
Kelompok Tani Srimukti di Dusun Majaganda, Desa Gegempalan, menunjukkan capaian membanggakan setelah berhasil memanen cabai rawit domba dari sekitar 1.100 tanaman yang mereka budidayakan secara mandiri.
Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa kemandirian modal dan komitmen dalam proses pertanian dapat menghasilkan panen yang optimal tanpa hambatan berarti.
Salah satu penggerak utama kelompok ini, Azis Setiawan, merupakan petani muda berusia 32 tahun yang sebelumnya berprofesi sebagai sopir.
Bersama lima rekannya, Azis mengelola lahan seluas 90 bata atau setara dengan 1.260 meter persegi.
Seluruh biaya mulai dari olah lahan, pembibitan, hingga pemeliharaan ditanggung secara mandiri oleh para anggota tanpa dukungan bantuan eksternal.
Azis menuturkan bahwa langkahnya menekuni pertanian cabai berawal dari berkurangnya pekerjaan sebagai sopir.
Kondisi tersebut memaksanya mencari peluang lain demi memenuhi kebutuhan keluarga.
Ia kemudian memutuskan mempelajari budidaya cabai rawit secara otodidak melalui YouTube serta berdiskusi dengan petani berpengalaman.
Awal Ramadan tahun lalu, ia mulai belajar dari YouTube, mempelajari teknik pengolahan lahan sampai budidaya cabai.
“Saya juga bertanya kepada petani yang sudah berpengalaman. Alhamdulillah semuanya berjalan lancar tanpa kendala berarti,” ujar Azis, Kamis.
Setelah menjalani masa tanam selama 3,5 bulan, tanaman cabai rawit domba milik Kelompok Tani Srimukti mulai menunjukkan hasil.
Hingga kini, Azis dan rekan-rekannya melakukan pemetikan setiap hari karena tanaman tersebut terus berbuah dan dapat dipanen hingga usia delapan bulan.
Ia menyampaikan bahwa tingginya permintaan pasar membuat mereka harus melakukan panen harian. Permintaan yang datang pun bervariasi, dari pembelian kiloan hingga pesanan mencapai dua kuintal.
“Setiap hari kami memetik karena buahnya tidak berhenti. Ada yang pesan dua kuintal, ada yang beli kiloan, semuanya kami layani,” jelasnya.
Ketertarikan Azis terhadap budidaya cabai bermula dari pengamatan sederhana di rumah.
Kebutuhan bumbu dapur yang selalu ada membuatnya menyadari bahwa cabai merupakan komoditas penting dan memiliki pasar yang stabil.
“Saya lihat di dapur selalu ada cabai rawit, dan istri sering meminta uang belanja untuk kebutuhan itu. Dari situ saya berpikir bahwa bumbu dapur adalah kebutuhan yang sangat penting,” ungkapnya.
Ketua Kelompok Tani Srimukti, Didin, menegaskan bahwa seluruh proses budidaya dilakukan menggunakan modal mandiri.
Meski harga cabai rawit domba bersifat fluktuatif, ia optimistis usaha tersebut tetap mampu mencapai titik impas.
“Semua modal berasal dari mandiri. Meski harga cabai ini naik turun, insyaallah bisa break even point. Yang terpenting prosesnya dijalankan, dan kami bisa memberdayakan para pemuda untuk ikut mendukung program ketahanan pangan,” ujarnya.
Keberhasilan Kelompok Tani Srimukti bukan hanya menjadi pencapaian ekonomi, tetapi juga menjadi contoh pemberdayaan pemuda desa serta inovasi dalam memaksimalkan potensi pertanian melalui kemandirian dan kemauan belajar.





