenai edukasi digitalisasi ekonomi Kota Banjar ini ditargetkan menjadi agenda rutin yang menyentuh tingkat kelurahan dan desa.
Melalui edukasi yang terstruktur, masyarakat diharapkan dapat membedakan antara platform keuangan yang legal dan ilegal. Pengetahuan dasar ini akan meminimalisir ruang gerak para pelaku kejahatan siber yang mengincar masyarakat awam.
Dengan demikian, percepatan roda ekonomi daerah berbasis teknologi dapat terwujud dengan aman dan kondusif.
“Makanya hari ini kita berikan pembekalan nyata kepada masyarakat luas. Tujuannya jelas, sehingga ketika ada konsumen memiliki permasalahan ekonomi, mereka tahu nanti solusinya seperti apa dan ke mana harus melapor,” pungkas Agun menutup sesi wawancara.
Pada akhirnya, sinergi semua pihak dalam mengawal teknologi ini akan menjadi penentu keberhasilan transformasi wilayah. Pemahaman finansial yang sehat di tingkat akar rumput akan menciptakan ketahanan ekonomi yang kokoh secara nasional.
Diharapkan, keberlanjutan program edukasi digitalisasi ekonomi Kota Banjar dapat menjadi percontohan bagi daerah-daerah lain di Jawa Barat.





