
Langkah kaki seorang wanita paruh baya tampak tegap menyusuri aspal panas di sepanjang jalur lintas provinsi.
Sosok tangguh tersebut mencerminkan potret nyata mengenai perjuangan ibu penjual bajigur di Ciamis yang tidak pernah mengenal lelah.
Setiap hari, ia harus berkejaran dengan waktu demi memastikan asap dapur di rumahnya bisa tetap mengepul.
Perempuan hebat ini bernama Dina (42), warga Dusun Sukamaju, Desa Sindangkasih, Kecamatan Sindangkasih, Kabupaten Ciamis.
Ia rela menghabiskan waktu belasan jam di jalanan demi menopang ekonomi keluarganya yang sedang terimpit.
Alasan utama yang membuatnya bertahan adalah tanggung jawab besar terhadap masa depan generasi penerusnya.
Ringkasan Berita
Tekad Kuat Mendorong Gerobak Ribuan Meter
Setiap siang menjelang sore, Dina bersiap-siap untuk memulai rute perjalanan panjang yang melelahkan.
Ia harus mendorong gerobak kayu yang cukup berat sejauh ribuan meter seorang diri setiap hari.
Membantu suami menambah penghasilan keluarga merupakan bagian dari perjuangan ibu penjual bajigur di Ciamis.
Dina membeberkan bahwa dirinya saat ini memiliki empat orang anak yang masih sekolah.
Selain itu, ia juga harus merawat seorang ibu kandung lansia yang sudah berusia 72 tahun.
Oleh karena itu, beban hidup yang berat tersebut ia ubah menjadi energi positif untuk bekerja.
Kepada redaksi Reportasee.com, Dina menceritakan awal mula dirinya memutuskan untuk terjun langsung ke jalanan.
Ia mengaku sudah genap satu tahun terakhir ini menekuni profesi sebagai pedagang kuliner keliling.
Langkah nyata ini diambil sebagai bentuk perjuangan ibu penjual bajigur di Ciamis agar kebutuhan harian tercukupi.
“Kebetulan suami saya memang sudah lebih dulu berjualan bajigur secara keliling di daerah ini,” ujarnya.
Suaminya yang bekerja keras menginspirasi Dina untuk ikut bergerak membantu perekonomian rumah tangga mereka.
Hal tersebut pada akhirnya menambah catatan panjang perjuangan ibu penjual bajigur di Ciamis dalam bertahan hidup.
Menyusuri Jalur Nasional dan Perumahan
Rute perdagangan yang harus dilalui oleh Dina setiap harinya bukanlah jalur yang pendek atau mudah.
Ia biasanya berjalan kaki menyusuri trotoar Jalan Nasional III yang padat dengan kendaraan besar.
Selanjutnya, rute berlanjut masuk ke wilayah Sukamanah, kawasan Ancol, hingga ke area Perum Persada.
“Kalau fisik sedang kuat dan cuaca mendukung, saya bahkan bisa berjalan sampai ke Karangresik,” katanya.
Jarak tempuh sejauh itu menjadi bukti betapa beratnya perjuangan ibu penjual bajigur di Ciamis demi rupiah.
Berdasarkan penuturan jujur dari Dina, aktivitas berjualan komoditas tradisional ini terbukti sangat membantu keluarga.
Melalui perjuangan ibu penjual bajigur di Ciamis, ia bisa membiayai kebutuhan sekolah anak-anaknya dengan mandiri.
Tantangan Status Kepemilikan Gerobak Dagangan
Namun, di balik kerja keras yang terlihat di jalanan, ada fakta pilu mengenai usaha ini.
“Sebenarnya saya dan suami hanya bertindak sebagai pekerja dagang saja dari orang lain,” ungkap Dina.
Sebab, gerobak serta seluruh barang dagangan yang dibawa setiap hari adalah milik orang lain.
Meskipun keuntungan bersih yang didapatkan tidak besar, Dina tetap konsisten melanjutkan perjuangan ibu penjual bajigur di Ciamis.
Dagangan kuliner tradisional yang dibawa oleh Dina setiap hari rupanya memiliki daya tarik tersendiri.
Produk legendaris seperti bajigur kolang-kaling hangat menjadi menu utama yang paling dicari oleh pelanggan.
Oleh karena itu, perjuangan ibu penjual bajigur di Ciamis selalu dinantikan oleh para penikmat kuliner malam.
Tidak hanya minuman hangat, Dina juga menyediakan aneka camilan pendamping tradisional seperti getuk.
Ia juga membawa putri noong, rebus ubi, pisang, singkong, keripik pisang, hingga combro yang diminati.
Semua variasi makanan tradisional ini ia persiapkan sendiri dengan telaten sebelum berangkat memeras keringat.
Berjuang dari Siang hingga Menjelang Pagi
Waktu operasional kerja yang dijalani oleh ibu empat anak ini juga tergolong sangat ekstrem.
Dina menambahkan bahwa ia mulai jualan dari sekitar jam dua petang hingga menjelang pagi.
Hal ini membuktikan bahwa perjuangan ibu penjual bajigur di Ciamis menembus batas waktu kerja normal.
Ritme kerja yang berat ini tentu berisiko tinggi terhadap kesehatan fisiknya yang tidak muda lagi.
Namun, bayang-bayang masa depan anak-anaknya yang ingin meraih cita-cita selalu mengalahkan rasa lelah tubuhnya.
Dedikasi tanpa batas yang ditunjukkan Dina menjadi contoh nyata mengenai ketangguhan seorang ibu sejati.
Pada akhirnya, kisah nyata kehidupan dari pinggiran Jawa Barat ini memberikan pelajaran tentang arti pengorbanan.
Dedikasi luar biasa yang ditunjukkan lewat perjuangan ibu penjual bajigur di Ciamis membuktikan keagungan kasih ibu.





