Mata Uang Rupiah Digital Efektifkah?

Advertisement

Pemberitaan tentang mata uang rupiah digital selalu menarik perhatian publik dan tak jarang menjadikannya viral di kalangan warganet.

Pihak Bank Indonesia atau BI sendiri sedang mematangkan panduan agar bisa menerbitkan mata uang dalam bentuk digital CBDC.

Di mana penerbitan mata uang Central Bank Digital Currency ini akan berlangsung dengan nama rupiah  digital.

Rupanya hal ini sebagai upaya demi menekankan risiko stabilitas dari aset kripto yang bisa mempengaruhi stabilitas di bidang moneter, ekonomi serta sistem keuangan.

Fakta Menarik Tentang Mata Uang Rupiah Digital

Kemunculan rupiah digital ini sontak saja memicu pertanyaan tentang perbedaannya dengan jenis uang elektronik.

Advertisement

Yang mana pertanyaan juga merujuk kepada saldo milik pengguna yang mereka top up ke dalam e-wallet alias dompet elektronik.

Ryan Rizaldy selaku Direktur Departemen Sistem Pembayaran di BI menjelaskan adanya perbedaan dari kedua hal itu.

Adapun salah satu yang paling utama dan menjadi perbedaan mendasar di antara keduanya adalah penerbit.

Pihak penerbit mata uang Rupiah digital  adalah bank sedangkan jika e-money adalah lembaga non bank.

Sementara itu rencana tentang penerbitan mata uang digital juga berlaku di sekitar 100 negara dunia yang sama.

Jika Anda belum mengetahui tentang rupiah digital ini, berikut ada sejumlah fakta menariknya.

1. Alasan Terbitnya Rupiah Digital  

Ryan menuturkan bank sentarl adalah lembaga keuangan yang mempunyai risiko kredit terendah.

Karena itulah banyak orang berharap mereka mempunyai sistem yang kuat.

Selain itu penerbitan mata uang CDBC ini juga guna memberikan layanan ke masyarakat lantaran mulai banyaknya transaksi secara online.

Sementara itu Deputi Gubernur BI yakni Doni Primanto menuturkan keberadaan aset kripto melatarbelakangi perencanaan penerbitan mata uang digital tersebut.

Doni menuturkan BI mempunyai sebanyak 6 tujuan utama dalam penerbitan mata uang digital.

2. Akan Memudahkan Transaksi Bagi Masyarakat

Lantaran penerbit mata uang Rupiah digital  adalah lembaga terpercaya, diharapkan keberadaannya bisa memudahkan segala transaksi yang terjadi di masyarakat.

Di mana transaksi tersebut akan terjadi dalam situasi apa saja tanpa memandang lokasinya.

Kendati demikian pihak BI yakni Ryan masih belum dapat memastikan bagaimana pengaturan dan skema pembayaran memakai rupiah digital nantinya.

3. Bank Dunia Menyebut Rupiah Digital Tidak Menjamin Inklusi

Sementara itu, perwakilan bank dunia yakni Harish Natarajan mengatakan penerbitan mata uang digital tak serta merta berkontribusi terhadap inklusi keuangan.

Pihak CBDC tidak menjamin akses serta tidak berkontribusi secara langsung dalam meningkatkan inklusi keuangan.

Ia berkata lantaran CBDC berbentuk online maka tak semua kalangan masyarakat bisa mengakses mata uang digital tersebut.

Karena itulah ia meminta bank sentral harus mempunyai strategi supaya platform tersebut mudah semua kalangan akses.

Bukan hanya itu ia menilai bank sentral juga harus memastikan adanya perlindungan data untuk para pengguna DBDC.

Dengan demikian perlindungan tersebut akan meningkatkan kepercayaan masyarakat agar mau menggunakan mata uang jenis ini.

4. BI Akan Meluncurkan Panduan Pada Akhir Tahun

Sebelumnya beredar informasi yang menyebut  dalam waktu dekat ini, BI atau Bank Indonesia sudah siap menerbitkan roadmap alias peta.

Adapun peta tersebut adalah layanan yang mengatur mata uang digital ilik bank central atau CBDC tepat akhir tahun ini.

Doni P Joewono selaku Deputi Gubernur BI mengatakan bahwa roadmap itu akan berisi konsep sampai panduan untuk penerbitan CBDC.

Itulah beberapa fakta menarik tentang mata uang Rupiah digital   yang sampai saat ini masih menuai pro dan kontra.

Show More
Advertisement

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *