32 C
Indonesia
Senin, Agustus 2, 2021
BerandaBeritaSupersemar, Surat yang Masih Kontroversi Hingga Kini

Supersemar, Surat yang Masih Kontroversi Hingga Kini

Reportasee.com – Supersemar merupakan singkatan dari Surat Perintah Sebelas Maret yang di dalamnya terdapat tanda tangan resmi Presiden Indonesia kala itu, yakni Ir. Soekarno.

Surat yang keluar pada 11 Maret 1966 ini berisi perintah dari Soekarno untuk Soeharto yang kala itu menjabat sebagai panglima Pangkopkamtib.

Adapun isinya berupa instruksi agar mengambil tindakan apapun guna mengatasi kemananan yang mana kala itu situasinya cukup buruk.

Terdapat beberapa versi akan Supersemar ini, namun utamanya adalah dari Markas besar AD dan saat ini tercatat dalam buku sejarah.

Sejarawan Indonesia mengungkapkan, karena banyaknya versi surat tersebut, membuat penelusuran naskah asli yang Soekarno keluarkan di istana Bogor tersebut, masih berlangsung.

Latar Belakang Supersemar

Berdasarkan versi resminya, pada tanggal 11 Maret 1966 menjadi awal keluarnya surat ini.

Presiden Soekarno kala itu tengah mengadakan sidang pelantikan yang terkenal dengan nama Kabinet 100 menteri.

Brigadir Jenderal Sabur yang kala itu merupakan panglima Tjakrabirawa pada saat sidang baru mulai, melaporkan banyak pasukan tak dikenal menahan orang-orang kabinet yang menjadi terduga pihak terlibat peristiwa G-30 S.

Belakangan publik mengetahui bahwa pasukan tersebut merupakan kostrad yang di bawah Mayor Jenderal Kemal.

Salah satu pihak yang ditahan yaitu Soebandrio merupakan Wakil Perdana Menteri I.

Dari laporan itulah Soekarno bersama Soebandrio dan Chaerul Saleh yang merupakan Wakil Perdana Menteri III terbang ke Bogor dengan helikopter.

Sidang tersebut akhirnya oleh Dr.J. Leimena selaku Wakil Perdana Menteri II melakukan penutupan dan menyusul rombongan Presiden ke Bogor.

Keadaan ini kemudian dilaporkan ke Soeharto sang Mayor Jenderal Panglima AD yang menggantikan Ahmad Yani. Sebab Letnan Jenderal Ahmad Yani gugur pada peristiwa G-30 S.

Alasan pelaporan sebab saat itu Soeharto tidak ada saat persidangan Lantara sakit.

Akan tetapi banyak spekulasi menyebutkan bahwa Soeharto sengaja tidak hadir lantaran skenario untuk menunggu situasi.

Karena terdapat kejanggalan pada kejadian itu.

Sebuah Surat Dengan Kontroversi

Kemudian tiga perwira tinggi Angkatan Darat yaitu Brigadir Jendral M. Jusuf, Basuki Rahmat dan Amir Machmud diutus Soeharto ke Bogor menemui Presiden Soekarno.

Saat mereka tiba di Istana Bogor tepatnya malam di antara ke tiga Brigadir tersebut terlibat pembicaraan dengan Presiden Soekarno.

Isi pembicaraan tersebut tentunya mengenai situasi dan mereka menyatakan Soeharto bisa memulihkan situasi jika terdapat surat tugas berupa pemberian kewenangan untuk pengambilan tindakan.

Pembicaraan di antara mereka yang melibatkan Presiden Soekarno tersebut berlangsung hingga 20.30 malam menurut M Jusuf.

Akhirnya Presiden Soekarno menyetujui untuk pemberian surat kuasa sehingga beliau membuat Surat Perintah Sebelas Maret yang populer sebagai Supersemar.

Surat tersebut berguna untuk pengambilan tindakan yang cukup perlu dalam hal memulihkan keadaan keamanan juga ketertiban sehingga tujuan pembuatan Supersemar kepada panglima AD yaitu Soeharto.

Pembuatan tersebut di Bogor sehingga surat itu sampai di Jakarta keesokan harinya atau 12 Maret 1966 jam 01.00 dini hari.

Brigjen Budiono selaku Sekretaris AD sebagai pihak yang membawanya.

Terdapat perdebatan antara Sudharmono dengan Moerdiono mengenai pembuatan surat tersebut tentang dasar hukum pada teksnya sampai tiba di Jakarta.

Peristiwa pembuatan Surat Perintah Sebelas Maret

Kala itu Sudharmono mendapatkan telepon dari ketua G-5 KOTI yaitu Mayor Jenderal Sutjipto pada 11 Maret 1996 pada sekitar jam 10 malam.

Pada percakapan melalui sambungan telepon tersebut Sutjipto meminta konsep pembubaran PKI harus selesai di malam itu.Permintaan tersebut berasal dari perintah Pangkopkamtib yaitu Soeharto.

Dari ketiga perwira tinggi Angkatan Darat sebagai penerima surat tersebut menuturkan salah satunya pernah membaca kembali isi di dalamnya saat dalam perjalanan menuju Jakarta.

Setelah membaca, orang itu kemudian berkomentar “Lho ini kan perpindahan kekuasaan.”

