
Dalam sebuah pertemuan spiritual yang terekam di kanal youtube Probo Trishna B. R, sosok agung Prabu Siliwangi dilaporkan telah menampakkan diri kepada seorang individu bernama Probo.
Pertemuan tersebut membawa pesan penting dan sebuah tugas berat: Probo diminta untuk menghadapi entitas kegelapan kuno, Iblis Cakra Manggilingan, yang disebut telah bangkit kembali di wilayah Ujung Kulon.
Prabu Siliwangi, yang dalam dialog tersebut memperkenalkan dirinya dengan nama asli Sri Baduga Maharaja, mengungkapkan bahwa kehadirannya terpanggil oleh “cahaya tekad” yang dipancarkan Probo.
Ia memuji akhlak Probo yang dianggapnya “lebih tinggi dari menara kerajaanku dahulu.”
Menurut penuturan Prabu Siliwangi, Iblis Cakra Manggilingan adalah satu dari tujuh roh kegelapan yang pernah disegel di masa lalu.
Namun, akibat “kelalaian manusia, kerakusan yang menggunduli pohon, dan kesombongan yang menantang langit,” segel tersebut kini mulai retak, memungkinkan entitas tersebut kembali menampakkan wujudnya.
“Ia tak datang sebagai sosok menakutkan, tapi ia menyusup lewat bisikan, menyusupi mimpi orang-orang yang haus kekuasaan, mengubah manusia menjadi pemuja dunia, mengadu bangsa dengan bangsanya sendiri,” jelas Prabu Siliwangi mengenai modus operandi Cakra Manggilingan.
Prabu Siliwangi menegaskan bahwa Probo telah dipilih oleh takdir untuk tugas ini, bukan karena kekuatan fisik, melainkan karena ketulusan hati dan kemampuannya berjalan dalam kesunyian spiritual.
Probo diinstruksikan untuk pergi ke Ujung Kulon tidak dengan membawa senjata, melainkan “cinta kepada Tuhan dan sesama makhluk” serta “kalimah yang hidup di dalam jiwamu.”
Menanggapi tugas berat ini, Probo dengan kerendahan hati menyatakan, “Hamba merasa hamba belum pantas, Eyang Prabu,” dan meminta waktu tujuh hari untuk mempersiapkan diri.
Selain memberikan amanat tersebut, dalam percakapan itu Prabu Siliwangi juga meluruskan beberapa narasi sejarah mengenai dirinya, termasuk hubungannya dengan putranya Raden Kian Santang dan proses moksa yang ia jalani.
Misi ke Ujung Kulon ini digambarkan sebagai “penentu arah gelombang zaman,” di mana Probo diharapkan menjadi “pembuka segel cahaya yang akan menutup kegelapan itu selamanya.”





