
Harga daging ayam potong di Pasar Manis, Ciamis, terus mengalami kenaikan signifikan pada pertengahan September 2025.
Dalam tiga hari terakhir, harga ayam ras pedaging jenis broiler (BR) bahkan sudah menembus angka Rp43.000 per kilogram.
Angka ini setara dengan harga menjelang Lebaran Idulfitri April lalu, sehingga cukup mengejutkan bagi masyarakat dan pelaku usaha kuliner.
Seorang pengelola kantin di Jalan Mr Iwa Kusumasumantri, Teh Ida, mengaku terpaksa tetap membeli ayam meskipun harganya kian melambung.
“Tiga hari lalu masih di kisaran Rp40.000 sampai Rp41.000 per kilogram. Tapi hari ini sudah Rp43.000,” ungkapnya, Minggu (21/9/2025).
Di sisi lain, pelaku usaha kuliner lain terpaksa mencari alternatif. Nina, penjual ayam potong ungkep di Baregbeg, mengatakan dirinya kini beralih menggunakan ayam ras pedaging jenis pejantan atau layer.
“Ungkep daging ayam BR lagi kosong. BR mahal, jadi yang tersedia hanya ayam pejantan,” ujarnya.
Kenaikan harga daging ayam potong di pasar eceran tidak datang tiba-tiba. Sejak awal September, harga ayam broiler hidup (livebird) di tingkat peternak di wilayah Ciamis, Tasikmalaya, dan Banjar sudah bergerak naik.
Sekretaris Perkumpulan Peternak Ayam Priangan (P2A), H. Kuswara Suwarman, menjelaskan bahwa pada 2 September 2025, harga ayam broiler hidup di tingkat peternak sudah menembus Rp21.000 hingga Rp21.500 per kilogram.
Angka ini sejajar dengan harga pokok produksi (HPP) yang berada di kisaran Rp21.000.
Tak berhenti di situ, harga ayam terus merangkak naik. Pada 10 September, harga di kandang peternak melambung ke Rp23.500 hingga Rp24.000 per kilogram.
Baru menjelang akhir pekan, Jumat (19/9/2025), harga sedikit terkoreksi ke Rp23.000 hingga Rp23.500 per kilogram.
Meski turun, harga tersebut tetap berada di atas HPP sehingga para peternak masih menikmati keuntungan.
“Sekarang peternak ayam BR sedang menikmati selisih harga yang menguntungkan,” kata H. Kuswara.
Menurut H. Kuswara, lonjakan harga ayam pada bulan September bukan hanya karena meningkatnya permintaan.
Sejumlah faktor lain ikut memengaruhi, di antaranya:
- Tingginya permintaan di bulan Maulud, di mana banyak masyarakat menggelar acara pernikahan dan hajatan.
- Program Makan Bergizi (MBG) yang juga menyerap kebutuhan ayam dalam jumlah besar.
- Kenaikan harga DOC (day old chick) atau anak ayam umur sehari, dari Rp7.000 menjadi Rp8.000 per ekor.
- Terbatasnya populasi DOC, sehingga berdampak pada berkurangnya pasokan ayam yang bisa dipanen dan dipasarkan.
“Ketika pasokan terbatas sementara permintaan tinggi, otomatis harga naik. Itu sudah hukum pasar,” jelasnya.
Dengan kondisi harga DOC yang terus meningkat dan jumlah distribusinya yang terbatas, H. Kuswara memperkirakan harga ayam broiler akan tetap berada di level tinggi hingga Oktober dan November mendatang.
Situasi ini menjadi berkah tersendiri bagi peternak, setelah sebelumnya mereka sempat mengalami kerugian karena harga ayam di kandang berada di bawah HPP.
Kini, selisih harga yang menguntungkan membuat para peternak bisa kembali bernafas lega.
Namun, bagi pedagang dan konsumen, lonjakan harga ayam potong ini menambah beban, terutama bagi pelaku usaha kuliner yang sangat bergantung pada pasokan ayam broiler.
Jika tren kenaikan berlanjut, bukan tidak mungkin harga ayam akan tetap mahal hingga akhir tahun.