Namun beberapa tahun kemudian naskah Supersemar asli terdapat pernyataan hilang hingga tak ada penjelasan tentang isi tersebut

Baca:  Rasakan Investasi Mudah di Ajaib

Bahkan hilangnya surat ini pun tidak jelas tepatnya kapan, di mana dan siapa yang menghilangkannya sebab saksi akan sejarah ini sudah meninggal dunia.

Keluarga M. Jusuf belakangan ini menyatakan bahwa Supersemar asli berada pada penyimpanan sebuah bank dan berada pada dokumen pribadi.

Kontroversial yang ada pada Surat Perintah

Tetapi berdasarkan kesaksian dari Letnan Satu Sukardjo Wilardjito yaitu salah seorang pengawal kepresidenan pada Istana Bogor menyatakan bahwa perwira tinggi yang datang ke Istana berjumlah empat orang.

Baca:  HP Xiaomi Redmi Note 10 Masuk Indonesia Bulan Maret, Intip Bocorannya

Pengakuan tersebut tertulis pada berbagai media setelah masa Reformasi 1998 yang juga sebagai pertanda awal mula pemerintahan Presiden Soeharto yaitu Orde Baru.

Dalam pengakuannya pada tanggal 11 Maret 1996 sekitar jam 1 dinihari keempat perwira yaitu beserta Brigjen M. Panggabean beserta Brigjen Basuki Rahmat mengarahkan pistol ke arah Soekarno.

Kala Supersemar tersebut M Jusuf membawa sebuah map dengan logo Markas Besar Angkatan Darat dengan warna merah jambu.

Tujuan penodongan adalah memaksa presiden Soekarno agar mau menandatangani surat yang sampai sekarang tak jelas apa isi di dalamnya.

Tetapi menurutnya itu adalah Supersemar.

Sebagai petugas pengawal Presiden, Lettu Sukardjo menodongkan balik pistol yang ia punya dan mengarahkan ke para jenderal.

Namun ia kembali menurunkan dan menyarungkannya lagi berdasarkan perintah Soekarno.

Berdasarkan penuturannya, kemudian presiden membubuhkan tanda tangan di dalam surat itu.

Setelah itu presiden berpesan jika keadaan sudah pulih mandat tersebut harus secepatnya kembali.

Kemudian pertemuan pun bubar dan keempat perwira tinggi tersebut kembali ke Jakarta.

Tepat mereka kembali, Soekarno berkata kepada Soekarjo untuk berhati-hati dan ia harus segera keluar dari dalam istana Bogor.

Tak berselang lama kemudian kurang lebih 39 menit, pasukan RPKAD beserta Kostrad sudah mengepung istana Bogor.

Pasukan tersebut melucuti Letnan Satu Sukardjo beserta rekan pengawal lainnya dan menangkap juga menahannya pada sebuah Rutan Militer.

Serta memberhentikan mereka dari dinas militer.

Tetapi terdapat banyak kalangan meragukan tentang kesaksian dari Seokardo Wilardjito.

Salah satu pelaku dalam peristiwa Supersemar seperti M. Jusuf, beserta M. Panggaben membantah akan kejadian tersebut.

Versi Lain Sebagai Kontroversial

A.M Hanafi seorang mantan dubes Indonesia di Kuba yang menerima perlakuan pemecatan oleh Soeharto secara tak konstitusional membantah pernyataan Lettu Sukardjo.

Kesaksian tersebut tertulis dalam bukunya.

Menurut kesaksiannya kala itu, Presiden Soekarno tengah bermalam di Istana Merdeka guna memenuhi keperluan persidangan kabinet pada keesokan harinya.

Sebagian menteri pun ikut menginap untuk menghindar dari kemungkinan demonstran yang berkumpul di Jakarta.

Sebab ia sendiri pun hadir dalam sidang tersebut bersama Chaerul Saleh yaitu seorang Wakil Perdana Menteri.

Dari apa yang tertulis dalam buku, ketiga jenderal tadi pergi menemui Presiden Soekarno di Bogor yang sudah lebih dahulu berada di sana.

Bahkan terdapat banyak saksi bahwa Amir Machmud menelepon Soemirat sebagai Komisaris Besar pengawal presiden untuk meminta izin datang.

Ketiga jenderal sudah membawa sebuah naskah yang kini terkenal Supersemar ke Soekarno yang berada di Bogor.

Tetapi mereka datang secara baik-baik tidak menodongnya dengan pistol.

Akan tetapi di luar istana sudah banyak demonstran dan tank mengelilingi dan ada di jalanan.

Karena situasi seperti itu membuat Soekarno akhirnya membubuhkan tanda tangan pada surat tersebut.

A.M Hanafi menyatakan berdasarkan pengetahuan dia, sebab ia sendiri tidak berada di Bogor, melainkan di Jakarta bersama menteri lainnya, atau tepatnya di istana Merdeka.

Sehingga pihak yang datang pada Istana Bogor tidak terdapat Jenderal Panggabean yang kala itu menjabat sebagai Menhankam pun tidak hadir.

Sejarah tentang keluarnya Supersemar tersebut masih belum pasti kebenarannya bahkan isi di dalamnya masih dilakukan penelusuran pada naskah asli.

Sebagai generasi muda kita wajib tahu akan hal tersebut untuk menghormati perjuangan para pahlawan.

Editor : Annastasya Wulandari

Berita Terkait
- Advertisment -

Paling Populer